Politik Antara Hitungan dan Rasa

Saya berusaha menggunakan ‘rasa’ saya dalam situasi Partai Demokrat belakangan. Ini mirip situasi Pak JK dan Golkar di 2009. Secara matematika politik, JK dan Golkar berhitung berjalan dengan SBY dan Demokrat di periode kedua. Tapi realita politik bicara berbeda, pada saat injury time, Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan berbeda : sosok cawapres dari profesional/netral. Sang Jenderal berhitung Demokrat dan dirinya tidak butuh siapa-siapa, daya tawat politik memang tidak tertandingi saat itu.

Bisa dipastikan JK dan Golkar limbung benar saat itu. Saya beruntung, Allah kasih kesempatan, bisa merekam situasi itu dari jarak sangat dekat. Pada suatu jum’at, diajak Abang senior saya (yang kemudian menjadi tokoh kunci dari tim pemenangan JK), bersama seorang penghubung bertemu Pak Wapres di istananya, di ruang kerja pribadinya. Beliau sendiri ditemani Pak Aksa dan seorang tokoh pers.

Di situ saya sadar jam terbang itu penting. Saya cuma anak kecil yang tidak paham sama sekali tata krama politik. Mulut jawa timuran saya terlalu polos untuk berkata pada Sang Wapres,”Tapi proyeksi matematiknya, Bapak dan Golkar ga mungkin menang.” Hampir saja diinjak kaki saya oleh Bang Senior. Dan saat itu saya ga paham kesalahan saya, wong faktanya elektabilitas sosok Pak JK untuk capres di bawah 2%, dan trend Golkar negatif di bawah 10%.

Mungkin Pak JK lupa momen ini sekarang, tapi bagi saya tidak pernah terlupakan. Senyum di bawah kumis beliau mengembang, berusaha tenang tapi entah sok tahu atau beneran, yang saya tangkap sebaliknya. Orang nomer dua di republik ini sedang cemas. Pasti manuver last minute dari SBY dan Demokrat, benar-benar di luar perhitungannya atau minimal bukan skenario utama beliau.

Tidak lama, beliau bangkit dari kursinya dan corat coret di papan tulis : kalkulasi politik Pak JK. “Saya harus maju sebagai capres, Partai Golkar harus melakukan repositioning. Ini soal harga diri dan marwah partai.” Ucapan Pak JK dalam dan sarat makna yang kemudian baru saya pahami sepanjang proses kontenstasi berlangsung. Pelajaran politik yang penting dalam perjalanan hidup saya. Mulai dari ruang kerja Pak JK itulah saya melihat langsung betapa politik itu bisa ruwet bisa sebaliknya, bisa mulia dan bisa kotor. Ada pertunjukan pengkhianatan dan loyalitas, kecerdikan dan keculasan dan sebagainya.

Dalam lini waktu now, terbukti kalau positioning politik JK benar. “Lebih cepat lebih baik” seperti menjadi jembatan masa depan untuk turnaround Golkar, dan sosok JK kembali ke panggung utama kepemimpinan nasional di 2014.

Saya coba menerka-nerka, situasi ini sepertinya yang memayungi langit-langit Mega Kuningan, kediaman Pak SBY. Pertemuan ketua parpol koalisi pendukung Jokowi tanggal 23 Juli 2018, pastilah mengganggu ‘rasa’ sosok ketum Demokrat.

Pasal hasil pertemuan koalisi Jokowi bahwa partai tak happy ending hanya bisa masuk koalisi dengan pemufakatan semua ketua parpol pasti menyiratkan batu sandungan besar bagi Demokrat. Setidaknya Golkar dan PDIP langsung merespon hasil pertemuan dengan statement tidak ‘membuat nyaman’ Mega Kuningan.

Betapa tidak, dari lini masa peristiwa, komunikasi politik sudah dilakukan intensif oleh Pak SBY dan Partainya, mulai dari mengutus sang putra mahkota hingga dirinya sendiri menjumpai sang Presiden. Pastilah bukan tanpa perhitungan politik. Pak SBY adalah salah satu politisi terbaik di republik ini dengan kemampuan menghitung masa depan secara cermat. Bahwa Jokowi terbukti mampu melewati hadangan badai politik yang diciptakan oposisi dengan selamat. Elektabilitasnya tidak tertandingi oleh pesaing terdekat sekalipun. Merapat ke kekuasan tentu saja adalah sebuah opsi.

