Company Visit : Kumparan.com

I am proud of my young and brilliant students from University of Indonesia. Keep the passion, stay hungry and foolish, lads!

Proud of Kumparan.com too. Special thanks to my humble and sincere colleagues, Hugo Diba (CEO) and Andrias Ekoyuono (CMO).  These guys well known as digital pioneers years ago, when they founded detik.com, as we know as the biggest news portal in the country.

We learned a lot about how’s digital start-up works. What’s the media collaborative means.
#AllahBlessNKRI

#TheBestWayToLearnIsToShare

#UniversitasIndonesia

Mitos Peramal Tahu Segalanya Bernama Big Data dalam Pilkada DKI Jakarta

Menjelang hari pencoblosan dalam Pilkada DKI Jakarta, berbagai survei berbasis wawancara lapangan hingga yang berbasis big data analytics bertebaran di berbagai media, baik cetak – tv hingga digital. Masing-masing menebar klaim terunggul dalam menampilkan elektabilitas tiap paslon dengan beragam tujuan yang seringkali tidak murni sciencetific.

Artikel ini secara khusus akan membahas seperti apakah big data analytics dan bagaimana tools ini bekerja dalam riset politik. Saya coba sharing berdasarkan pengalaman akademik dan professional saat membangun data journalism berbasis big data analytics di Media Group sejak 2012.

Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa mengubah pola komunikasi yang tadinya satu arah dalam internet 1.0 menjadi memiliki pola komunikasi yang kompleks karena imbuhan kapabilitas untuk sharing (berbagi) dan shout (berkomentar). Di dalam awan internet banyak data penting berserak yang demikian penting dan dapat ditarik dengan mudah dengan crawling system dan dicacah untuk diolah menjadi informasi yang kita inginkan dengan bantuan algoritma tertentu. Untuk menghindari tulisan ini menjadi sangat teknikal computer science, maka penulis coba sederhanakan dengan bahasa awam.

Crawling adalah teknik komputasi untuk menarik data baik berupa data yang tidak terstruktur maupun terstruktur. Bagian paling rumit dari penarikan data dalam Big Data adalah membedakan antara data sampah dengan bukan sampah. Seperti membedakan percakapan dari akun personal yang riel ataukah akun bot yang palsu. Kelebihan dari big data analytic adalah kemampuannya menangkap data secara cepat dan nyaris real time, dibandingkan survei berbasis wawancara yang membutuhkan waktu lebih lama mulai dari rekrutmen pewawancara hingga pengolahan akhir.

Continue reading

​Tren Data dan Informasi (2) : Teknologi Informasi dan Internet

Perkembangan teknologi informasi begitu menakjubkan dalam satu decade terakhir, tidak saja berdampak pada semakin kompleksnya kemampuan dan kecepatan computer melainkan juga mengubah kebiasaan manusia. Dalam tulisan Chris Robert dalam Buku Communication Technology Future, mengenai personal computers, menyebutkan secara rata-rata manusia menghabiskan sekitar 33 jam per minggu untuk terhubung dengan computer dibandingkan layar televisi. Hal ini juga tercermin di data makro yang dipaparkan Gartner tahun 2008 bahwa penjualan computer di dunia meningkat lebih dari 13% setahun sehingga Time Magazine menyebut computer sebagai “machine of the years”.
Berangkat dari kemampuan mirip kalkulator, kini dari seluruh elemen yang membangun sebuah computer (hardware dan software) terus meningkat kemampuannya. CPU sebagai otak dari computer semakin meningkat kemampuan memproses data lewat semakin majunya teknologi microprocessor. Demikian pula dengan meningkatnya kapasitas memory baik berupa random access memory (RAM) yang berperan dalam penyimpanan sementara selama pengolahan di prosesor hingga storage memory.

Piranti lunak (software) berupa perintah-perintah programming semakin user friendly. Demikian pula dengan system operasi yang menjadi dirigen di antara piranti keras dan mengelola aplikasi-aplikasi piranti lunak. Persaingan antara Apple OS X, UNIC ,Microsoft membuat system operasi semakin powerful dengan cepat. Saat ini Microsoft masih mendominasi pasar dengan penguasaan system operasi Windows yang mencapai hampir 90%, diikuti system operasi Linux 6.5% dan Apple7.3%.

Continue reading

Polemik Kewarganegaraan Ganda dan Brain Drain

Hari ini, 15 agustus 2016, publik guncang dengan meningkatnya isu dwi warga negara sosok Menteri ESDM, Arcandra Tahar (AT). Semula hal ini cuma isu yang beredar di kalangan wartawan melalui Whatsapps, namun makin panas isu saat konfirmasi kebenarannya oleh Menkumham.

Tepat 21.00, melalui mensesneg, dibacakan keputusan Presiden Joko Widodo memberhentikan AT dari posisi Menteri ESDM dan menunjuk Plt Menko Luhut Binsar Panjaitan.

Sebenarnya jika kita tidak pelupa, kita tidak perlu terkaget-kaget dan mencak-mencak karena isu ini. Serupa bahkan Presiden SBY pernah terbuka saat diwawancara International Herald Tribune, bahwa Amerika Serikat terlepas dari segala kesalahannya, begitu beliau cintai sebagai negara kedua http://english.aljazeera.net/archive/2004/07/20084913557888718.html

Namun terlepas dari polemik apakah AT melakukan kelalaian administratif melapor ke kedutaan saat dia menerima kewarganegaraan AS di 2012, ataukah tidak etisnya AT dengan tidak menyembunyikan status tersebut. Atau bahkan, lemahnya litsus terhadap calon pejabat negara yang melibatkan setneg atau BIN yang mencoreng muka Presiden yang dianggap teledor. Saya tertarik melihat angle lain dari AT ini yaitu fenomena diaspora.

