Cara Cepat Memulai Knowledge Mapping

Sejujurnya, agak sulit di saat saya memulai menulis judul artikel ini. Dalam salah satu value yang kami yakini di KM Plus, tidak ada short-cut dalam melakukan inisiatif knowledge management (KM), bahkan tidak ada magic tools yang cocok untuk setiap organisasi. Mengapa demikian? Kami meyakini KM sangat kontekstual, di mana tiap organisasi memiliki keunikan dalam manusia (people) – proses (process) – konten (content) – dan teknologi (technology), disamping itu, tentu saja tidak ada cara mudah untuk menjadi sukses dalam bentuk apapun. Itu sebabnya, artikel ini hanya bekerja untuk memberikan pemahaman cepat mengenai knowledge mapping (K-Map) berdasarkan pengalaman dalam melakukan konsultasi dengan beberapa klien multinasional.

BCA Knowledge Mapping

Konsultasi Knowledge Mapping bersama BCA

Mari kita mulai pemahaman kita dari definisi K-Map itu sendiri. Di antara begitu banyak definisi mengenai K-Map, KM Plus lebih cenderung pada definisi : K-Map merupakan proses di mana organisasi dapat mengidentifikasi dan melakukan kategorisasi aset pengetahuan dalam organisasi mereka, menyangkut manusia-proses-konten dan teknologi. Ada dua pertanyaan dari definisi ini : mengapa K-Map merupakan sebuah proses? dan, mengapa organisasi membutuhkannya?

Jawaban singkatnya adalah pada analogi peta Jakarta atau lokasi tempat Anda berada. Sebuah peta haruslah merupakan dokumen hidup, karena ruang dan waktunya akan bergerak dan berkembang berdasarkan dinamika yang ada. Dan mengapa dibutuhkan? Seperti halnya peta lain, K-Map akan memberikan pemahaman terhadap pengetahuan kritis yang penting dalam menunjang bisnis Anda, dan bagaimana memberikan perlakuan atas kesenjangan (gap) yang ada dan (mungkin)akan ada di masa mendatang. Dari definisi ini, marilah kita bergerak dalam tahap-tahap membangun K-Map :

Continue reading

JARINGAN : KOMUNIKASI SOSIAL DAN MEDIA BARU

social-media

Abad 21 sering disebut sebagai abad masyarakat jaringan. Perkembangan masyarakat jaringan ditandai dengan pengaruh teknologi komunikasi dan informasi yang memungkinkan pertukaran data dan informasi dalam level tinggi. Dua revolusi komunikasi dalam sejarah media melatarbelakangi perkembangan masyarakat jaringan. Revolusi komunikasi struktural, membawa perubahan fundamental terhadap ruang dan waktu. Media memungkinkan komunikasi antara dua tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan, dengan kata lain memungkinkan manusia untuk menciptakan jembatan waktu.

Berikutnya adalah revolusi komunikasi teknikal, yang membawa perubahan fundamental dalam struktur koneksi, memori buatan atau kemampuan dalam mereproduksi konten. Karakteristik dari revolusi komunikasi teknikal ini terletak pada dikenalnya memori buatan digital, transmisi digital dan reproduksi konten. Istilah lain dari fenomena ini adalah revolusi digital. Media baru muncul sebagai akibat dari dampak dari revolusi digital di mana integrasi telekomunikasi, komunikasi data dan komunikasi massa terjadi dalam satu medium.

Masyarakat jaringan sendiri merupakan formasi sosial yang dibentuk oleh infrastruktur jaringan sosial, jaringan teknikal dan jaringan media. Di masyarakat yang individualis, seperti barat, individu merupakan unit terkecil yang dihubungkan oleh jaringan-jaringan dalam masyarakat. Atau untuk masyarakat timur, unit terkecil masih dalam grup berupa keluarga maupun komunitas.

Jaringan sosial sendiri telah ada sepanjang peradaban manusia itu sendiri. Sebagai individu, manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan sesamanya sejak manusia hidup dalam kelompok maupun suku-suku. Dengan skala anggota kelompok yang kecil ini, secara intensif, manusia masih bisa saling berkomunikasi untuk bertukar informasi dan barang. Era ini dikenal dengan worldwide web generasi pertama.

Continue reading

SHARING-LAH DARI SEKARANG !

Satu permasalahan yang paling sering saya hadapi setiap kali membantu organisasi membangun budaya sharing adalah pada keengganan manusia dalam organisasi untuk sharing pengetahuan yang mereka miliki kepada orang lain. Ada bermacam alasan dibalik keengganan ini. Orang cenderung menolak sharing karena mereka menganggap pengetahuan itu keunikan mereka, mereka takut ketika orang lain menguasai pengetahuan unik itu menyebabkan mereka kehilangan keunikan. Orang cenderung takut sharing dikarenakan mereka anggap pengetahuan yang dimiliki adalah sebuah modal untuk posisi tawar yang baik terhadap perusahaan, misalnya terkait dengan keistimewaan dalam renumerasi.