Peristiwa makan malam Jokowi dan ketua parpol pendukungnya pastilah mengganggu kalkulasi itu.

Rasa itu terusik…

Meskipun masih jauh dari menjadi sebuah realita politik untuk menjadi satu platform koalisi politik, pertemuan marathon SBY dengan Prabowo, PKS, PAN. Tapi bisa dilihat sebagai langkah politik penting dalam bingkai aksi-reaksi politik. Sebuah jawaban Demokrat dalam membuka opsi lain di 2019.

Hikmah Piala Dunia 2018

Membaca laporan rutin teman-teman programming bikin sumringah. Trans TV kembali menapaki tangga papan teratas dalam kompetisi. Selamat almamater saya tercinta atas pencapaian ini.

(Dikarenakan ada peraturan larangan sharing data kepemirsaan di media lain tanpa seizin Nielsen jadi tidak kami sampaikan data detil kecuali, channel share Trans TV yang melejit di level 17% meninggalkan kompetitor lainnya).

Pendapat pribadi, momentum ini bukan cuma bisnis tapi multi dimensi.

Di mana konten Piala Dunia bisa menjadi tenda besar yang menarik perhatian seluruh pemirsa di republik ini, atau keleluasaan melakukan cross programming lintas platform sehingga menguntungkan platform tv berbayar Transvision yang juga di bawah bendera Transmedia. Atau untuk Trans TV sendiri ini kesempatan melakukan berbagai manuver programming seperti hammocking dalam upaya memperkenalkan program baru pasca Piala Dunia.

Atau bisnis retail di bawah bendera Trans Retail dan F&B menikmati keuntungan dari lonjakan traffic pengunjung yang ingin menikmati nobar sekalian borong belanja bulanan, dan anak-anak menunggu sambil main games.

Keberanian Pak Chairul Tanjung melakukan akuisisi lisensi Piala Dunia yang super mahal ini juga punya dampak sosial bahkan politik. Konten menghibur ini membuat kubu-kubu yang terkotak karena pilihan politik kembali bersatu dalam seragam tim kesayangan masing-masing.

Ada warna baru dalam percakapan di media sosial. Dari warna buram sehari-hari, di mana urusan jalan tol aja publik gontok-gontokan antara klakson ganti presiden atau jangan lewat ini tol Jokowi. Publik jadi punya hiburan baru melihat aksi Ronaldo. Lepas sejenak dari pertarungan Cebong atau Kampret, tapi saling olok soal penampilan buruk Messi. Atau ikut teriak seperti orang kesakitan saat melihat Neymar dihajar pemain lawan, padahal dia bukan saudara apalagi seakidah.

Rangkulan sejenak dalam seragam tim Spanyol di acara nobar yang diadakan oleh pentolan Projo seperti BudiArieSetiadi misalnya. Tenggelam dalam harapan bersama untuk pulihnya Mohammad Salah di pertandingan berikutnya, meski di luar itu, berbeda partai politik.

Menyatukan yang terserak. Ngopi bareng melupakan Prabowo, Jokowi atau Amien Rais. Di mana ga perlu ada sungkan memuji permainan Rusia yang dihuni sebagian pemain yang anti Tuhan, dibanding Arab Saudi yang muslim.

Bangsa ini butuh rehat, dan banyak hiburan. Terima kasih Pak CT, Transmedia, KVision, Indihome dan semua pihak yang menghadirkan tayangan ini.

Mohon doa restunya Jerman bangkit lagi, meski sampai sekarang, media dan publik negeri sendiri menghujat timnas mereka bahkan melabeli sebagai gerombolan pengecut. Bukan apa-apa, karena jika finalnya Jerman versus Portugal maka saya dan anak saya akan happy banget.

Jakarta, 19 Juni 2018.

