PERANG MELAWAN HOAKS ALA SINGAPURA

https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/pr7th6368

Membaca berita ini, saya teringat di beberapa tahun silam, saat menemani guru dan senior kami, Pak Ishadi dan Pak Latief Harnoko, menyambut rombongan menteri senior Mr.Chee dari Singapura. Mereka belajar dari pengalaman kita sebagai bangsa saat menghadapi proses pemilu 2014, saat hoaks menjadi sebuah operasi politik yang sangat masif dibanding era sebelumnya karena perkembangan teknologi informasi dan media baru.

Bagaimana kebohongan di-engineering dengan sederet algoritma yang ‘tidak memiliki hati’, seakan menemukan ‘pasangan’ yang sempurna dengan politisi yang tak lagi menggunakan hatinya dan menganggap politik adalah permainan kekuasaannya semata. Adu kiri, adu kanan, sedang dia sendiri kemudian balik badan 😪

Continue reading

Kemenangan Sains di Dua Dunia

H-14 Quick Count saya diminta tolong redaksi dan produksi gabungan Transmedia untuk cari pollster dari pihak 02. Perintah Pak Chairul Tanjung harus imbang dua pollster dari 01, dua dari 02 dan penengah Litbang Kompas. Kebetulan saya punya koneksi untuk dapatkan informasi itu, ketemu dua nama yang terkonfirmasi dari beberapa orang penting di kubu Prabowo-Sandi : Median dan Kedai Kopi. Media digawangi Rico Marbun (kader parpol PKS di koalisi 02) dan Kedai Kopi (Hendri Satriago). Saya sudah janji disclaimer sumber dananya, jadi jangan nanya yaa..

Saya mengenal Hendri Satriago sebagai peneliti dan pengajar ilmu sosial khususnya komunikasi yang berdedikasi dan punya disiplin etik. Jadi percaya beliau akan benar dalam eksekusinya ga tipu-tipu macam 3 pollster di 2014 yang ditayangkan luas oleh sebuah stasiun berita, kasian ada paslon yang kena jebakan kebohongannya. Hasil QC Kedai Kopi lalu adalah 54.45% untuk paslon Jokowi-Maruf Amin berbanding 45.55% Prabowo-Sandi.

Pun demikian dengan hasil Median, kemenangan untuk 01 atas 02 dengan selisih hampir 10%. “QC itu statistika paling basic. Diikuti saja urutannya, semua bisa bikin QC, tinggal keteracakan sample dan besarnya saja menentukan akurasinya. Pembuktiannya pun mudah, pollster tinggal buka formulir C1 di TPS yang jadi sample-nya,” Kata kawan pollster.

Saya mau lompat ke masa sekarang, usai menonton film “End Game”. Anak saya, Sandiaga Abdurrahman Jusuf, hampir menangis melihat jagoannya gugur. Momen psikologis yang tidak boleh saya lewatkan. Habis memberikan pelukan, saya katakan,”Dia gugur sebagai pahlawan untuk menyelamatkan dunia. Husnul khotimah itu tujuan setiap manusia yang hidup, Bang.” “Pahlawan sejati dalam episode terakhir Marvel The Avengers ini adalah sains. Matematika dan fisika. Jika tidak ada sains, mustahil para manusia super itu bisa bikin mesin waktu untuk melawan Thanos. Abang lihat bedanya Ironman dengan super hero lain? Jika yang lain super karena bakat atau memang menerima kekuatan super, Ironman super karena kecerdasannya menguasai math dan science. Jadi jangan malas kalau disuruh Ibuk belajar ya…”Lanjut saya.

Begitulah sains. Di dunia nyata maupun fiksi seperti film, ia jadi faktor penentu. Sejarah menceritakan bagaimana peradaban kita pernah gelap karena keyakinan buta dan irasionalitas, menjadi terang benderang karena cahaya sains seperti yang kita nikmati sekarang.

Selamat akhir pekan!

Menjadi Tidak Adil Demi Politik, Janganlah!

Diingatkan istri karena akhir-akhir ini terlihat sangat emosional di media sosial. Saya bilang bukan urusan dukung 01 atau 02, utamanya. Beda episode dengan 2014, di mana saya bagian melekat dalam pemenangan Jokowi yang berada di panggung. Kali ini saya menikmati peran sebagai penonton saja.

Pemilu sekarang jauh lebih keterlaluan dari sebelumnya. Dulu perang propaganda lebih bersifat klandestin (terselubung, gelap, samar dan bawah tanah), yang paling mencolok adalah peredaran tabloid Obor Rakyat. Waktu itu saya ga peduli, lha wong Jokowinya juga sempat ga peduli. Baginya, fitnahan soal PKI ke dirinya dan almarhum ayahnya adalah penggugur kesalahan sang ayah.

Saat ini, permainannya menjadi terbuka lewat pernyataan, mimbar bahkan door to door. Itu pun saya ga urusan. Sudah jadi tugas tim sukses masing-masing. Mau upaya delegitimasi penyelenggara pemilu via hoaks kontainer surat suara palsu, 33 juta suara bodong sampai komisioner keturunan dan antek cina, itu urusan Arief Budiman (ketua KPU), komisioner KPU, Bawaslu dan polisi.

