Cara Cepat Memulai Knowledge Mapping

Sejujurnya, agak sulit di saat saya memulai menulis judul artikel ini. Dalam salah satu value yang kami yakini di KM Plus, tidak ada short-cut dalam melakukan inisiatif knowledge management (KM), bahkan tidak ada magic tools yang cocok untuk setiap organisasi. Mengapa demikian? Kami meyakini KM sangat kontekstual, di mana tiap organisasi memiliki keunikan dalam manusia (people) – proses (process) – konten (content) – dan teknologi (technology), disamping itu, tentu saja tidak ada cara mudah untuk menjadi sukses dalam bentuk apapun. Itu sebabnya, artikel ini hanya bekerja untuk memberikan pemahaman cepat mengenai knowledge mapping (K-Map) berdasarkan pengalaman dalam melakukan konsultasi dengan beberapa klien multinasional.

BCA Knowledge Mapping

Konsultasi Knowledge Mapping bersama BCA

Mari kita mulai pemahaman kita dari definisi K-Map itu sendiri. Di antara begitu banyak definisi mengenai K-Map, KM Plus lebih cenderung pada definisi : K-Map merupakan proses di mana organisasi dapat mengidentifikasi dan melakukan kategorisasi aset pengetahuan dalam organisasi mereka, menyangkut manusia-proses-konten dan teknologi. Ada dua pertanyaan dari definisi ini : mengapa K-Map merupakan sebuah proses? dan, mengapa organisasi membutuhkannya?

Jawaban singkatnya adalah pada analogi peta Jakarta atau lokasi tempat Anda berada. Sebuah peta haruslah merupakan dokumen hidup, karena ruang dan waktunya akan bergerak dan berkembang berdasarkan dinamika yang ada. Dan mengapa dibutuhkan? Seperti halnya peta lain, K-Map akan memberikan pemahaman terhadap pengetahuan kritis yang penting dalam menunjang bisnis Anda, dan bagaimana memberikan perlakuan atas kesenjangan (gap) yang ada dan (mungkin)akan ada di masa mendatang. Dari definisi ini, marilah kita bergerak dalam tahap-tahap membangun K-Map :

Continue reading

SHARING-LAH DARI SEKARANG !

Satu permasalahan yang paling sering saya hadapi setiap kali membantu organisasi membangun budaya sharing adalah pada keengganan manusia dalam organisasi untuk sharing pengetahuan yang mereka miliki kepada orang lain. Ada bermacam alasan dibalik keengganan ini. Orang cenderung menolak sharing karena mereka menganggap pengetahuan itu keunikan mereka, mereka takut ketika orang lain menguasai pengetahuan unik itu menyebabkan mereka kehilangan keunikan. Orang cenderung takut sharing dikarenakan mereka anggap pengetahuan yang dimiliki adalah sebuah modal untuk posisi tawar yang baik terhadap perusahaan, misalnya terkait dengan keistimewaan dalam renumerasi.

Celakanya, kebanyakan organisasi menganggap bahwa kemandekan sharing tidak berakibat banyak pada kinerja, apalagi ketika di saat itu organisasi berada pada top performance. Fakta menunjukkan, biasanya organisasi tersadar bahwa kemandekan sharing adalah fatal ketika mereka mulai mandek dalam performa. Atau, ketika orang kunci yang menguasai pengetahuan penting ini pergi atau pensiun. Dan, ketika organisasi mengalami kebuntuan total dalam berinovasi sehingga diserobot posisinya di pasar oleh pesaing. Ternyata, sharing adalah proses yang begitu penting di era ekonomi pengetahuan ini. Suatu era di mana pengetahuan memenangkan segalanya.

Dalam pembuka artikel ini, Anda langsung bisa memahami bahwa sharing adalah soal hati, dengan kata lain, keinginan manusia. Atau, masalah budaya apabila kita berbicara dalam scope organisasi. Bukan pada canggihnya KM Portal atau teknologi yang Anda pasang dalam organisasi. Jadi pahamilah alasan dibalik mengapa orang enggan sharing, lalu berangkat-lah dari sana untuk memulai membangun budaya sharing.

Bangunkan kesadaran manusia dalam organisasi bahwa sharing itu mereka butuhkan. Singkirkan ketakutan bahwa pengetahuan adalah keunikan mereka dengan memberikan pemahaman tentang bagaimana era ekonomi pengetahuan bekerja.