Sepak Bola, Politik dan Indonesia

Ayah akan bercerita padamu secuil dari apa yang ayahmu ketahui tentang politik dan Indonesia ketika kamu cukup umur kelak. Tapi mirip foto ini, politik itu seni permainan. Beda obyek saja, yang satu merebut bola untuk dimainkan, yang lain merebut kekuasaan untuk dikelola.

Jauh sebelum foto ini, di periode 2014, ayahmu karena pekerjaannya, dan tokoh besar di sebelahmu, Romahurmuziy yang karena partainya berada pada barisan yang berbeda. Suatu hari, tim kami mendengar Gus Romy pimpin sendiri tim untuk mencari titik lemah capres lawan dia di Solo, kota tempat Sang Capres pernah menjabat sebelumnya. Dan kami pun memberikan respon menghadapinya.

Semua itu lumrah dalam permainan kekuasaan. Yang tidak boleh adalah berdusta, di luar itu permainan fakta untuk membentuk preferensi politik adalah sah saja. Kami bertempur dengan ‘gameplan’ masing-masing sampai hari penghakiman di kotak suara itu tiba.

Tapi pada hari itu, Sang Ketum memelukmu erat ketika ayah kenalkan sebagai anak lelaki kesayangan. Dia menyematkan doa untukmu, terasa tulus, karena ayahmu bukan dari golongan partainya. Dan sebaliknya ayah mengagumi cara Gus Romy mendidik anak perempuannya semata wayang menjadi anak Indonesia yang cerdas.

Ya, karena bagi kami, permainan itu telah usai saat diputuskannya siapa pemenang dalam kontestasi itu. Beliau kembali ke partainya, ayahmu memilih profesinya. Dan hari itu kita merayakan sepakbola bersama. Kebetulan kami sama-sama suka Jerman, tapi memilih kaos yang berbeda warnanya. Apalah arti kaos dibanding keindahan sistem bermain Die Mannschaft bukan?

Banyak pemikir besar yang menekuni teori politik di luar sana menuliskan pergulatan ini dalam beragam bingkai pendekatan. Dalam konteks politik modern bahkan dimaknai dalam bingkai liberalisme. Demokrasi harusnya memuat nilai-nilai liberty, equality dan dignity.

Tapi Indonesia kita menemukan kebijaksanaannya sendiri. Demokrasi kita bukan kebebasan mutlak tapi ia mengakar pada nilai Ketuhanan YME, menjunjung nilai keberadaban dan keadilan untuk kemanusiaan, merekatkan keragaman kita dalam satu persatuan, mengutamakan musyawarah serta bekerja keras mewujudkan kesejahteraan sosial.

Kita bersyukur atas formulasi demokrasi Indonesia yang diletakkan para Bapak pendiri negeri itu. Jika ada permainan yang sengaja atau tidak menggunakan narasi sebaliknya, maka lawanlah karena itu BUKAN Indonesia.

Tuhan, Setan dan Saya

Saya lahir dari keluarga yang kental tradisi Muhammadiyah. Bapak saya mantan ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan terakhir aktif di Majelis Tarjih Muhammadiyah. Ibu saya kader Aisyiyah. Saya pernah ikut pengkaderan IPM cabang Waru, sebelum akhirnya memutuskan mengambil jalur berbeda.

Masa remaja sangat mengidolakan Pak Amien Rais (AR). Bagi saya beliau pemberani termasuk terdepan menentang rezim Orde Baru. Waktu itu, Beliau sosok bersih bagai malaikat yang hadir di bumi. Saya ikuti kemana-mana sampai pernah lari beberapa kilometer ke lapangan tempat beliau akan pidato.

Kini, semakin menua badan ini yang mengenyam banyak ajaran para guru ini, saya memakluminya sebagai manusia biasa. Bisa salah, bisa benar. Pemakluman yang saya sematkan pada siapa saja. Mau dia presiden yang saya dukung, kyai saya, bos besar-sedang-kecil saya, bahkan orang tua yang melahirkan saya. Tugas kita cuma amar ma’ruf nahi munkar saja. Termasuk menerima jika orang lain mengoreksi kita dalam tujuan yang sama.