Celakanya, kebanyakan organisasi menganggap bahwa kemandekan sharing tidak berakibat banyak pada kinerja, apalagi ketika di saat itu organisasi berada pada top performance. Fakta menunjukkan, biasanya organisasi tersadar bahwa kemandekan sharing adalah fatal ketika mereka mulai mandek dalam performa. Atau, ketika orang kunci yang menguasai pengetahuan penting ini pergi atau pensiun. Dan, ketika organisasi mengalami kebuntuan total dalam berinovasi sehingga diserobot posisinya di pasar oleh pesaing. Ternyata, sharing adalah proses yang begitu penting di era ekonomi pengetahuan ini. Suatu era di mana pengetahuan memenangkan segalanya.

Dalam pembuka artikel ini, Anda langsung bisa memahami bahwa sharing adalah soal hati, dengan kata lain, keinginan manusia. Atau, masalah budaya apabila kita berbicara dalam scope organisasi. Bukan pada canggihnya KM Portal atau teknologi yang Anda pasang dalam organisasi. Jadi pahamilah alasan dibalik mengapa orang enggan sharing, lalu berangkat-lah dari sana untuk memulai membangun budaya sharing.

Bangunkan kesadaran manusia dalam organisasi bahwa sharing itu mereka butuhkan. Singkirkan ketakutan bahwa pengetahuan adalah keunikan mereka dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana era ekonomi pengetahuan bekerja.

Ciri utama era ekonomi pengetahuan ini adalah kecepatan luar biasa dalam penciptaan dan akses terhadap pengetahuan baru. Siapa pun akan dengan mudah mengakses pengetahuan dari manapun dan kapanpun. Jadi, mengunci pengetahuan untuk diri sendiri menjadi sebuah kesia-siaan.

Continue reading

Meredefinisi Model Bisnis TV Berita (Kasus CNN Indonesia)

​Dengan latar belakang karir di industri penyiaran khususnya bisnis pemberitaan, 2015 adalah awal dari sebuah perjalanan professional untuk meredefinisi tv berita. Lewat TVOne, pengalaman penting dalam Lativi menjadi stasiun berita FTA bernama TVOne (baca juga : Strategi Transformasi dan Repositioning Lativi menjadi TVOne). Dilanjutkan, pengalaman langka me-rejuvenate stasiun berita pioneer di industri media Indonesia dan proses turnaround dari stagnasi dari sisi pendapatan dan kepemirsaan (baca : Mempersiapkan Masa Depan Media Berita (Studi Kasus Metro TV). Kini perjalanan berlanjut, meredefinisi model bisnis TV Berita itu sendiri di lingkungan konglomerasi Transmedia.

Transmedia adalah konglomerasi media yang mapan. Memiliki 2 FTA general entertainment yang punya basis pemirsa kuat, di samping sebuah portal berita piooner dan terbesar di Indonesia bernama Detik.com. Dalam beberapa tahun belakangan, juga mulai mengembangkan platform tv berbayar dengan melakukan akuisisi mayoritas saham Telkomvision, yang kemudian berubah menjadi Transvision. Berkembangnya kelas menengah dalam postur demografi Indonesia membuat tumbuhnya permintaan terhadap konsumsi berita. Data Nielsen menunjukkan trend yang stabil dari pertumbuhan ini sejak 2012 dan mencapai puncaknya di tahun politik 2014 lalu. Sebagai konglomerasi besar, langkah memiliki media pemberitaan dalam portofolionya adalah sebuah keniscayaan industri.

Platform : Dilema Masa Transisi Analog ke Digital

Dapat dikatakan jika masa-masa seperti sekarang adalah masa paling menyebalkan dalam bisnis media penyiaran. Apalagi bila bukan tarik ulur transisi analog ke digital, ketidakjelasan kapan cut-off analog ke digital sudah barang pasti menaikkan ketidakpastian dalam bisnis itu sendiri.

Continue reading

Mempersiapkan Masa Depan Media Berita (Studi Kasus Metro TV)

Mempersiapkan Masa Depan Media Berita (Studi Kasus Metro TV)

Mulai dari awal karir broadcast sampai akhir 2011, saya mengamati perubahan trend media televisi. Di periode 2005, tanda-tanda penurunan total rating poin mulai terjadi bahkan di zona utama primetime sekalipun. Nielsen Indonesia baru mulai mempublikasikan di periode 2010-an namun dengan embel-embel konsumsi tv per jam malah naik.

2012, Berbekal proyeksi kepemirsaan dan pengalaman di dua lingkungan programming (baik TV general entertainment Transmedia maupun TV berita TVone), ramalan di depan BOD Metro TV bahwa titik terendah deklinasi media konsumsi TV  Berita akan terjadi di periode 2015.

Proposal untuk Metro TV sekaligus hipotesis dalam menghadapi perubahan lanskap itu bernama “Content & Knowledge Management”. Fenomena perubahan industri ini menuntut 3 hal. Pertama, perubahan kultur. Kedua, perubahan model bisnis. Ketiga, perubahan pengukuran. Kita mulai satu per satu.

Perubahan Kultur

Terinspirasi oleh Henry Jenkins dalam bukunya, Convergence Culture (2006). Antisipasi paling awal dari perubahan ini terletak pada kultur. Benturan konvergensi mengakibatkan “blur”-nya medium. Implikasi paling nyata adalah tuntutan akan mindset dan skillset para pekerjanya.

Continue reading