Tren Manajemen 2007 versi Bain and Company

Membaca studi Bain&company, ada beberapa temuan mereka yang menarik perihal tren manajemen 2007. Pertama, kesadaran para pemimpin bisnis untuk melihat hal selanjutnya setelah pemangkasan biaya sebagai hal penting menuju sukses. 9 dari 10 eksekutif setuju budaya memiliki peran strategi untuk mencapai kesuksesan bisnis. Isu lingkungan menjadi perhatian banyak eksekutif di Cina dan beberapa negara berkembang, dengan besaran 77% dari responden jauh lebih besar dari eksekutif di negara maju dengan nilai 55%.

Kedua, perusahaan cenderung untuk melihat keluar untuk memacu pertumbuhan. 5 dari 10 eksekutif menilai bahwa dengan menjalin kerjasama dengan Cina dan India akan menjadi kunci sukses dalam jangka panjang (5 tahun ke depan).

Kemudian inovasi menjadi prioritas. Dimana, 8 dari 10 responden percaya bahwa inovasi lebih penting dari sekadar pemangkasan biaya dalam mencapai sukses jangka panjang. Dan untuk meningkatkan inovasi, eksekutif memandang penting untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain, termasuk kompetitor mereka sekalipun.

Terakhir, TI masih dipandang sebagai sesuatu yang dapat menciptakan keunggulan kompetitif. Hanya 3 dari 10 responden yang merasa perusahaan mereka telah melakukan investasi TI dengan tidak benar. “We rarely achieve expected paybacks from our IT investment”, demikian menurut minoritas suara ini.

War of Talent

Tsunami Economy!!!
Istilah tersebut menjadi key word di antara sekian panjang diskusi dengan mas Christian Siboro di rapat internal dengan SWA minggu lalu. Rapat besar membahas secara detil terkait dengan sajian utama SWA bertajuk Employer of Choice (EoC). Salah satu edisi terpanas dan terlaku SWA. Tapi tulisan ini memang tidak ingin membahas EoC, karena biar pada beli majalah kita di lapak, atau malah berlangganan . Melainkan, soal Tsunami Economy.Mungkin kita sudah sering membaca atau mendengarkan berbagai fakta yang terjadi dalam peradaban manusia beberapa dekade terakhir. Seperti, persaingan yang sudah masuk dalam tingkat global; yang hampir melabrak semua batasan antar negara. Ide yang melimpah dan harganya semakin murah. Pergerakan modal yang luar biasa cepat. Pertumbuhan yang luar biasa menyebabkan tuntutan yang besar terhadap sumber-sumber daya baru termasuk MANUSIA. Karena sumber daya inilah yang menjadi energi untuk terus menggerakan roda industri.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada sebuah fakta mulai masuknya generasi baby boomers pada usia tidak produktif (di atas 60 tahun). Nalar kita pasti bertanya, selain kekosongan luar biasa masif pada piramida kependudukan apalagi dampaknya? Bukan hanya demografis, tapi banyak hal terseret dampak ini. Dan inilah yang disebut tsunami economy itu sendiri. Sebuah “bencana” besar yang mengancam ekonomi sebagai sendi peradaban ini.

Di saat kebutuhan terhadap manusia kualitas unggul meningkat, secara kuantitas jumlah ini akan menurun drastis. Krisis inilah yang menyebabkan isu “war of talent” menjadi sangat sentral belakangan. Industri yang akan kekurangan pasokan manusia unggul hanya akan dihadapkan pada dua opsi : pertama, menciptakan daya tarik luar biasa pada manusia unggul dalam jangka pendek. Opsi ini akan memberikan kemampuan pada organisasi untuk menarik manusia unggul, untuk mengisi celah dalam organisasi secara cepat. Untuk ini organisasi harus mampu menciptakan citra yang baik di mata publik, atau yang kerap disebut employer branding.

Kedua, menciptakan talent pool sendiri. Dengan demikian organisasi akan mampu mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan mereka. Talent management menjadi keahlian baru yang harus dikuasai organisasi untuk tetap berkelanjutan. Bagaimana mendefinisikan talenta unggul, melatihnya sekaligus mempertahankan para bintang ini. Bukan pekerjaan mudah, di saat kebutuhan tinggi akan manusia unggul seperti saat ini. Selain itu people management juga dibutuhkan untuk menjaga harmonisasi elemen organisasi secara umum.

Kepemimpinan, adalah salah satu disiplin yang mudah menguap dalam pasar tenaga kerja kita. Bukan aspek teknis karena jutaan sarjana dipasok dengan gemblengan ketat kampus dalam hal teknis menyangkut ilmu dan teknologi. Tapi kepemimpinan adalah sesuatu yang lebih abstrak, susah dipahami hanya lewat literatur, melainkan juga harus diselami dalam praktik kehidupan nyata. Memahami manusia dan interaksi didalamnya dan mengelolanya dalam organisasi, adalah aspek utama kepemimpinan yang justru mulai langka dalam kultur individualis.

