Hikmah Piala Dunia 2018

Membaca laporan rutin teman-teman programming bikin sumringah. Trans TV kembali menapaki tangga papan teratas dalam kompetisi. Selamat almamater saya tercinta atas pencapaian ini.

(Dikarenakan ada peraturan larangan sharing data kepemirsaan di media lain tanpa seizin Nielsen jadi tidak kami sampaikan data detil kecuali, channel share Trans TV yang melejit di level 17% meninggalkan kompetitor lainnya).

Pendapat pribadi, momentum ini bukan cuma bisnis tapi multi dimensi.

Di mana konten Piala Dunia bisa menjadi tenda besar yang menarik perhatian seluruh pemirsa di republik ini, atau keleluasaan melakukan cross programming lintas platform sehingga menguntungkan platform tv berbayar Transvision yang juga di bawah bendera Transmedia. Atau untuk Trans TV sendiri ini kesempatan melakukan berbagai manuver programming seperti hammocking dalam upaya memperkenalkan program baru pasca Piala Dunia.

Atau bisnis retail di bawah bendera Trans Retail dan F&B menikmati keuntungan dari lonjakan traffic pengunjung yang ingin menikmati nobar sekalian borong belanja bulanan, dan anak-anak menunggu sambil main games.

Keberanian Pak Chairul Tanjung melakukan akuisisi lisensi Piala Dunia yang super mahal ini juga punya dampak sosial bahkan politik. Konten menghibur ini membuat kubu-kubu yang terkotak karena pilihan politik kembali bersatu dalam seragam tim kesayangan masing-masing.

Ada warna baru dalam percakapan di media sosial. Dari warna buram sehari-hari, di mana urusan jalan tol aja publik gontok-gontokan antara klakson ganti presiden atau jangan lewat ini tol Jokowi. Publik jadi punya hiburan baru melihat aksi Ronaldo. Lepas sejenak dari pertarungan Cebong atau Kampret, tapi saling olok soal penampilan buruk Messi. Atau ikut teriak seperti orang kesakitan saat melihat Neymar dihajar pemain lawan, padahal dia bukan saudara apalagi seakidah.

Rangkulan sejenak dalam seragam tim Spanyol di acara nobar yang diadakan oleh pentolan Projo seperti BudiArieSetiadi misalnya. Tenggelam dalam harapan bersama untuk pulihnya Mohammad Salah di pertandingan berikutnya, meski di luar itu, berbeda partai politik.

Menyatukan yang terserak. Ngopi bareng melupakan Prabowo, Jokowi atau Amien Rais. Di mana ga perlu ada sungkan memuji permainan Rusia yang dihuni sebagian pemain yang anti Tuhan, dibanding Arab Saudi yang muslim.

Bangsa ini butuh rehat, dan banyak hiburan. Terima kasih Pak CT, Transmedia, KVision, Indihome dan semua pihak yang menghadirkan tayangan ini.

Mohon doa restunya Jerman bangkit lagi, meski sampai sekarang, media dan publik negeri sendiri menghujat timnas mereka bahkan melabeli sebagai gerombolan pengecut. Bukan apa-apa, karena jika finalnya Jerman versus Portugal maka saya dan anak saya akan happy banget.

Jakarta, 19 Juni 2018.

Sepak Bola, Politik dan Indonesia

Ayah akan bercerita padamu secuil dari apa yang ayahmu ketahui tentang politik dan Indonesia ketika kamu cukup umur kelak. Tapi mirip foto ini, politik itu seni permainan. Beda obyek saja, yang satu merebut bola untuk dimainkan, yang lain merebut kekuasaan untuk dikelola.

Jauh sebelum foto ini, di periode 2014, ayahmu karena pekerjaannya, dan tokoh besar di sebelahmu, Romahurmuziy yang karena partainya berada pada barisan yang berbeda. Suatu hari, tim kami mendengar Gus Romy pimpin sendiri tim untuk mencari titik lemah capres lawan dia di Solo, kota tempat Sang Capres pernah menjabat sebelumnya. Dan kami pun memberikan respon menghadapinya.

