Menjadi Tidak Adil Demi Politik, Janganlah!

Diingatkan istri karena akhir-akhir ini terlihat sangat emosional di media sosial. Saya bilang bukan urusan dukung 01 atau 02, utamanya. Beda episode dengan 2014, di mana saya bagian melekat dalam pemenangan Jokowi yang berada di panggung. Kali ini saya menikmati peran sebagai penonton saja.

Pemilu sekarang jauh lebih keterlaluan dari sebelumnya. Dulu perang propaganda lebih bersifat klandestin (terselubung, gelap, samar dan bawah tanah), yang paling mencolok adalah peredaran tabloid Obor Rakyat. Waktu itu saya ga peduli, lha wong Jokowinya juga sempat ga peduli. Baginya, fitnahan soal PKI ke dirinya dan almarhum ayahnya adalah penggugur kesalahan sang ayah.

Saat ini, permainannya menjadi terbuka lewat pernyataan, mimbar bahkan door to door. Itu pun saya ga urusan. Sudah jadi tugas tim sukses masing-masing. Mau upaya delegitimasi penyelenggara pemilu via hoaks kontainer surat suara palsu, 33 juta suara bodong sampai komisioner keturunan dan antek cina, itu urusan Arief Budiman (ketua KPU), komisioner KPU, Bawaslu dan polisi.

Continue reading