Mitos Peramal Tahu Segalanya Bernama Big Data dalam Pilkada DKI Jakarta

Menjelang hari pencoblosan dalam Pilkada DKI Jakarta, berbagai survei berbasis wawancara lapangan hingga yang berbasis big data analytics bertebaran di berbagai media, baik cetak – tv hingga digital. Masing-masing menebar klaim terunggul dalam menampilkan elektabilitas tiap paslon dengan beragam tujuan yang seringkali tidak murni sciencetific.

Artikel ini secara khusus akan membahas seperti apakah big data analytics dan bagaimana tools ini bekerja dalam riset politik. Saya coba sharing berdasarkan pengalaman akademik dan professional saat membangun data journalism berbasis big data analytics di Media Group sejak 2012.

Perkembangan teknologi informasi yang luar biasa mengubah pola komunikasi yang tadinya satu arah dalam internet 1.0 menjadi memiliki pola komunikasi yang kompleks karena imbuhan kapabilitas untuk sharing (berbagi) dan shout (berkomentar). Di dalam awan internet banyak data penting berserak yang demikian penting dan dapat ditarik dengan mudah dengan crawling system dan dicacah untuk diolah menjadi informasi yang kita inginkan dengan bantuan algoritma tertentu. Untuk menghindari tulisan ini menjadi sangat teknikal computer science, maka penulis coba sederhanakan dengan bahasa awam.

Crawling adalah teknik komputasi untuk menarik data baik berupa data yang tidak terstruktur maupun terstruktur. Bagian paling rumit dari penarikan data dalam Big Data adalah membedakan antara data sampah dengan bukan sampah. Seperti membedakan percakapan dari akun personal yang riel ataukah akun bot yang palsu. Kelebihan dari big data analytic adalah kemampuannya menangkap data secara cepat dan nyaris real time, dibandingkan survei berbasis wawancara yang membutuhkan waktu lebih lama mulai dari rekrutmen pewawancara hingga pengolahan akhir.

Continue reading

JARINGAN : KOMUNIKASI SOSIAL DAN MEDIA BARU

social-media

Abad 21 sering disebut sebagai abad masyarakat jaringan. Perkembangan masyarakat jaringan ditandai dengan pengaruh teknologi komunikasi dan informasi yang memungkinkan pertukaran data dan informasi dalam level tinggi. Dua revolusi komunikasi dalam sejarah media melatarbelakangi perkembangan masyarakat jaringan. Revolusi komunikasi struktural, membawa perubahan fundamental terhadap ruang dan waktu. Media memungkinkan komunikasi antara dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan, dengan kata lain memungkinkan manusia untuk menciptakan jembatan waktu.

Berikutnya adalah revolusi komunikasi teknikal, yang membawa perubahan fundamental dalam struktur koneksi, memori buatan atau kemampuan dalam mereproduksi konten. Karakteristik dari revolusi komunikasi teknikal ini terletak pada dikenalnya memori buatan digital, transmisi digital dan reproduksi konten. Istilah lain dari fenomena ini adalah revolusi digital. Media baru muncul sebagai akibat dari dampak dari revolusi digital di mana integrasi telekomunikasi, komunikasi data dan komunikasi massa terjadi dalam satu medium.

Masyarakat jaringan sendiri merupakan formasi sosial yang dibentuk oleh infrastruktur jaringan sosial, jaringan teknikal dan jaringan media. Di masyarakat yang individualis, seperti barat, individu merupakan unit terkecil yang dihubungkan oleh jaringan-jaringan dalam masyarakat. Atau untuk masyarakat timur, unit terkecil masih dalam grup berupa keluarga maupun komunitas.

Jaringan sosial sendiri telah ada sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Sebagai individu, manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sesamanya sejak manusia hidup dalam kelompok maupun suku-suku. Dengan skala anggota kelompok yang kecil ini, secara intensif, manusia masih bisa saling berkomunikasi untuk bertukar informasi dan barang. Era ini dikenal dengan worldwide web generasi pertama.

Continue reading

GEBYAR-GEBYAR BISNIS LAYAR KACA

WAWANCARA DENGAN SWA MARET 2017 :

GEBYAR-GEBYAR BISNIS LAYAR KACA

(Baca selengkapnya SWA Edisi 7 ini. Ada banyak perspektif dari para CEO papan atas di industri televise soal maneuver perusahaan mereka untuk mengantisipasi perubahan dan tantangan)

Bagaimana sebenarnya arah industri televisi kita? Kian cerah, atau mendung? Mengapa?

Bicara soal arah industri televisi, kalau menurut kami, bicara soal bagaimana besaran ADEX dan distribusinya, dan bicara soal pergeseran pola konsumsi audience serta tidak lepas dari trend teknologi itu sendiri.Membaca ADEX tidak pernah bisa dilepaskan dari membaca secara umum kondisi perekonomian makro nasional dan global. Pertumbuhan ekonomi memang menunjukkan tanda-tanda perlambatan sejak 2012. Situasi mulai memburuk dari hancurnya harga komoditas dan melambatnya mesin pertumbuhan ekonomi dunia utamanya Cina. Imbasnya secara nasional, pertumbuhan melemah bahkan menyentuh level 4.8% di 2015.Hitungan sederhananya, jika pertumbuhan melemah maka daya beli rumah tangga secara umum akan turun. Snowball effectnya, sales dari advertiser akan terkena dampaknya. Hal yang menyebabkan terjadi penyesuaian terhadap nilai belanja iklan yang otomatis akan turun. Ujung dari semua ini adalah anjloknya pendapatan industri media. Tanda-tanda inilah yang membuat di periode 2015-2016 para pelaku bisnis media melakukan perombakan struktur biaya, mengencangkan ikat pinggang.  Dari kondisi badai yang suram, mungkin sekarang beralih ke berawan tapi relative mendung.