Semua itu lumrah dalam permainan kekuasaan. Yang tidak boleh adalah berdusta, di luar itu permainan fakta untuk membentuk preferensi politik adalah sah saja. Kami bertempur dengan ‘gameplan’ masing-masing sampai hari penghakiman di kotak suara itu tiba.

Tapi pada hari itu, Sang Ketum memelukmu erat ketika ayah kenalkan sebagai anak lelaki kesayangan. Dia menyematkan doa untukmu, terasa tulus, karena ayahmu bukan dari golongan partainya. Dan sebaliknya ayah mengagumi cara Gus Romy mendidik anak perempuannya semata wayang menjadi anak Indonesia yang cerdas.

Ya, karena bagi kami, permainan itu telah usai saat diputuskannya siapa pemenang dalam kontestasi itu. Beliau kembali ke partainya, ayahmu memilih profesinya. Dan hari itu kita merayakan sepakbola bersama. Kebetulan kami sama-sama suka Jerman, tapi memilih kaos yang berbeda warnanya. Apalah arti kaos dibanding keindahan sistem bermain Die Mannschaft bukan?

Banyak pemikir besar yang menekuni teori politik di luar sana menuliskan pergulatan ini dalam beragam bingkai pendekatan. Dalam konteks politik modern bahkan dimaknai dalam bingkai liberalisme. Demokrasi harusnya memuat nilai-nilai liberty, equality dan dignity.

Tapi Indonesia kita menemukan kebijaksanaannya sendiri. Demokrasi kita bukan kebebasan mutlak tapi ia mengakar pada nilai Ketuhanan YME, menjunjung nilai keberadaban dan keadilan untuk kemanusiaan, merekatkan keragaman kita dalam satu persatuan, mengutamakan musyawarah serta bekerja keras mewujudkan kesejahteraan sosial.

Kita bersyukur atas formulasi demokrasi Indonesia yang diletakkan para Bapak pendiri negeri itu. Jika ada permainan yang sengaja atau tidak menggunakan narasi sebaliknya, maka lawanlah karena itu BUKAN Indonesia.

Tips Menonton di Stadion Santiago Bernabeu

Tips Menonton di Stadion Santiago Bernabeu

Bagi para penggemar sepakbola, nama Santiago Bernabeu pasti akrab terdengar. Ya, stadion ini milik sang Raja Eropa dengan 12 gelar, Real Madrid. Stadion ini tergolong berukuran raksasa di eropa dengan berkapasitas lebih dari 80 ribu tempat duduk. Di saat-saat pertandingan besar, seperti El Classico yang mempertemukan Madrid dengan Barcelona, atau derbi kota Madrid versus Atletico, serta babak gugur liga Champion sudah dipastikan stadion ini akan full house atau penuh terisi dan tentunya harga tiket yang melambung.

Satu-satunya tips untuk mendapatkan harga lebih terjangkau adalah merencanakan jauh-jauh rencana menonton kemari. Anda bisa membeli di tiket on-line yang kredibel. Dan saya serta anak saya beruntung waktu itu mendapatkan tiket relatif murah dari footballticketnet.com dengan mengganti tiket terusan sepasang keluarga madridista yang tidak jadi menggunakan tiket mereka.

Sebelum Anda tiba di stadion Santiago Bernabeu ada baiknya anda mengenali posisi gate (pintu masuk) Anda. Hal ini penting mengingat stadion raksasa ini memiliki begitu banyak pintu masuk, dan jarak antar sisi stadion akan menguras waktu dan tenaga jika anda harus mengitarinya. Anda bisa mempelajari struktur bangunan stadion ini di website resmi madrid di : http://www.realmadrid.com. Seperti yang Anda lihat di bawah ini.