Ciri utama era ekonomi pengetahuan ini adalah kecepatan luar biasa dalam penciptaan dan akses terhadap pengetahuan baru. Siapa pun akan dengan mudah mengakses pengetahuan dari manapun dan kapanpun. Jadi, mengunci pengetahuan untuk diri sendiri menjadi sebuah kesia-siaan.

Continue reading

Persaingan Panas: Pertamina, Shell dan Petronas

Shell kini mimiliki 13 gerai SPBU yang sebagian besar tersebar di Jakarta, dan jaringan distributor meliputi 24 agen yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. SPBU Shell didukung oleh pompa bensin modern berkecepatan tinggi; menyediakan bon tanda terima yang dicetak secara digital; dan dilengkapi sebuah minimarket. Sementara itu, Petronas yang sekarang sudah membangun lima SPBU, sampai tahun 2011 menargetkan dapat memiliki 400-an gerai SPBU di Tanah Air. SPBU itu nantinya dilengkapi dengan supermarket dan kafe untuk lebih menarik konsumen.
Pertamina tak tinggal diam. Sejumlah langkah strategis diayun untuk meningkatkan kinerja dan infrastruktur di sektor hilir perusahaan pelat merah ini, antara lain, menyerahkan operasional perniagaan dan pemasaran BBM kepada PT Pertamina Retail, anak usaha Pertamina (Persero). “Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing produk Pertamina, melalui pelayanan prima dan kelengkapan infrastruktur pendukung, dengan ditunjang SDM yang berkualitas di 28 SPBU yang dimiliki dan dioperasikan oleh Pertamina, ujar Tjandra Putra Kelana, Presdir Pertamina Retail. Hasilnya? Saat ini Pertamina mampu menjual produk BBM mencapai 98% dari target 1.116 kiloliter per hari.
Selain itu, BUMN ini pun meluncurkan program Pertamina Way, yang dirancang untuk melayani pengisian BBM secara cepat, ramah dan nyaman. Adapun program lainnya disebut Pasti Pas, yang membuktikan telah diperolehnya sertifikat quality & assurance Pasti Pas dari lembaga audit independen. Sertifikat itu diberikan kepada 7 SPBU Corporate Owned-Corporate Operate Pertamina yang memiliki kinerja memuaskan Hal ini  secara tidak langsung diharapkan dapat mendorong SPBU Distributor Owned-Distributor Operate yang berjumlah lebih dari 3.500 unit supaya meningkatkan kualitas layanannya. Terobosan lainnya, menghadirkan Bright Cafe, produk non-fuel retail dengan konsep meeting point yang memiliki target pelanggan yang mobilitasnya tinggi. Juga, ada Bright Convenience Store, yang menyediakan berbagai kebutuhan pelanggan SPBU.
Sepak terjang tiga pemain di ceruk ritel BBM ini diperkirakan kian panas. Masing-masing sudah mengeluarkan jurus-jurusnya untuk menggaet hati konsumen selain memperluas ruang gerak di pasar.“Bisa dimaklumi, karena pangsa pasar ritel BBM di Indonesia saat ini masih cukup besar. Idealnya, pasar ritel BBM Indonesia memiliki 8 ribu SPBU untuk melayani konsumen yang jumlahnya cukup besar, sedangkan saat ini baru ada sekitar 4 ribu SPBU,papar Tjandra.

Ketika Dunia Bisnis Mencari Tuhan

Ada beberapa literatur yang cukup menarik belakangan, mulai dari Megatrends 2000, Megatrends 2010, Spiritual Capital, dan terakhir Meaning,Inc. Ada sebuah benang merah yang oleh Patricia Aburdene (dalam Megatrends 2010) disebut sebagai kesadaran kapitalisme. Memperkuat argumennya, Patricia menyebut adanya gelombang tren di kalangan bisnis dengan gerakan corporate social responsibility. Beberapa kampiun bisnis seperti Intel, Motorola, Microsoft dan Bodyshop menjadi lokomotif terdepan dalam hal ini.