Itu sebabnya, krisis kepemimpinan sedang melanda peradaban ini. Seperti dalam dunia bisnis, figur-figur kuat seperti Lee Iacocca atau Jack Welch akan sangat sulit dicari tandingannya. Memang bisa saja ada argumen yang membantah, bahwa tiap zaman akan melahirkan karakter pemimpin yang berbeda. Dan bisa jadi benar, dengan satu syarat : organisasi sudah mulai memikirkan mekanisme yang mampu melahirkan pemimpin baru. Bila tidak? Tentu saja zaman akan menggilas tanpa ampun…

Ketika Angka Tidak Cukup

Tulisan pendek ini merupakan ringkasan pergumulan yang terjadi di pikiran ini dalam beberapa waktu terakhir. Sebuah pertanyaan besar yang menggelayut di kepala, bagaimana sebenarnya cara memahami apa yang ada di kepala konsumen kita?

Dunia yang serba cepat geraknya. Bukan saja terkait dengan produk dan jasa yang sudah tidak mengenal batas-batas kaku wilayah, tapi juga menyangkut konsumennya. Kecepatan luar biasa ini terlebih membuat sebuah konsep menjadi cepat usang. Karena asumsi yang membangunnya segera cepat dihantam oleh perubahan. Karena hantaman ini menyangkut nilai. Karena nilai adalah dasar dari setiap gerak termasuk keputusan untuk membeli.

Saya masih ingat di awal-awal buku Hermawan Kartajaya. Beliau dengan cara sederhana mampu menjelaskan konsep-konsep pemasaran, sehingga mudah dimengerti oleh kalangan awam. Konsep-konsep yang berdasar pada beberapa asumsi utama:bahwa konsumen bisa direduksi dalam segmentasi, konsumen adalah makhluk rasional dalam keputusan termasuk membeli, dan sebagainya. Munculnya banyak hitung-hitungan matematis dengan aspek demografi sebagai patokan utama.

Dan pada pertemuan terakhir, guru Hermawan Kartajaya sendiri mengatakan bahwa demografis saja tidak cukup. Begitu pula dengan metode kualitatif lama. Bahkan dia menyebut masa depan pengukuran seperti di atas ada pada metode-metode baru yang sama sekali berada di luar metode yang lazim dipakai, seperti etnografi. Sekali lagi saya mungkin manusia yang beruntung, dalam kapasitas menggawangi riset SWA mempertemukan pada banyak orang hebat yang mengetahui secara detil teknik-teknik ini.

Teknik-teknik etnografi langsung muncul sebagai primadona baru, di kala teknik kualitatif lain seperti focus group discussion (FGD) sudah dianggap pula tidak mencukupi. Tidak mencukupi, karena menurut riset, cara verbal tidak menggambarkan secara utuh pola pengambilan keputusan konsumen. Cara berpikir konsumen lebih berdasarkan cuplikan-cuplikan visual. Sehingga ada yang hilang selama proses FGD.

Memang, masih banyak pertanyaan belum terjawab. Seperti waktu yang lumayan panjang untuk sebuah penelitian etnografi yang membutuhkan observasi panjang. Dan itu masih merupakan kekurangan mendasar dari metode ini, ketika dunia menuntut serba cepat terutama dalam proses riset dan pengembangan. Beberapa upaya dilakukan seperti memasukkan implementasi teknologi IT yang memungkinkan observasi secara on-line, namun tetap saja belum bisa mendapatkan hasil secepat metode kuantitatif.

Untuk fenomena di atas, Prof Agus W Soehadi dari Prasetya Mulya dalam sebuah diskusi secara bijak mengatakan, ” Mungkin di sinilah letak perkawinan kuantitatif dan kualitatif. Saling komplementer. Melengkapi satu sama lain.” Jawaban bijak, saat saya sengaja menyerang beliau dengan pertanyaan,”Apakah mungkin ini pertanda generasi Kuanti Prof Agus mulai digusur generasi Kuali Dr.Eka dengan Etnografinya…”

Cuma pertanyaan-pertanyaan yang tersisa. Masa sih ga ada unified theory atau teori segala-nya, seperti yang pernah diramalkan Einstein di tataran fisika teori? Atau memang seperti inilah realita dunia seperti yang diungkap Prof Agus. Bahwa letak keandalan sebuah pengukuran terletak pada seberapa “bijak” kita mengkombinasikan tools yang ada?

Mungkin inilah fenomena yang dimaksud Thomas Kuhn dalam salah satu bagian tulisannya di The Structured of Sciencetific Revolution. Di mana ilmu akan terus bergerak, yang menyebabkan begitu rapuhnya (sebenarnya) salah satu pijakan peradaban manusia ini….

