Menjadi Tidak Adil Demi Politik, Janganlah!

Diingatkan istri karena akhir-akhir ini terlihat sangat emosional di media sosial. Saya bilang bukan urusan dukung 01 atau 02, utamanya. Beda episode dengan 2014, di mana saya bagian melekat dalam pemenangan Jokowi yang berada di panggung. Kali ini saya menikmati peran sebagai penonton saja.

Pemilu sekarang jauh lebih keterlaluan dari sebelumnya. Dulu perang propaganda lebih bersifat klandestin (terselubung, gelap, samar dan bawah tanah), yang paling mencolok adalah peredaran tabloid Obor Rakyat. Waktu itu saya ga peduli, lha wong Jokowinya juga sempat ga peduli. Baginya, fitnahan soal PKI ke dirinya dan almarhum ayahnya adalah penggugur kesalahan sang ayah.

Saat ini, permainannya menjadi terbuka lewat pernyataan, mimbar bahkan door to door. Itu pun saya ga urusan. Sudah jadi tugas tim sukses masing-masing. Mau upaya delegitimasi penyelenggara pemilu via hoaks kontainer surat suara palsu, 33 juta suara bodong sampai komisioner keturunan dan antek cina, itu urusan Arief Budiman (ketua KPU), komisioner KPU, Bawaslu dan polisi.

Continue reading

Sinetron Politik 2019 : Pola Usang dan Aktor Lawas

*Drama 7 Kontainer*

Seharusnya masih segar dalam ingatan (kecuali memang pelupa, seorang Andi Arief membuat gaduh ruang publik dengan tudingan tajam adanya 7 kontainer berisi jutaan kertas suara ilegal. Langsung komentar bersahutan silih berganti.

Ada yang menuduh ini upaya masif rezim menggelembungkan suara, Jokowi maruk kekuasaan. Yang lain menohok penyelenggara pemilu lemah dan berat sebelah, bahkan ada meme yang dibuat orang yang mungkin sedang koplo pernah saya posting, Arief Budiman Ketua KPU adalah keturunan cina dan antek asing. KPU dan Bawaslu curang, bunyi makian yang menjejali media sosial.

Polisi bergerak. Tidak ditemukan apapun. Dan media menyorongkan mic ke sang peniup peluit gaduh. Jawabannya luar biasa. Dia malah marah dituding bikin hoaks. Tenang tanpa dosa Andi Arief berkata,”saya cuma imbau untuk lakukan pengecekan!”

http://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/01/03/komentar-andi-arief-setelah-unggah-kabar-7-kontainer-surat-surat-telah-dicoblos-bantah-sebar-hoax

Sebagai politisi dia sukses. Dapat atensi media dan publik. Bagus untuk elektoral. Urusan berapa banyak dosa atas prasangka buruk hingga sumpah serapah yang salah alamat, bukan soal bagi Andi Arief. Dia pun masih percaya diri akan terus diminati media massa, karena kontroversi masih jadi parameter jaminan rating dibandingkan kejujuran.

Continue reading

Renungan Tengah Malam tentang Pemilu Kita

https://tirto.id/mindanao-di-filipina-bukan-indonesia-kenapa-sulit-dipahami-df7T

Pemilu, pesta demokrasi yang membangun tatanan negara, bukan pesta sabu yang bikin seorang doktor ilmu alam, profesional paling brilian, profesor humaniora, pendidik yang gigih, filsuf, wartawan, penekun agama yang taat mendadak jadi koplo. Ya, sebagaimana orang sedang koplo. Blur realita dan bukan. Samar data dan bukan. Ga bisa membedakan trotoar jalan dengan kasur empuk!

Propaganda model Rusia (firehose of falsehood) yang sedang subur dipraktekkan di banyak negara termasuk kita ini kuncinya pada etika dan komitmen elit menjadikan pemilu kompetisi yang membangun kualitas demokrasi. Kemauan publik membangun sendiri literasi media (terutama media sosial). Keseriusan pemerintah dan penegak hukum menjaga koridor aturan.