Continue reading

Sinetron Politik 2019 : Pola Usang dan Aktor Lawas

*Drama 7 Kontainer*

Seharusnya masih segar dalam ingatan (kecuali memang pelupa, seorang Andi Arief membuat gaduh ruang publik dengan tudingan tajam adanya 7 kontainer berisi jutaan kertas suara ilegal. Langsung komentar bersahutan silih berganti.

Ada yang menuduh ini upaya masif rezim menggelembungkan suara, Jokowi maruk kekuasaan. Yang lain menohok penyelenggara pemilu lemah dan berat sebelah, bahkan ada meme yang dibuat orang yang mungkin sedang koplo pernah saya posting, Arief Budiman Ketua KPU adalah keturunan cina dan antek asing. KPU dan Bawaslu curang, bunyi makian yang menjejali media sosial.

Polisi bergerak. Tidak ditemukan apapun. Dan media menyorongkan mic ke sang peniup peluit gaduh. Jawabannya luar biasa. Dia malah marah dituding bikin hoaks. Tenang tanpa dosa Andi Arief berkata,”saya cuma imbau untuk lakukan pengecekan!”

http://www.tribunnews.com/pilpres-2019/2019/01/03/komentar-andi-arief-setelah-unggah-kabar-7-kontainer-surat-surat-telah-dicoblos-bantah-sebar-hoax

Sebagai politisi dia sukses. Dapat atensi media dan publik. Bagus untuk elektoral. Urusan berapa banyak dosa atas prasangka buruk hingga sumpah serapah yang salah alamat, bukan soal bagi Andi Arief. Dia pun masih percaya diri akan terus diminati media massa, karena kontroversi masih jadi parameter jaminan rating dibandingkan kejujuran.

Continue reading

Renungan Tengah Malam tentang Pemilu Kita

https://tirto.id/mindanao-di-filipina-bukan-indonesia-kenapa-sulit-dipahami-df7T

Pemilu, pesta demokrasi yang membangun tatanan negara, bukan pesta sabu yang bikin seorang doktor ilmu alam, profesional paling brilian, profesor humaniora, pendidik yang gigih, filsuf, wartawan, penekun agama yang taat mendadak jadi koplo. Ya, sebagaimana orang sedang koplo. Blur realita dan bukan. Samar data dan bukan. Ga bisa membedakan trotoar jalan dengan kasur empuk!

Propaganda model Rusia (firehose of falsehood) yang sedang subur dipraktekkan di banyak negara termasuk kita ini kuncinya pada etika dan komitmen elit menjadikan pemilu kompetisi yang membangun kualitas demokrasi. Kemauan publik membangun sendiri literasi media (terutama media sosial). Keseriusan pemerintah dan penegak hukum menjaga koridor aturan.

Saya tertarik dengan ucapan Atika putri Ratna Sarumpaet bahwa,”ibunya hanya berbohong, apakah itu pidana?” Lupa dengan kegaduhan politik, tudingan curiga polisi abai pada tugas melindungi warga negara dan saling tuduh elite tertentu sebagai penganiaya nenek-nenek “Cut Nyak Dien jaman Now”. Ya Tuhan!

Yang kemudian banyak bersambut pro dan simpati atas si cantik Atika. Termasuk politisi membumbui dengan tudingan bahwa rezim tidak adil, ada kerja politik penguasa dan lain-lain yang ujungnya ketidakpercayaan pada sistem. Dan sebagaimana politisi, tudingan dilempar untuk tarik atensi konstituen, begitu diminta pembuktian selalu siap dengan setriliun alasan ngeles!

Pertanyaannya,”apakah arti kemenangan politik itu lebih penting daripada hancurnya bangunan sistem republik yang berdiri puluhan tahun menjembatani keragaman kita?” Well, kalau jawab kita lebih penting elektoral, hmm, layak kita ber-qunut nazilah lebih sering. Kita sedang berada dalam ancaman yang luar biasa : kegagalan sistem sosial.

Komunikasi itu sentral bagi sistem sosial homo sapiens. Peradaban dibangun dari literasi, bahasa yang kemudian membangun struktur sistem sosial.

Analogi sederhana adalah rayap. Rayap punya sistem komunikasi tidak sekompleks bahasa kita, tapi menggunakan kimiawi, apa yang disebut feromon. Feromon inilah pengendali koloni, siapa harus bekerja, siapa bertugas penjaga/ksatria menjaga sarang hingga urusan kawin. Ratu rayap adalah pengendali utama koloni dengan mengeluarkan feromon dasar neoten.

Sebuah eksperimen biologi pernah dilakukan dengan mengoles sebagian pekerja/prajurit dengan feromon dari koloni lain. Apa yang terjadi? Kekacauan komunikasi.

Hasilnya, saling bunuh dan runtuhnya sebuah koloni.

Kawan-kawan sejaringan media sosial,

Saya tidak peduli kalian 02 atau 01. Itu pilihan dari hak politik yang dilindungi konstitusi. Ekspresi vulgar pilihan itu di media sosial pun ga masalah, tidak melanggar undang-undang. Antusias ke TPS itu kewajiban kita sebagai warga negara, kalau perlu coblos pilihan Anda sambil misuhi (dalam hati) foto pasangan yang kalian ga suka.

Tapi saya peduli pada kewarasan kita (terutama saya sendiri). Ayo mulai dari menyaring informasi yang hadir. Menata dan memilih diksi yang baik. Beradu argumen dengan fakta yang diteliti benar. Mendinginkan hati dan meninggikan kualitas nalar sehat.

Ciganjur, 7 februari 2019