20180303_170118

Peta stadion Santiago Berneabeu

Penjagaan di area stadion ini cukup ketat, petugas keamanan berada di pintu masuk dengan perangkat metal detector akan mengecek dengan teliti setiap penonton yang akan masuk. Benda seperti kayu, botol kaca, atau benda tajam pasti akan disita sebelum Anda masuk gerbang stadion. Problem dari saya saat membawa tiket terusan yang bukan atas nama saya adalah ditolak masuk oleh petugas sesuai peraturan tertulis mereka. Tips sederhana adalah masukkan tiket itu di dompet Anda dan cukup tempelkan dompet (tanpa mengeluarkan tiketnya) sehingga luput dari perhatian petugas. Bagaimana jika apes? maka berikan jawaban sederhana : bahwa Anda diberi tiket oleh kolega Anda di madrid sesuai dengan nama yang tertera di kartu tersebut.

Continue reading

Pernak-pernik Liga Champion

“Hahaha…Milan akhirnya kalah, Lyon unggul karena mencetak gol away.” Ledek seorang teman pada saya. Saya memang penggemar berat AC Milan, dan saat itu dihadapkan pada kenyataan, papan skor masih menunjukkan 1-1 hingga menit 87. Siapa sangka, Inzaghi di menit 88 membuat keresahan itu sirna dengan gol cantiknya. Akhirnya, bomber terbaik dunia Shevchenko membuat keunggulan akhir menjadi 3-1. Ah…lega jadinya, Rossoneri memang champione. Bermental juara. Tidak salah jika UEFA meletakkan Milan di peringkat pertama dalam daftarnya.

Champion League memang menyajikan banyak kisah bagi penggemarnya. Mendekati partai puncak seperti saat sekarang, ruang tamu seringkali berubah menjadi mirip cafe. Ada kopi, panganan kecil, kepulan rokok menghangatkan suasana. Dan yang tidak kalah seru adalah celotehan serta yel-yel membela klub favorit masing-masing.

Seperti cuplikan di atas, kemenangan tersebut seringkali datang secara dramatis. Para penggemar bola pasti masih ingat kejadian tahun kemarin, di partai puncak Champion di Istambul. Siapa sangka ketika keunggulan Milan 3 gol berakhir begitu saja lewat aksi memikat Steven Gerard dari Liverpool. Atau, apa yang terjadi pada Muenchen 4 musim lalu, ketika di menit terakhir kecolongan lewat assist-assist maut Becks.

Begitulah sebuah kompetisi berlangsung. Bagi yang sedang unggul, maka harus tetap terus menerus waspada, karena sederet kompetitor akan dengan senang hati menghantam. Itulah sebabnya, Mark Hurd dari HP memiliki cara yang dia sebut sebagai extreme benchmark, upaya terus menerus menciptakan suasana kompetisi dari rival utama, dan keinginan untuk tidak kalah.

Lain Hurd, lain pula Lafley dari P&G. Lafley sangat mengharamkan strategic review hanya berupa laporan asal bapak senang belaka. Dan, menciptakan ruang meeting benar-benar menjadi ruang debat. Ruang pencarian solusi, bukan teater akting para eksekutif. Karena Lafley dan Hurd sangat sadar sifat dinamis pasar, dan ancaman terus menerus dari kompetitor. Perlunya upaya untuk terus unggul. Bagaimana dengan yang tertinggal?

Champion league mengajarkan pada kita, betapa keyakinan, fokus dan kerja keras untuk mengejar ketinggalan sering menghadirkan keajaiban. Keajaiban saat bola mental itu tiba-tiba menghampiri kaki Inzaghi saat itu. Keajaiban saat bola crossing Beckham dengan telak diselesaikan oleh rekannya.

Tapi jangan salah, keajaiban itu bukan suatu keberuntungan belaka. Namun, biasanya berawal dari perubahan strategi jeli dari sang pelatih. Ditambah, buah dari kerja keras dan sikap tidak pernah putus asa. Kombinasi mental yang diperlukan untuk melengkapi sebuah strategi berkompetisi…..

Jakarta, 7 April 2006