Di Balik Kemenangan Jokowi 2014 (Bagian Satu)

Di Balik Kemenangan Jokowi 2014 (Bagian Satu)

(Tulisan lama ini baru dipublikasi agar dapat menjadi sharing pengalaman seperti untuk kepentingan studi komunikasi politik)

Research Management

Medio april 2014, setelah hiruk pikuk pemilihan legislative usai, intensitas pertarungan politik justru semakin tinggi. Panggung Akbar berikutnya bagi para politisi adalah pemilihan presiden. Gagalnya PDIP meraih 20% lebih suara cukup mengejutkan, mengingat di awal, banyak pengamat menjagokan PDIP akan melenggang mengulangi kemenangan pemilu besar di awal periode reformasi, dengan menumpangi arus kencang yang disebut Jokowi Effect.

Ya, Jokowi adalah fenomena baru dalam politik waktu itu. Melejit dari walikota sebuah kota kecil menjadi perbincangan ketika memenangkan pilkada DKI Jakarta dengan mengalahkan petahana dalam dua putaran. Arus dukungan publik demikian kencang baik internal PDIP maupun publik yang non partisan saat ini untuk mendesak Ibu Megawati Soekarnoputri segera mendeklarasikan pencalonan presiden Jokowi saat itu merupakan gambaran dari kuatnya popularitas maupun elektabilitas dari sosok Jokowi.

Tentu saja bagi lawan politik, kegagalan PDIP ini seolah menjadi bukti bahwa Jokowi bisa dikalahkan. Saat itu bersama dua kawan karib, Kiki Taher dan Putra Nababan, membentuk sebuah unit kecil bernama Suropati yang memang didisain untuk memantau perkembangan eskalasi politik sejak 2013, kami mencatat dari berbagai data mulai dari pelibatan big data analytic, intelijen media, behavioral research sampai survei politik bahwa serangan ke Jokowi ini akan berhasil jika issue cukup besar, influencers credible, media mendukung dan dilakukan secara kontinu. Dan sejak 9 april atau paska gagalnya PDIP meraih suara di atas 20% serangan makin tajam seperti yang bisa dilihat dalam grafis rekaman pola pergerakan isu dalam timeline 2014.

Continue reading

Tren Data dan Informasi

Tren Data dan Informasi

Kebutuhan manusia untuk mengukur realitas yang dihadapinya menjadi kebutuhan atas sebuah data. Pengukuran dasar panjang dan lebar menjadi awal dari peradaban manusia. Kemampuan untuk merekam informasi merupakan salah satu garis demarkasi antara masyarakat primitif dan modern.  Perkembangan bahasa tulisan tidak saja membuat manusia mampu mengukur sebuah realitas, merekamnya untuk kemudian dipelajari kembali. Pengukuran dan merekamnya merupakan tonggak awal dari penciptaan data. Pondasi dari apa yang disebut dengan datafikasi. Data memungkinkan manusia mereplikasi aktivitas-aktivitas seputar kehidupannya seperti arsitek dapat mempelajari catatan dimensi rancangan bangunan sebelumnya, atau ahli pertanian mempelajari berapa hasil panen dari lahan pertanian.
Dari pengenalan angka, matematika berperan dalam membantu manusia dalam melakukan tabulasi hingga menganalisa data. Salah satu cabang dari ilmu matematika bernama statistika memungkinkan proses analisa dapat menghasilkan prediksi-prediksi masa depan yang sangat diperlukan dalam proses perencanaan.

Continue reading

Industri yang Mature….Masa Depan yang Buram???

Menatap layar yang disorot proyektor siang ini dengan tajam. Mata saya dengan pasti mengikuti setiap data yang dipaparkan. Dan memang, meskipun pergerakan iklan secara nasional naik dengan cukup signifikan tiap tahunnya, dan sepanjang tahun 2006 bahkan menembus Rp 27 Triliun, namun manisnya kue yang dirasakan oleh industri majalah tidak sampai Rp 1 Triliun. Cuma Rp 917 Miliar,tepatnya. Jika kita tarik dalam 5 tahun terakhir, maka dengan perhitungan yang cukup sederhana dan cepat sekalipun, dapat disimpulkan industri ini tidak punya pertumbuhan yang cukup. Slope-nya terlalu kecil, artinya kalo mau main proyeksi maka sungguh trennya ga akan beda jauh. Industri ini sudah mature, market don’t growth anymore….

Kenyataan yang berat memang. Secara alamiah, bisnis membutuhkan growth untuk mengimbangi semakin tingginya kebutuhan biaya-biaya. Bagaimana karyawan lebih sejahtera pada tahun depan, dengan kata lain, bagaimana perusahaan bisa berikan perbaikan gaji jauh lebih tinggi dari inflasi yang bakal diterima karyawan sepanjang tahun.

Sebagian orang semakin takut melihat angka ini, apalagi ancaman dari direct kompetitor baru seperti majalah bebas (free magazine) sudah mulai nyata. Secara pasti kompetitor baru yang bermunculan sudah meraup total 25% dari angka yang ga sampai Rp 1 T itu. Semakin ketakutan mencekam, saat menyadari era digitalisasi sudah semakin menggerus cara-cara konvensional dalam mengkonsumsi sebuah produk media cetak.

Syukurlah, ketakutan itu tidak terlalu lama. Dan sudah sepantasnya optimisme berkembang. Dengan kompetensi inti yang kokoh seperti saat ini, sudah selayaknya melihat ancaman dari sebuah perubahan juga sebagai peluang bisnis yang menggiurkan.

Ada banyak hal yang harus digeser dan re-definisi. Pertama konsepsi oplah. Digitalisasi akan menawarkan oplah dalam kuantitas yang mengagumkan. Untuk Indonesia saja, angka 56 juta ponsel adalah jaminan dari potensi pasar yang luar biasa. Plus, kita ga perlu pusing lagi memikirkan makhluk bernama retur, bukan? Demikian pula masalah iklan. Yang perlu dipikirkan tinggallah platform IT yang mendukung perubahan pola konsumsi ini.

Demikian pula dengan perlunya business development yang agresif untuk mencari celah baru berbasis kompetensi inti yang dimiliki sebuah media cetak. Ada banyak hal yang bisa digarap. Tinggal membutuhkan kejelian, toh selain pusat informasi, sebuah media juga menguasai jejaring (network).

Jadi mengapa harus takut?

(ada buku bagus untuk referensi situasi seperti ini selain blue oceannya prof Chan. Yaitu bukunya Richard Wise, Adrian J. Slywotzky, How to Grow When Market Don’t)