TV Program : Menggapai Mimpi

Dalam karir broadcast tv, mungkin ini salah satu program masterpiece yang saya banggakan. Menggapai Mimpi. Sungkem untuk Kang Ule untuk idenya.

Banyak teman yang mengkritisi kenapa divisi pemberitaan membuat program semi reality show pengamen jalanan. Bukan produk jurnalistik. Itu sah-sah aja. Tidak usah berdebat wong namanya juga pendapat. Toh saya juga bukan jurnalis atau sarjana komunikasi yang sanggup berdebat soal dalilnya.

Tapi kenapa dia masterpiece karena sampai sekarang program itu masih berdampak pada diri saya. Media itu sendiri sering menampilkan rekaan realita yang jauh dari kondisi sebenarnya. Dan media jarang akrab-akrab dengan narsum yang bukan newsmaker.

Continue reading

Polemik Kewarganegaraan Ganda dan Brain Drain

Hari ini, 15 agustus 2016, publik guncang dengan meningkatnya isu dwi warga negara sosok Menteri ESDM, Arcandra Tahar (AT). Semula hal ini cuma isu yang beredar di kalangan wartawan melalui Whatsapps, namun makin panas isu saat konfirmasi kebenarannya oleh Menkumham.

Tepat 21.00, melalui mensesneg, dibacakan keputusan Presiden Joko Widodo memberhentikan AT dari posisi Menteri ESDM dan menunjuk Plt Menko Luhut Binsar Panjaitan.

Sebenarnya jika kita tidak pelupa, kita tidak perlu terkaget-kaget dan mencak-mencak karena isu ini. Serupa bahkan Presiden SBY pernah terbuka saat diwawancara International Herald Tribune, bahwa Amerika Serikat terlepas dari segala kesalahannya, begitu beliau cintai sebagai negara keduaย http://english.aljazeera.net/archive/2004/07/20084913557888718.html

Namun terlepas dari polemik apakah AT melakukan kelalaian administratif melapor ke kedutaan saat dia menerima kewarganegaraan AS di 2012, ataukah tidak etisnya AT dengan tidak menyembunyikan status tersebut. Atau bahkan, lemahnya litsus terhadap calon pejabat negara yang melibatkan setneg atau BIN yang mencoreng muka Presiden yang dianggap teledor. Saya tertarik melihat angle lain dari AT ini yaitu fenomena diaspora.

Sudah saatnya sebagai bangsa, para politisi, pemerintah, akademisi, pakar bahkan para diaspora duduk urun rembug untuk memformulasikan RUU kewarganegaraan kita. Fenomena globalisasi salah satunya berdampak pada “brain drain” talenta terbaik negeri seperti AT dan ribuan diaspora lainnya. Ya, perang global bukan saja perebutan investasi dalam bentuk modal uang, tapi di atas itu, perebutan manusia-manusia unggul. China dan India menghadapi situasi ini dari era 1980-an.

Saya sendiri awam soal perundangan. Tapi pendapat pribadi, kita harus waspadai benar posisi dan kepentingan nasional kita yang akan terganggu atas perginya orang-orang hebat ini. Memang akan banyak pembahasan terkait nasionalisme dan lain-lain. Tapi sudah sepatutnya kita luangkan energi untuk bahas ini. Meski agak terlambat tapi tidak ada salahnya di mulai.

Miris rasanya melihat jagoan-jagoan di Silicon Valley yang anak negeri ini. Mereka diperlakukan luar biasa dengan kesejahteraan dan akses terhadap pengetahuan dan teknologi, tapi tak dianggap oleh negerinya sendiri.

Saatnya kita memikirkan ini dengan jernih!

Inspirasi dan Keberanian Bertindak

Di penghujung makan malam yang menyenangkan bersama Istri di Kawasan Plasa Senayan, kami mendapatkan kesempatan mendapatkan door prize. Dari kotak undian, selembar kertas dibaca, bukan sebuah hadiah discount atas makan malam kita, bukan juga hadiah lain, melainkan serangkaian kalimat. Sempat kami sedikit kecewa, namun buru-buru bersyukur atas pemberian dalam secarik kertas itu.

