BELAJAR DARI ARIEF YAHYA

Pengalaman bersama Pak Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

“Yang kasih target keterlaluan ya, Pak Menteri.” Canda saya tentang target 20 juta wisatawan dari Presiden ke Menpar.

“Awalnya, saya juga syok itu kenaikan lebih dr 2x lipat. Pariwisata bicara ekosistem kompleks mulai dari daya tarik alam, mental hospitality, keamanan sampai infrastrukturnya. Belum lagi faktor di luar kendali kita seperti bencana alam. Tapi setelah Bapak Presiden jelaskan ruang tumbuhnya masih besar, karena selama ini kita cuma andalkan Bali. Perhatian Pak Jokowi luar biasa besar, baru kali ini sepanjang sejarah republik, Pariwisata menjadi ‘leading sector’ pembangunan. Kami yakin bisa kejar target. Dibikinlah wonderful Indonesia dengan 10 destinasi wisata unggulan. Fokus saja tapi jadi semua, begitu kata Bapak Presiden.” Tutur beliau waktu itu.

Continue reading

PERANG MELAWAN HOAKS ALA SINGAPURA

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pr7th6368

Membaca berita ini, saya teringat di beberapa tahun silam, saat menemani guru dan senior kami, Pak Ishadi dan Pak Latief Harnoko, menyambut rombongan menteri senior Mr.Chee dari Singapura. Mereka belajar dari pengalaman kita sebagai bangsa saat menghadapi proses pemilu 2014, saat hoaks menjadi sebuah operasi politik yang sangat masif dibanding era sebelumnya karena perkembangan teknologi informasi dan media baru.

Bagaimana kebohongan di-engineering dengan sederet algoritma yang ‘tidak memiliki hati’, seakan menemukan ‘pasangan’ yang sempurna dengan politisi yang tak lagi menggunakan hatinya dan menganggap politik adalah permainan kekuasaannya semata. Adu kiri, adu kanan, sedang dia sendiri kemudian balik badan 😪

Continue reading

Pendidikan Karakter

Setiap kelas mata kuliah saya di Universitas Indonesia, setiap kesempatan berbagi sebagai pembicara di kampus dan di setiap kesempatan berinteraksi dengan mahasiswa saya, selalu saya sisipkan pertanyaan untuk mengganggu kenyamanan mereka. “Apakah kalian tidak salah ambil jurusan? Apakah lapangan pekerjaan masih tersedia untuk profesi kalian? Dan berbagai pertanyaan serupa kepada para calon pemimpin negeri ini tersebut.

Continue reading

Sepak Bola, Politik dan Indonesia

Ayah akan bercerita padamu secuil dari apa yang ayahmu ketahui tentang politik dan Indonesia ketika kamu cukup umur kelak. Tapi mirip foto ini, politik itu seni permainan. Beda obyek saja, yang satu merebut bola untuk dimainkan, yang lain merebut kekuasaan untuk dikelola.

Jauh sebelum foto ini, di periode 2014, ayahmu karena pekerjaannya, dan tokoh besar di sebelahmu, Romahurmuziy yang karena partainya berada pada barisan yang berbeda. Suatu hari, tim kami mendengar Gus Romy pimpin sendiri tim untuk mencari titik lemah capres lawan dia di Solo, kota tempat Sang Capres pernah menjabat sebelumnya. Dan kami pun memberikan respon menghadapinya.

Semua itu lumrah dalam permainan kekuasaan. Yang tidak boleh adalah berdusta, di luar itu permainan fakta untuk membentuk preferensi politik adalah sah saja. Kami bertempur dengan ‘gameplan’ masing-masing sampai hari penghakiman di kotak suara itu tiba.

Continue reading