Pelabelan serampangan ala Profesor AR kali ini sangat keterlaluan seperti dalam berita ini. Kalau pun karena kecemburuan partai atau golongannya tidak “dimakan” dalam angka elektabilitas dan akseptabilitas, sungguh tidak serta merta melakukan ini. Menjual label “Tuhan” dan “Setan” sebagai komoditas politik untuk mengadudomba.

Sebagai warga negara, saya bersyukur dengan hadirnya kebijaksanaan Ketua PP Muhammadiyah Pak Haedar Nasir dan Sekjen Pak Mu’ti yang tak kendur optimisme-nya membangun peradaban demokrasi kita dan menjalin keutuhan NKRI. Menghadirkan nilai-nilai keutamaan akhlak mulia dalam sendi praktek politik lewat ajaran para pendiri dan kyai Muhammadiyah.

Pasti pekerjaan panjang, karena setan memang hadir di dunia ini bukan hanya di senayan untuk menggoda siapa saja anak keturunan Adam. Bisa jadi saat menulis ini saya sedang berteman dengan setan, karena sambil melirik pantat seksi pramugari yang terburu-buru berjalan ke gerbang keberangkatan. Lupa kalau hari ini harusnya ngaji lagi bab Isra Mi’raj untuk mengenang baginda Nabi. Bisa jadi!

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20180412163452-32-290379/muhammadiyah-klaim-kadernya-banyak-berafiliasi-dengan-golkar

Tips Menonton di Stadion Santiago Bernabeu

Tips Menonton di Stadion Santiago Bernabeu

Bagi para penggemar sepakbola, nama Santiago Bernabeu pasti akrab terdengar. Ya, stadion ini milik sang Raja Eropa dengan 12 gelar, Real Madrid. Stadion ini tergolong berukuran raksasa di eropa dengan berkapasitas lebih dari 80 ribu tempat duduk. Di saat-saat pertandingan besar, seperti El Classico yang mempertemukan Madrid dengan Barcelona, atau derbi kota Madrid versus Atletico, serta babak gugur liga Champion sudah dipastikan stadion ini akan full house atau penuh terisi dan tentunya harga tiket yang melambung.

Satu-satunya tips untuk mendapatkan harga lebih terjangkau adalah merencanakan jauh-jauh rencana menonton kemari. Anda bisa membeli di tiket on-line yang kredibel. Dan saya serta anak saya beruntung waktu itu mendapatkan tiket relatif murah dari footballticketnet.com dengan mengganti tiket terusan sepasang keluarga madridista yang tidak jadi menggunakan tiket mereka.

Sebelum Anda tiba di stadion Santiago Bernabeu ada baiknya anda mengenali posisi gate (pintu masuk) Anda. Hal ini penting mengingat stadion raksasa ini memiliki begitu banyak pintu masuk, dan jarak antar sisi stadion akan menguras waktu dan tenaga jika anda harus mengitarinya. Anda bisa mempelajari struktur bangunan stadion ini di website resmi madrid di : http://www.realmadrid.com. Seperti yang Anda lihat di bawah ini.

20180303_170118

Peta stadion Santiago Berneabeu

Penjagaan di area stadion ini cukup ketat, petugas keamanan berada di pintu masuk dengan perangkat metal detector akan mengecek dengan teliti setiap penonton yang akan masuk. Benda seperti kayu, botol kaca, atau benda tajam pasti akan disita sebelum Anda masuk gerbang stadion. Problem dari saya saat membawa tiket terusan yang bukan atas nama saya adalah ditolak masuk oleh petugas sesuai peraturan tertulis mereka. Tips sederhana adalah masukkan tiket itu di dompet Anda dan cukup tempelkan dompet (tanpa mengeluarkan tiketnya) sehingga luput dari perhatian petugas. Bagaimana jika apes? maka berikan jawaban sederhana : bahwa Anda diberi tiket oleh kolega Anda di madrid sesuai dengan nama yang tertera di kartu tersebut.

Continue reading