“Jangan menunggu inspirasi untuk memulai tindakan. Melainkan, bertindaklah untuk memberikan inspirasi.” Begitu kira-kira isi dari hadiah itu. Hadiah yang menyentil diri sendiri untuk mengingat kembali arti tindakan. Maklum, sebagian besar karir profesional dan latar belakang pendidikan lebih berkutat pada perhitungan dan perencanaan.

Kepiawaian dalam perencanaan tidak serta merta membuat seseorang piawai dalam mengeksekusinya. “Planning the work, sangat berbeda dengan working the plan. Dalam perencanaan, Anda hanya dihadapkan pada resiko di atas kertas. Berbeda saat eksekusi, Anda akan bergelut langsung dengan resiko itu dalam dunia nyata. Dan, Sangat langka seorang pemimpin yang memiliki kedua kemampuan itu sama baik.” Begitu seorang teman yang pakar HR pernah berkata.

Banyak manajer sering berlindung pada kata “manajerial” untuk menghindari resiko gagal dalam eksekusi. “Toh, job description saya adalah merencanakan dan mengevaluasi. Jadi tugas saya memberi pekerjaan, dan marah-marah atas kegagalan dari pekerjaan itu.” Sebuah asumsi yang diperbaiki oleh Ram Charan dengan kritik tajamnya, bahwa manajerial adalah eksekusi.

Eksekusi adalah tindakan. Dan, dalam segala ketidakpastian, dan dinamika persaingan yang menuntut kecepatan, membuat eksekusi diharuskan melibatkan 3 hal :ย common sense, keberanian dan kelenturan.ย Common senseย diperlukan untuk dapat menjaga kejernihan pikiran untuk mencapai semua tujuan yang sudah direncanakan. Logika yang sehat akan berusaha untuk mencari solusi terbaik dari sekian alternatif solusi atas setiap permasalahan yang muncul di tengah perjalanan eksekusi.

Keberanian, adalah perangkat lunak yang wajib dimiliki oleh setiap manajer. Terutama dalam menghadapi kata resiko yang secara kodratnya memang tidak bisa dieliminasi dalam perhitungan perencanaan. Keberanian, adalah atribut yang harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Bahkan dalam banyak literatur tentang seni memimpin, keberanian menentukan kualitas dari sang pemimpin itu sendiri.

Keberanian menyangkut bagaimana dia mengambil resiko atas tiap tindakan, termasuk kecepatan dalam mengambil keputusan. Melindungi orang yang dipimpinnya dari setiap kemungkinan kegagalan yang muncul. Di satu sisi, keberanian juga harus menyadari benar hakikat dari sebuah mekanisme pengambilan keputusan. Kadang sebuah keputusan untuk tidak melakukan apapun (do nothing alias diam) bisa jadi keputusan terbaik, namun bisa juga tidak. Semua bergantung kondisi.

Terakhir kelenturan. Kelenturan untuk membelokkan arah dari tujuan ketika terjadi krisis yang membuat tujuan awal menjadi tidak relevan lagi. Kelenturan sendiri menuntut level wisdom yang hanya akan dimiliki lewat perjalanan pengalaman dan kemampuan membaca pelajaran dari sang waktu.

Di akhir semuanya, selain tindakan, saya teringat kisah menarik dari perilaku mantan bos. Ketika selesai rapat yang membahas semua agenda penting, ketika semua rencana sudah dimatangkan, semua tindakan sudah disiapkan, Sang Bos lalu keluar ruang rapat. Dia berdoa dengan membawa dupa di tangannya (sesuai dengan agama yang dianutnya). Begitu khusyuk.

“Selalu ada kekuatan di atas kita. Itu sebabnya kita tidak bisa mengetahui hari esok kecuali mengira-ngira saja……” Kata Bos ketika ditanya mengapa dia harus berdoa seperti itu.