Lebih lanjut, Patricia mengungkap sedikitnya 63 juta konsumen dalam preferensi terhadap sebuah produk ataupun jasa memilih produsen yang memiliki nilai-nilai etika dan gaya hidup yang baik. Fakta ini memperkuat sinyal bahwa pasar sudah semakin rumit, yang memaksa produsen untuk terus berubah mulai dari product oriented menjadi value oriented. Di mana nilai-nilai etika dan moral menjadi sangat penting.

Para profesional bisnis pun mulai merasa haus dengan nilai-nilai spiritual. Keberjarakan antara jiwa dan tubuh membuat manusia jadi terasing dalam kehidupannya sendiri. Begitu juga dengan pencarian selama ini terhadap kesuksesan dan kekayaan yang ternyata tidak menyisakan sebuah akhir yang menentramkan jiwa. Dengan berbagai cara para profesional pun mulai mencari makna hidup di kehidupan karir mereka. Tempat kerja juga tidak terlepas dari pencarian makna hidup ini. Semua kisah ini ditulis dengan apik oleh Gurnek Bains, seorang pakar psikologi industri dalam A meaning Inc.

Menarik untuk ditunggu apakah tren kebangkitan kesadaran baru terhadap nilai-nilai spiritual ini tidak kandas di tengah jalan…..

Industri yang Mature….Masa Depan yang Buram???

Menatap layar yang disorot proyektor siang ini dengan tajam. Mata saya dengan pasti mengikuti setiap data yang dipaparkan. Dan memang, meskipun pergerakan iklan secara nasional naik dengan cukup signifikan tiap tahunnya, dan sepanjang tahun 2006 bahkan menembus Rp 27 Triliun, namun manisnya kue yang dirasakan oleh industri majalah tidak sampai Rp 1 Triliun. Cuma Rp 917 Miliar,tepatnya. Jika kita tarik dalam 5 tahun terakhir, maka dengan perhitungan yang cukup sederhana dan cepat sekalipun, dapat disimpulkan industri ini tidak punya pertumbuhan yang cukup. Slope-nya terlalu kecil, artinya kalo mau main proyeksi maka sungguh trennya ga akan beda jauh. Industri ini sudah mature, market don’t growth anymore….

Kenyataan yang berat memang. Secara alamiah, bisnis membutuhkan growth untuk mengimbangi semakin tingginya kebutuhan biaya-biaya. Bagaimana karyawan lebih sejahtera pada tahun depan, dengan kata lain, bagaimana perusahaan bisa berikan perbaikan gaji jauh lebih tinggi dari inflasi yang bakal diterima karyawan sepanjang tahun.

Sebagian orang semakin takut melihat angka ini, apalagi ancaman dari direct kompetitor baru seperti majalah bebas (free magazine) sudah mulai nyata. Secara pasti kompetitor baru yang bermunculan sudah meraup total 25% dari angka yang ga sampai Rp 1 T itu. Semakin ketakutan mencekam, saat menyadari era digitalisasi sudah semakin menggerus cara-cara konvensional dalam mengkonsumsi sebuah produk media cetak.

Syukurlah, ketakutan itu tidak terlalu lama. Dan sudah sepantasnya optimisme berkembang. Dengan kompetensi inti yang kokoh seperti saat ini, sudah selayaknya melihat ancaman dari sebuah perubahan juga sebagai peluang bisnis yang menggiurkan.

Ada banyak hal yang harus digeser dan re-definisi. Pertama konsepsi oplah. Digitalisasi akan menawarkan oplah dalam kuantitas yang mengagumkan. Untuk Indonesia saja, angka 56 juta ponsel adalah jaminan dari potensi pasar yang luar biasa. Plus, kita ga perlu pusing lagi memikirkan makhluk bernama retur, bukan? Demikian pula masalah iklan. Yang perlu dipikirkan tinggallah platform IT yang mendukung perubahan pola konsumsi ini.

Demikian pula dengan perlunya business development yang agresif untuk mencari celah baru berbasis kompetensi inti yang dimiliki sebuah media cetak. Ada banyak hal yang bisa digarap. Tinggal membutuhkan kejelian, toh selain pusat informasi, sebuah media juga menguasai jejaring (network).

Jadi mengapa harus takut?

(ada buku bagus untuk referensi situasi seperti ini selain blue oceannya prof Chan. Yaitu bukunya Richard Wise, Adrian J. Slywotzky, How to Grow When Market Don’t)