Sudah saatnya sebagai bangsa, para politisi, pemerintah, akademisi, pakar bahkan para diaspora duduk urun rembug untuk memformulasikan RUU kewarganegaraan kita. Fenomena globalisasi salah satunya berdampak pada “brain drain” talenta terbaik negeri seperti AT dan ribuan diaspora lainnya. Ya, perang global bukan saja perebutan investasi dalam bentuk modal uang, tapi di atas itu, perebutan manusia-manusia unggul. China dan India menghadapi situasi ini dari era 1980-an.

Saya sendiri awam soal perundangan. Tapi pendapat pribadi, kita harus waspadai benar posisi dan kepentingan nasional kita yang akan terganggu atas perginya orang-orang hebat ini. Memang akan banyak pembahasan terkait nasionalisme dan lain-lain. Tapi sudah sepatutnya kita luangkan energi untuk bahas ini. Meski agak terlambat tapi tidak ada salahnya di mulai.

Miris rasanya melihat jagoan-jagoan di Silicon Valley yang anak negeri ini. Mereka diperlakukan luar biasa dengan kesejahteraan dan akses terhadap pengetahuan dan teknologi, tapi tak dianggap oleh negerinya sendiri.

Saatnya kita memikirkan ini dengan jernih!

Creative Creation

Berawal dari sore yang mendung di World Trade Center. Walau diancam oleh kemungkinan hujan badai, tidak mengurangi antusiasme bikers seperti saya untuk menuntaskan agenda terakhir di WTC hari ini. Sebuah acara executive forum Nielsen,berdiskusi dengan salah seorang mentor saya di Trans dulu, Mas Wishnutama.

Berikut poin-poin dari diskusi kami :

Creative Creation : More like an art,but still need science.

Meskipun trending topic dalam berbagai kajian manajemen saat ini mengenai kreativitas dan inovasi,hampir tidak ada satu mekanisme standar dalam menghadirkan keduanya dalam organisasi.
Kreativitas dan inovasi dalam penciptaan lebih kental warna “art” dibandingkan “science”. Meski kehadiran “science” menjadi penting untuk membuat arah “creative creation” sesuai dengan kebutuhan.

Understand who’s the customers
Berdasarkan pengalaman empiris kami kesimpulan paling awal dari penciptaan adalah :
“Memahami Siapa Pengguna yang Kita Tuju”
Harus dipahami bahwa dalam konteks Indonesia adalah beberapa key highlight dari data yang ada :
53% dari komposisi pemirsa adalah wanita
63.7% dari total populasi adalah wanita dan kaum younger.
“Jangan remehkan suara wanita. Mereka penguasa dompet sesungguhnya. Dan younger segment,karena preferensi mereka terhadap produk yang masih belum terbentuk akan selalu seksi bagi pengiklan”

Be Different and Simply to Digest
In the creators mind, the first word to be remember…BE DIFFERENT!
Karena diferensiasi menjadi faktor terpenting di era sekarang selain kecepatan delivery, efektifitas biaya dan kualitas program.
Pasar sudah demikian crowded oleh pemain dan aksi me-too. Sehingga menjadi trendsetter adalah harga mati. Jangan pernah mau ikut-ikutan mainstream!!!
Unsur terpenting berikutnya adalah Be Simple. Karena bagi mayoritas pemirsa Indonesia kesederhanaan konten memudahkan mereka untuk menikmati program yang disajikan.
Simply to digest. Itu yang membedakan bagaimana program berita di luar negeri yang dengan sederhana memberikan pemahaman atas sebuah masalah rumit. Karena TV Luar Negeri selalu memperhatikan siapa pemirsa kita, TV kita cenderung hanya ingin terlihat pintar dengan terminologi rumitnya.

Fokus-lah
Dalam sejarah perkembangan industri media dan entertainment dunia, akan terjadi polarisasi kekuatan antara :
Platform oriented : Google, AOL, AT&T, Twitter, Facebook.
Content oriented : Pixar, Disney (meskipun mereka juga punya Disneyland sebagai ekstensi produk),dan rumah-rumah produksi besar lainnya seperti Universal dan Columbia.
Fokus membuat resiko dalam investasi bisnis lebih terukur,di samping memudahkan konsentrasi dalam penciptaan produk.
Di masa depan, dalam era digital, justru content provider yang memiliki potensi lebih besar. Karena dalam konteks globalisasi, content provider selalu punya keunggulan terkait muatan kreatif lokal.
Terbukti dalam rilis channel terbaik di pay tv. Trans TV dan Trans 7 selalu menghiasi top 3.

Disiplin Eksekusi dan Kultur Penciptaan
Esprit de Corp memegang peranan penting dalam penciptaan. Bagaimana tiap kru yang terlibat memiliki kebanggaan atas apa yang mereka kerjakan.
Itu mengapa Trans TV memulai proses pembangunan kultur di awal pendiriannya,termasuk sebagai trendsetter penyeragaman karyawan.

Evaluasi dan Feedback
Di dalam proses penciptaan kreatif. Evaluasi dan Feedback adalah keharusan di akhir dan awal siklus penciptaan.
Produser harus paham benar bagaimana program mereka bertarung di layar.
Kemana pemirsa mereka pergi. Dan apa yang membuat pergi.