Saya tertarik dengan ucapan Atika putri Ratna Sarumpaet bahwa,”ibunya hanya berbohong, apakah itu pidana?” Lupa dengan kegaduhan politik, tudingan curiga polisi abai pada tugas melindungi warga negara dan saling tuduh elite tertentu sebagai penganiaya nenek-nenek “Cut Nyak Dien jaman Now”. Ya Tuhan!

Yang kemudian banyak bersambut pro dan simpati atas si cantik Atika. Termasuk politisi membumbui dengan tudingan bahwa rezim tidak adil, ada kerja politik penguasa dan lain-lain yang ujungnya ketidakpercayaan pada sistem. Dan sebagaimana politisi, tudingan dilempar untuk tarik atensi konstituen, begitu diminta pembuktian selalu siap dengan setriliun alasan ngeles!

Pertanyaannya,”apakah arti kemenangan politik itu lebih penting daripada hancurnya bangunan sistem republik yang berdiri puluhan tahun menjembatani keragaman kita?” Well, kalau jawab kita lebih penting elektoral, hmm, layak kita ber-qunut nazilah lebih sering. Kita sedang berada dalam ancaman yang luar biasa : kegagalan sistem sosial.

Komunikasi itu sentral bagi sistem sosial homo sapiens. Peradaban dibangun dari literasi, bahasa yang kemudian membangun struktur sistem sosial.

Analogi sederhana adalah rayap. Rayap punya sistem komunikasi tidak sekompleks bahasa kita, tapi menggunakan kimiawi, apa yang disebut feromon. Feromon inilah pengendali koloni, siapa harus bekerja, siapa bertugas penjaga/ksatria menjaga sarang hingga urusan kawin. Ratu rayap adalah pengendali utama koloni dengan mengeluarkan feromon dasar neoten.

Sebuah eksperimen biologi pernah dilakukan dengan mengoles sebagian pekerja/prajurit dengan feromon dari koloni lain. Apa yang terjadi? Kekacauan komunikasi.

Hasilnya, saling bunuh dan runtuhnya sebuah koloni.

Kawan-kawan sejaringan media sosial,

Saya tidak peduli kalian 02 atau 01. Itu pilihan dari hak politik yang dilindungi konstitusi. Ekspresi vulgar pilihan itu di media sosial pun ga masalah, tidak melanggar undang-undang. Antusias ke TPS itu kewajiban kita sebagai warga negara, kalau perlu coblos pilihan Anda sambil misuhi (dalam hati) foto pasangan yang kalian ga suka.

Tapi saya peduli pada kewarasan kita (terutama saya sendiri). Ayo mulai dari menyaring informasi yang hadir. Menata dan memilih diksi yang baik. Beradu argumen dengan fakta yang diteliti benar. Mendinginkan hati dan meninggikan kualitas nalar sehat.

Ciganjur, 7 februari 2019

Firehose of Falsehood

Model propaganda ini sering juga disebut model propaganda Rusia. Namanya mencuat sejak 2016 dan menjadi bahan diskusi ilmiah di forum-forum peneliti komunikasi. Rekayasa komunikasi dengan meluapkan frekuensi informasi yang dikemas via media sosial utamanya terus menerus terhadap isu tertentu, mengaburkan obyektifitas dan kepercayaan pada kebenaran data serta tebaran kekhawatiran dan sentimen ketakutan. Saya pernah menawarkan pada mahasiswa 2017 untuk diambil jadi topik penelitian.

Jokowi melemparkan isu ini di publik beberapa waktu terakhir. Dan tentu saja sambutannya luar biasa bahkan berlebihan baik dari penyuka maupun pembenci. Jangan-jangan kurang baca, atau ya namanya politisi peran apapun sanggup mereka mainkan.

Bahkan Kedutaan Rusia pun ikut angkat bicara karena namanya disebut. Agak menarik reaksinya karena sebutan ‘propaganda Rusia’ sebenarnya ini lazim menggantikan nama ‘firehose of falsehood’. Seorang kawan yang hobi ilmu konspirasi alias ilmu gathuk mengaitkan keterlibatan negara ini dalam aksi politik di beberapa negara sebagai unjuk kemampuan paska perang dingin.

