ADA HARAPAN PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL DI TAHUN 2021

Dampak pandemi Covid-19 masih menghantui dunia.Worldometer mencatat kasus infeksi virus Corona mencapai lebih dari 114 juta jiwa dan memakan korban 2,531 juta penduduk dunia. Meskipun berbagai perkembangan positif mengenai vaksin meningkatkan harapan besar mengenai titik balik dari pandemi di tahun ini, masih menyisakan kesangsian publik dunia karena meningkatkan gelombang infeksi virus dengan varian barunya. Membuat dunia digelayuti ketidakpastian dalam skala yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan satu pertanyaan yang tidak ada seorang pun dapat memprediksinya dengan tepat : kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir?

International Monetary Funds (IMF) memprediksi dunia di tahun ini akan keluar dari situasi berat kontraksi ekonomi yang mengakibatkan mayoritas negara didunia memasuki resesi. 2021 diyakini menjadi tahun “rebound” ekonomi dunia menjadi tumbuh 5,5%, dan pertumbuhan ekonomi global 4,2% diproyeksikan di tahun 2022. Angka proyeksi IMF di tahun 2021 ini merupakan revisi dengan penambahan 0,3% relatif terhadap proyeksi sebelumnya. Hal ini menandakan optimisme dunia untuk bangkit secara ekonomi, disamping harapan besar suksesnya vaksinasi pada lebih dari 70% populasi penduduk bumi agar tercapainya “herd immunity” sekaligus akhir dari pandemi.

Kontraksi ekonomi global pada tahun lalu yang diproyeksikan sebesar minus 3,5%, atau 0,9% poin lebih tinggi dari banyaknya proyeksi sebelumnya (yang mengharapkan adanya keajaiban momentum kebangkitan ekonomi dunia dan berakhirnya pandemi pada semester 2 di akhir tahun 2020), menyisakan banyak kisah memilukan dengan meningkatnya jumlah pengangguran, orang miskin bertambah dan belum lagi, dampak pada perempuan dan pendidikan anak.

Pemulihan perekonomian nasional masih berlanjut, dan terlihat berada pada jalur yang tepat. Indikator menguatkan hal ini tercermin dari pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar -2,19% (y-o-y) di Triwulan IV-2020 di mana lebih tinggi dari kinerja dua triwulan sebelumnya (masing-masing -5,32% di Triwulan II dan -3,49% di Triwulan III-2020). Sehingga membuat pertumbuhan ekonomi nasional tercatat tumbuh -2,07% di sepanjang tahun 2020.

Pelaksanaan APBN yang ekspansif dengan pertumbuhan belanja negara merupakan sinyal kuatnya komitmen pelaksanaan program pemulihan ekonomi nasional. Tercatat konsumsi pemerintah mampu tumbuh 1,8% (yoy) di Triwulan IV-2020, atau 1,9% sepanjang tahun 2020. Harapan pelaku ekonomi mengenai keberlanjutan peningkatan ekonomi terjadi di tahun 2021, dicerminkan adanya peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sebesar 51,3 di Akhir 2020, menjadi 52,2 di Januari 2021. Geliat sektor manufaktur ini diharapkan menjadi pemicu membaiknya penyerapan tenaga kerja di tanah air. Mengingat sektor manufaktur adalah salah satu sektor penyerap tenaga kerja yang memiliki kontribusi signifikan.

Sebagai salah satu sektor riil yang paling terdampak parah adalah UMKM. Berbeda dari krisis-krisis ekonomi sebelumnya, di mana UMKM menjadi sektor penopang ekonomi riil, kali ini tidak luput dari hantaman pandemi. Sebuah survei yang dilakukan oleh Asian Development Bank (ADB) per 16 September 2020, tercatat lebih dari 48,6% UMKM tanah air terpaksa tutup sementara. Menurunnya permintaan domestik sekitar 30,5% menjadi salah satu penyebab rontoknya UMKM nasional. Dan, hal ini bukan hal yang patut disepelekan pengambil kebijakan ekonomi, karena kontribusi UMKM yang luar biasa besar lebih dari 60% pada perekonomian nasional.

Dalam kesempatan mendampingi Wakil Ketua MPR RI Bidang Penyerapan Aspirasi Masyarakat dan Daerah, Ibu Lestari Moerdijat, bertatap muka dengan komunitas UMKM terbesar di tanah air, TDA (Tangan Di Atas), ada beberapa poin penting yang ditangkap dalam diskusi. Pertama, para UMKM ini membutuhkan keringanan pajak sekaligus percepatan pengurusan izin. Poin kedua ini menyangkut pada mayoritas UMKM mengubah perencanaan usaha mereka (pivot plan) demi bertahan hidup, dan banyak masuk ke industri yang berbeda dari usaha awal mereka. Dan, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam upaya membantu UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN di tahun 2020 denagn anggaran sekitar Rp114 triliun, dengan Rp1,08 triliun merupakan insentif pajak UMKM. Tentu saja, sebuah kebijakan yang harus diapresiasi karena insentif berupa relaksasi PPh Final UMKM ini ditanggung pemerintah. Dan, negara telah menempatkan kebijakan pajak sebagai instrumen strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama yang berdampak pada pelaku usaha menengah dan kecil.

Dari sisi penerimaan negara, kinerja penerimaan pajak bulan Januari 2021 berada pada level -15,32% (yoy), lebih baik dibandingkan kondisi di keseluruhan tahun 2020 lalu yakni -19,71%. Demikian juga, jika kita membandingkan dengan kinerja Triwulan IV 2020. Meski masih terkontraksi, kinerja penerimaan bulan Januari 2021 membaik dibandingkan pada bulan Desember 2020, sebesar -26,41 % (yoy), atau bila dibandingkan Triwulan IV 2020 secara keseluruhan (-25,71 persen (yoy)). Bahkan kinerja penerimaan bulanan Januari 2021 (yoy) paling baik sejak bulan Mei 2020. Meskipun belum bisa diambil menjadi kesimpulan, namun tren positif ini menjadi gambaran optimisme membaiknya sisi penerimaan negara di tahun 2021, yang semoga terus berlanjut hingga akhir 2021. Atau lebih baik dari situasi di tahun lalu, di mana realisasi pendapatan negara terkontraksi minus 4,83%. Kita boleh berharap pertumbuhan ekonomi nasional akan terjadi tahun ini, sesuai proyeksi sejumlah Lembaga dunia seperti IMF di 4,4%-4,8%.

Meneruskan implementasi kebijakan pemerintah dalam penerapan anggaran belanja negara yang tepat sasaran menjadi kunci penting pemulihan ekonomi nasional di tahun ini. Dan juga publik menaruh harapan besar pada suksesnya vaksinasi nasional, yang juga menjadi prasyarat mengakhiri pandemik ini. Bukan pekerjaan mudah, dan membutuhkan seluruh elemen bangsa untuk gotong royong dan membangun kesadaran bersama bahwa kita tidak memiliki pilihan dan waktu lagi selain bersama membantu keberhasilan vaksinasi Covid-19. Karena mustahil kita dapat pulih secara ekonomi, jika rantai penyebaran virus Corona ini belum mampu kita patahkan.

Author: Arief Adi Wibowo

Experience Business Strategist, Media Executive, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s