Mengapa mendung? Karena tingkat ketidakpastian masih terlalu tinggi. Kita masih menunggu kapan mesin-mesin pertumbuhan utama dunia seperti Cina,AS, Jepang dan Eropa akan membaik sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi secara global. Kita masih belum bisa memastikan kapan daya beli nasional akan kembali pulih.

Jika melihat data pertumbuhan Adex, memang terlihat terjadi peningkatan 14% dibandingkan 2015, dan televisi masih berkontribusi lebih dari 75% seperti data Nielsen di bawah ini. Tapi selalu ada disclaimer dari data Adex ini, yaitu data ini hanya bicara soal angka kotor dari adspend, dan tidak menghitung faktor-faktor seperti discount, bonus dan lainnya. Kalau menurut hitungan kami secara real, 2016 sedikit tumbuh namun tidak jauh dari 2015. Artinya masa sulit 2014-2015 bolehlah secara optimis kita sebut berangsur mulai membaik.

Continue reading

Industri TV Indonesia di Persimpangan Jalan

Autor : Tiffany Diahnisa (SWA Magazine)

Link : SWA Magazine Maret 2017

Bisnis televisi adalah bisnis mahal. Siklus investasi sangat pendek, karena teknologi cepat usang dan berganti. Resiko program gagal moncer secara komersial juga besar. Belum lagi kalau dilihat dalam konteks pasar sumber daya manusianya.

Menurut Arief Adi Wibowo, Media Executive & Business Strategic Chief Trans Corporation, industri televisi sedang pada persimpangan jalannya. Pada cross-section antara padatnya kompetisi (cluttering media), pola konsumsi media yang berubah di sisi audience, dan arah perkembangan teknologi itu sendiri. Sebagai pelaku bisnis televisi, tanda apapun yang dibaca dari siklus bisnis harus disikapi dengan optimistik. Kenaikan iklan hanya satu indikator. Indikator yang perlu selalu dijaga adalah kemampuan menjaga operating cost pada level aman, tanpa mematikan revenue stream.

KEPEMIRSAAN TELEVISI

Ada beberapa aspek yang menentukan kesuksesan sebuah stasiun. Tidak melulu konten, termasuk aspek teknis jangkauan (coverage) transmisi dari stasiun itu sendiri. Tapi jika disederhanakan, ada 3 hal. Pertama, soal preferensi pemirsa yang dibangun oleh branding dan positioning yang kuat secara konsisten sejak lama. “Sebagai contoh, hal ini yang dilakukan oleh RCTI adalah market pioneer dalam industri televisi Free to Air (FTA) atau fenomena ANTV ini kejelian strategi programming dalam mengakuisisi program asing,” tambahnya.

Continue reading

SHARING-LAH DARI SEKARANG !

Satu permasalahan yang paling sering saya hadapi setiap kali membantu organisasi membangun budaya sharing adalah pada keengganan manusia dalam organisasi untuk sharing pengetahuan yang mereka miliki kepada orang lain. Ada bermacam alasan dibalik keengganan ini. Orang cenderung menolak sharing karena mereka menganggap pengetahuan itu keunikan mereka, mereka takut ketika orang lain menguasai pengetahuan unik itu menyebabkan mereka kehilangan keunikan. Orang cenderung takut sharing dikarenakan mereka anggap pengetahuan yang dimiliki adalah sebuah modal untuk posisi tawar yang baik terhadap perusahaan, misalnya terkait dengan keistimewaan dalam renumerasi.

Celakanya, kebanyakan organisasi menganggap bahwa kemandekan sharing tidak berakibat banyak pada kinerja, apalagi ketika di saat itu organisasi berada pada top performance. Fakta menunjukkan, biasanya organisasi tersadar bahwa kemandekan sharing adalah fatal ketika mereka mulai mandek dalam performa. Atau, ketika orang kunci yang menguasai pengetahuan penting ini pergi atau pensiun. Dan, ketika organisasi mengalami kebuntuan total dalam berinovasi sehingga diserobot posisinya di pasar oleh pesaing. Ternyata, sharing adalah proses yang begitu penting di era ekonomi pengetahuan ini. Suatu era di mana pengetahuan memenangkan segalanya.

Dalam pembuka artikel ini, Anda langsung bisa memahami bahwa sharing adalah soal hati, dengan kata lain, keinginan manusia. Atau, masalah budaya apabila kita berbicara dalam scope organisasi. Bukan pada canggihnya KM Portal atau teknologi yang Anda pasang dalam organisasi. Jadi pahamilah alasan dibalik mengapa orang enggan sharing, lalu berangkat-lah dari sana untuk memulai membangun budaya sharing.

Bangunkan kesadaran manusia dalam organisasi bahwa sharing itu mereka butuhkan. Singkirkan ketakutan bahwa pengetahuan adalah keunikan mereka dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana era ekonomi pengetahuan bekerja.

Ciri utama era ekonomi pengetahuan ini adalah kecepatan luar biasa dalam penciptaan dan akses terhadap pengetahuan baru. Siapa pun akan dengan mudah mengakses pengetahuan dari manapun dan kapanpun. Jadi, mengunci pengetahuan untuk diri sendiri menjadi sebuah kesia-siaan.

Continue reading