Di awal semester ini, saya mau ajak lagi anak-anak mahasiswa untuk bikin penelitian ini. Kawan saya Doktoral di IPB kemarin sebenarnya nyerempet ke arah sini, tapi khusus di industri vaksin, data beliau banyak dibantu mediawavenya, Erik Palupi.

Yang membuat agak susah counternya dari model ini ketika pemain utama di panggung politik yang bermain memang mengejar kemenangan an sich tanpa komitmen menjaga nilai paling mendasar yaitu kebenaran. Etika dan moralitas politik menjadi sentral sebagai antidot paling rasional dan instan. Tapi kita hanya bisa berharap kenegarawan para aktor utama lebih ditonjolkan, dibandingkan syahwat kekuasaan.

Berikut link untuk melengkapi informasi soal “propaganda Rusia”.

Continue reading

Hikmah Piala Dunia 2018

Membaca laporan rutin teman-teman programming bikin sumringah. Trans TV kembali menapaki tangga papan teratas dalam kompetisi. Selamat almamater saya tercinta atas pencapaian ini.

(Dikarenakan ada peraturan larangan sharing data kepemirsaan di media lain tanpa seizin Nielsen jadi tidak kami sampaikan data detil kecuali, channel share Trans TV yang melejit di level 17% meninggalkan kompetitor lainnya).

Pendapat pribadi, momentum ini bukan cuma bisnis tapi multi dimensi.

Di mana konten Piala Dunia bisa menjadi tenda besar yang menarik perhatian seluruh pemirsa di republik ini, atau keleluasaan melakukan cross programming lintas platform sehingga menguntungkan platform tv berbayar Transvision yang juga di bawah bendera Transmedia. Atau untuk Trans TV sendiri ini kesempatan melakukan berbagai manuver programming seperti hammocking dalam upaya memperkenalkan program baru pasca Piala Dunia.

Atau bisnis retail di bawah bendera Trans Retail dan F&B menikmati keuntungan dari lonjakan traffic pengunjung yang ingin menikmati nobar sekalian borong belanja bulanan, dan anak-anak menunggu sambil main games.

Keberanian Pak Chairul Tanjung melakukan akuisisi lisensi Piala Dunia yang super mahal ini juga punya dampak sosial bahkan politik. Konten menghibur ini membuat kubu-kubu yang terkotak karena pilihan politik kembali bersatu dalam seragam tim kesayangan masing-masing.

Ada warna baru dalam percakapan di media sosial. Dari warna buram sehari-hari, di mana urusan jalan tol aja publik gontok-gontokan antara klakson ganti presiden atau jangan lewat ini tol Jokowi. Publik jadi punya hiburan baru melihat aksi Ronaldo. Lepas sejenak dari pertarungan Cebong atau Kampret, tapi saling olok soal penampilan buruk Messi. Atau ikut teriak seperti orang kesakitan saat melihat Neymar dihajar pemain lawan, padahal dia bukan saudara apalagi seakidah.

Rangkulan sejenak dalam seragam tim Spanyol di acara nobar yang diadakan oleh pentolan Projo seperti BudiArieSetiadi misalnya. Tenggelam dalam harapan bersama untuk pulihnya Mohammad Salah di pertandingan berikutnya, meski di luar itu, berbeda partai politik.

Menyatukan yang terserak. Ngopi bareng melupakan Prabowo, Jokowi atau Amien Rais. Di mana ga perlu ada sungkan memuji permainan Rusia yang dihuni sebagian pemain yang anti Tuhan, dibanding Arab Saudi yang muslim.

Bangsa ini butuh rehat, dan banyak hiburan. Terima kasih Pak CT, Transmedia, KVision, Indihome dan semua pihak yang menghadirkan tayangan ini.

Mohon doa restunya Jerman bangkit lagi, meski sampai sekarang, media dan publik negeri sendiri menghujat timnas mereka bahkan melabeli sebagai gerombolan pengecut. Bukan apa-apa, karena jika finalnya Jerman versus Portugal maka saya dan anak saya akan happy banget.

Jakarta, 19 Juni 2018.