Ketika Dunia Bisnis Mencari Tuhan

Ada beberapa literatur yang cukup menarik belakangan, mulai dari Megatrends 2000, Megatrends 2010, Spiritual Capital, dan terakhir Meaning,Inc. Ada sebuah benang merah yang oleh Patricia Aburdene (dalam Megatrends 2010) disebut sebagai kesadaran kapitalisme. Memperkuat argumennya, Patricia menyebut adanya gelombang tren di kalangan bisnis dengan gerakan corporate social responsibility. Beberapa kampiun bisnis seperti Intel, Motorola, Microsoft dan Bodyshop menjadi lokomotif terdepan dalam hal ini.

Lebih lanjut, Patricia mengungkap sedikitnya 63 juta konsumen dalam preferensi terhadap sebuah produk ataupun jasa memilih produsen yang memiliki nilai-nilai etika dan gaya hidup yang baik. Fakta ini memperkuat sinyal bahwa pasar sudah semakin rumit, yang memaksa produsen untuk terus berubah mulai dari product oriented menjadi value oriented. Di mana nilai-nilai etika dan moral menjadi sangat penting.

Para profesional bisnis pun mulai merasa haus dengan nilai-nilai spiritual. Keberjarakan antara jiwa dan tubuh membuat manusia jadi terasing dalam kehidupannya sendiri. Begitu juga dengan pencarian selama ini terhadap kesuksesan dan kekayaan yang ternyata tidak menyisakan sebuah akhir yang menentramkan jiwa. Dengan berbagai cara para profesional pun mulai mencari makna hidup di kehidupan karir mereka. Tempat kerja juga tidak terlepas dari pencarian makna hidup ini. Semua kisah ini ditulis dengan apik oleh Gurnek Bains, seorang pakar psikologi industri dalam A meaning Inc.

Menarik untuk ditunggu apakah tren kebangkitan kesadaran baru terhadap nilai-nilai spiritual ini tidak kandas di tengah jalan…..

Growth & Innovation

Hermawan Kartajaya terlihat sangat bersemangat dalam MarkPlus Conference pada hari itu, 14 desember 2006. Ada yang berbeda pada diri guru marketing ini, pancaran wisdomnya semakin luar biasa. Di akhir sesi barulah aku tahu jawabnya mengapa terlihat seperti itu,memasuki umur ke 60 dia bertekad menjadi seorang confusius. Sosok yang waskita dan tidak lagi toleran pada kesalahan.”Mumpung masih 59 tahun,aku masih boleh salah…tapi tahun depan tidak boleh lagi,”tutur pria berkacamata yang masih saja tampak bersahaja di dalam segala kebesaran dirinya.

Beralih dari aura sang guru,aku sangat tertarik dengan tema besar yang diusung oleh beliau untuk menutup tahun ini:Growth&Innovation. Dalam dunia yang tanpa batas, arus barang&jasa merembes cepat menemui konsumen,persaingan telah menjadi begitu kejam. Growth menjadi kata yang sangat sulit diwujudkan. Lihat saja komentar Jon Fine soal dropnya nilai saham Viacom di tahun ini,karena tidak bisa mencetak growth seperti harapan pasar maka terkoreksilah saham viacom, padahal sebenarnya kinerja bisnis Viacom sangat bagus.

Harapan memang sangat membahana di acaranya para marketer ini. Optimisme untuk kondisi ekonomi yang lebih baik di 2007. Tercermin dalam guratan tren indikator makro yang terus membaik.

Lepas dari kondisi pasar, innovation adalah resep yang harus dilakukan perusahaan untuk dapat terus tumbuh. Dalam survei tahunan IBM terhadap para CEO disebutkan bahwa inovasi yang dibutuhkan saat ini adalah rethinking business model. Innovation tingkat tinggi ini berarti memikir ulang bisnis dari proses bisnis yang berlangsung hingga bisnis itu sendiri. Perlu keberanian. Karena bisa jadi hal ini merubah DNA yang sudah melekat dalam perusahaan. Seperti keberanian Nokia untuk meninggalkan bisnis hasil bumi mereka dan memasuki industri padat teknologi.

“Sangat berat.Itu pasti yang dirasakan semua elemen dalam perusahaan.”Demikian tutur Immelt, CEO GE dalam sebuah wawancara dengan Fortune. Selain harus meninggalkan cara-cara lama dan belajar cara baru, sikap mental harus ditata-ulang. Tuntutan demikian hebat terhadap innovation membuat para pelaku bisnis harus memiliki sikap mental yang kuat,haus pencapaian dan memperbaharui pengetahuan dan kompetensi yang sejalan dengan kebutuhan zaman. Semua hal yang pasti sangat membutuhkan energi besar…

(Oleh-oleh dari MarkPlus Conference 2006)Gr