Sinetron Politik 2019 : Pola Usang dan Aktor Lawas

*Drama 7 Kontainer* Seharusnya masih segar dalam ingatan (kecuali memang pelupa, seorang Andi Arief membuat gaduh ruang publik dengan tudingan tajam adanya 7 kontainer berisi jutaan kertas suara ilegal. Langsung komentar bersahutan silih berganti. Ada yang menuduh ini upaya masif rezim menggelembungkan suara, Jokowi maruk kekuasaan. Yang lain menohok penyelenggara pemilu lemah dan berat sebelah,… Read More

Politik Berke-TUHAN-an

*Renungan Jum’at* Tahun politik ini menarik saya untuk memperdalam banyak hal terkait ilmu komunikasi. Mulai dari teknik propaganda yang digunakan masing-masing tim paslon pilpres, sampai konten kampanye tiap partai. Beberapa waktu terakhir, salah satu partai yang saya beruntung melihat dekat “ramuan komunikasi”nya adalah Partai Nasdem. Nasionalis religius dimaknai dengan komitmen Nasdem merawat konsensus kebangsaan NKRI,… Read More

Renungan Tengah Malam tentang Pemilu Kita

https://tirto.id/mindanao-di-filipina-bukan-indonesia-kenapa-sulit-dipahami-df7T Pemilu, pesta demokrasi yang membangun tatanan negara, bukan pesta sabu yang bikin seorang doktor ilmu alam, profesional paling brilian, profesor humaniora, pendidik yang gigih, filsuf, wartawan, penekun agama yang taat mendadak jadi koplo. Ya, sebagaimana orang sedang koplo. Blur realita dan bukan. Samar data dan bukan. Ga bisa membedakan trotoar jalan dengan kasur empuk!… Read More

Firehose of Falsehood

Model propaganda ini sering juga disebut model propaganda Rusia. Namanya mencuat sejak 2016 dan menjadi bahan diskusi ilmiah di forum-forum peneliti komunikasi. Rekayasa komunikasi dengan meluapkan frekuensi informasi yang dikemas via media sosial utamanya terus menerus terhadap isu tertentu, mengaburkan obyektifitas dan kepercayaan pada kebenaran data serta tebaran kekhawatiran dan sentimen ketakutan. Saya pernah menawarkan… Read More

Politik Antara Hitungan dan Rasa

Saya berusaha menggunakan ‘rasa’ saya dalam situasi Partai Demokrat belakangan. Ini mirip situasi Pak JK dan Golkar di 2009. Secara matematika politik, JK dan Golkar berhitung berjalan dengan SBY dan Demokrat di periode kedua. Tapi realita politik bicara berbeda, pada saat injury time, Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan berbeda : sosok cawapres dari profesional/netral. Sang Jenderal… Read More