 

Menghadapi Kompetisi dengan Optimisme

Rencana soft launching Forbes Indonesia bulan Februari tahun depan sempat membuat suasana di SWA diliputi kekhawatiran. Betapa tidak, selain Forbes,banyak nama besar dari luar negeri mengincar manisnya pasar di negeri ini. Belum lagi geliat kelompok media raksasa dalam negeri. Bagaimana dengan SWA?

Meskipun relatif merupakan nama baru di SWA dan dunia cetak, aku bangga berada di sini. Menjadi saksi betapa berkobarnya sebuah optimisme menghadapi kekuatan-kekuatan raksasa yang bakal menyerbu masuk. Betapa tiap insan SWA bertekad bahu-membahu melakukan lompatan lebih jauh lagi. Memuaskan pembaca menjadi sebuah tujuan tunggal yang tulus, dan ikut mendorong dunia bisnis negeri ini yang sedang terpuruk untuk bangkit.Meluncurnya edisi “double issue” SWA (yang akan semakin sering frekuensinya di masa mendatang) dengan berbagai perbaikan dari sisi kedalaman konten hingga perwajahan adalah bukti dari membaranya optimisme itu.

Bagi aku pribadi, baik oplah maupun perolehan iklan yang terus membaik hanyalah indikator dari hasil akhir sebuah proses dalam industri cetak. Hal yang menakjubkan dan menjadi kenangan abadi adalah keterlibatan secara penuh dari sebuah perubahan. Merasakan betapa dahsyatnya luapan semangat. Menyaksikan bola mata yang menyala dari sebuah optimisme……

Hikmah : 3 Sikap Seorang Pengubah

(Biasanya setiap penerbitan SWA, aku memulai membaca dari setiap karya yang berhubungan erat dengan riset SWA. Alasannya sederhana, karena itu adalah tanggung jawab profesionalku. Tapi untuk edisi ke 23 ini agak berbeda….,saya memulainya dari tulisan pak Paulus Bambang tentang 3 sifat seorang pengubah. Sengaja saya cuplik langsung pada beberapa bagian yang saya anggap inti dari tulisan beliau. Silahkan menikmati…)

“God grant me the SERENITY to accept the things I can not change, COURAGE to change the things I can and WISDOM to know the difference.”

Ada tiga sikap yang perlu menjadi pertimbangan dalam menangani sebuah perubahan. Baik perubahan soal nilai hidup, pekerjaan, keluarga, ekonomi maupun bidang spiritual sekalipun.
Sikap pertama soal perubahan yang penting adalah SERENITY. Suatu sikap yang tenang, tentram, dan berani menerima kenyataan bahwa banyak hal yang tidak mungkin kita bisa ubah, apalagi secara frontal dan instan. SERENITY berarti berani berkontemplasi, mampukah melakukan perubahan. Kalau tidak, hanya dua pilihan. Menerima kenyataan itu dengan legowo, bukan lantas frustasi dan apatis. Hanya butuh kesabaran untuk menjadi pengubah.
Sikap kedua adalah COURAGE, semangat melakukan perubahan kala kemungkinan itu ada. Menggunakan otoritas yang ada untuk melakukan perubahan adalah mutlak. Kebenaran harus di atas kebaikan. Nilai-nilai hidup harus di atas kinerja bilangan.Sebuah keberanian yang hakiki yang mutlak bagi yang menganut “principles driven leadership”.
Sikap ketiga adalah pada aspek WISDOM,kebijakan membedakan kapan memakai senjata SERENITY dan kapan mengayunkan COURAGE. WISDOM bukan berarti kompromi dalam arti sempit. WISDOM adalah simbol kesadaran mutlak kapan harus mengalah dan kapan harus mengalahkan. Sikap ini hanya bisa dipupuk dengan Knowledge dan Knee. Knowledge berarti pengetahuan dan pengalaman. Knee berarti banyak berdoa alias modal dengkul kepada sang Pencipta……

(Dicuplik dari tulisan pak Paulus Bambang WS, SWA edisi 23/2006)