Paradoks Kemakmuran : Telaah perspektif inovasi Clayton Christensen

Memahami Evolusi Pemikiran Christensen tentang Inovasi

Meskipun bukan satu kewajiban, sebelum membuka lembar buku The Prosperity Paradox karya Clayton Christensen bersama dua murid terkemukanya : Efosa Ojomo dan Karen Dillon, akan lebih mendapatkan perspektif utuh Profesor Christensen dengan melihat ke belakang pergelutan intelektualnya dalam mengurai pola-pola industri untuk membangun teori disrupsi yang menginspirasi itu. Dan, buku The Prosperity Paradox, sejatinya adalah perjalanan akhir yang menjadi muara dari seluruh pengalaman empiris dan kebatinan Profesor Christensen.  

Di mulai tahun 1995, Christensen menemukan fenomena yang terjadi di industri (lebih banyak diulas industri manufaktur waktu itu) bahwa teknologi adalah pengungkit perubahan disruptif yang sangat penting.  Dua tahun kemudian, Christensen mempublikasikan bukunya yang fenomenal “Innovator Dillema”. Pertanyaan filosofis yang mendasari dibangunnya argumentasinya tentang disrupsi adalah “mengapa banyak perusahaan besar (yang dulunya adalah innovator hebat kemudian menjadi pemimpin pasar) dikalahkan oleh pesaing yang merupakan perusahaan kecil namun membawa teknologi yang disruptif. Jawabannya adalah pemain besar cenderung kehilangan kelincahan, kepekaan bahkan keberanian untuk melakukan inovasi disruptif, dan hanya cenderung melakukan inovasi keberlanjutan.

Christensen (1997) menjelaskan bahwa inovasi disrupsi adalah inovasi yang menciptakan pasar baru atau masuk ke level bawah pasar yang ada dan secara bertahap berinovasi menggantikan produk/jasa dan perusahaan pemimpin pasar. Contoh yang relevan di industri otomotif saat ini seperti pemimpin pasar otomotif (Toyota, BMW, Chrysler, Honda dan lainnya) cenderung hanya melakukan inovasi keberlanjutan untuk memperbaiki produk yang sudah ada berbahan bakar fosil (seperti menggantikan teknologi carburator dengan injeksi bahan bakar), namun Tesla muncul mendisrupsinya dengan kendaraan yang sama sekali keluar dari energi fosil.

Di tahun 2003 Christensen kembali mempublikasikan buku Innovation Solution yang menjadi acuan para akademisi bidang teori inovasi dan perubahan. Dalam buku ini, Christensen menggarisbawahi peran model bisnis termasuk di dalamnya ‘value network’ dalam penciptaan inovasi disruptif. Kali ini, Christensen banyak mencermati pertumbuhan perusahaan-perusahaan teknologi. Minat Christensen melahirkan beberapa teori seperti teori ‘Modular’ (yang banyak diadopsi oleh start-up di mana berfokus pada proses mengubah ‘insight’ menjadi kecepatan inovasi) dan teori ‘Hybrid’ yang menjadi acuan dalam mengelola teknologi antara kebutuhan saat ini dan mendisrupsi masa depan.

Disrupsi dan Dampak Perubahan Sosial

Sekarang kembali ke mahakarya terakhir Christensen yaitu The Prosperity Paradox yang terbit di tahun 2019 sebelum Sang Profesor meninggal dunia di akhir Januari 2020. Pengalaman batin Christensen yang menjadi latar belakang penulisan buku ini mengalir menjadi cerita penuh perenungan mengenai, “Mengapa ada negara yang miskin dan negara yang Makmur?”

Di periode 1970-an saat Christensen menjadi misionaris di Korea Selatan, Ia menemukan fakta bahwa kemiskinan dan keterbelakangan memiliki banyak cerita menyedihkan. Bahkan seorang sahabatnya meninggal dunia di hadapannya karena kelaparan. Bantuan negara donor tidak banyak membantu perubahan yang terjadi karena hanya berfokus pada kemiskinan itu sendiri seperti bantuan pangan dan lainnya.

Hingga akhirnya Korea Selatan membangun fokus pada inovasi penciptaan pasar dengan menitikberatkan model bisnisnya pada penciptaan teknologi tinggi seperti semikonduktor, mendorong pertumbuhan perusahaan berbasis teknologi seperti Samsung (elektronik), Hyundai (otomotif) dan lainnya. Serta, mendorong perkembangan ekonomi kreatif. Tidak hanya itu, Korea Selatan, membangun sistem pendidikan yang berfokus bukan hanya pada pendidikan tetapi model penciptaan nilai dan pendistribusiannya.

Serupa dengan Sang Profesor, co-author buku ini, Ojomo menemui pengalaman yang serupa. Sebagai anak keturunan benua afrika yang berhasil mengubah kehidupannya lewat pendidikan  di perguruan tinggi terbaik di Amerika Serikat, Ojomo merasa terpanggil untuk mengentaskan kemiskinan. Ia berpikir bahwa akar dari kemiskinan adalah air bersih. Sehingga Ojomo menggalang dana untuk membangun sumur-sumur baru di Afrika. Dana donor yang terkumpul cukup besar untuk menggali banyak sumur, air bersih tersedia namun beberapa waktu berselang masalah baru muncul bahwa banyak sumur rusak dan tidak lagi mengucurkan air. Ojomo memperhatikan miliaran dollar yang dikucurkan dalam program-program bantuan kemiskinan baik dalam bentuk pangan dan obat-obatan, tidak pernah berhasil mengentaskan kemiskinan.

Christensen et al (2019) kemudian mencermati fenomena industrialisasi di Meksiko yang dikenal dengan ‘Maquiladoras’ yaitu strategi inovasi efektifitas industri, di mana input industri Meksiko berasal dari barang impor dan dengan efisiensi yang diciptakan menghasilkan produk. Strategi industri ini sukses membuat Meksiko dapat menarik Foreign Direct Investment (FDI) yang terus meningkat. Didukung dengan lingkungan ekonomi makro yang stabil, tingkat produktifitas buruh yang tinggi dan berbiaya murah, banyak perusahaan otomotif dan elektronik raksasa dunia memindahkan pabriknya ke Meksiko. Namun, Christensen et al menemukan fakta bahwa semua hal tersebut tidak menciptakan kemakmuran bagi Meksiko, berbeda dengan kondisi yang terjadi di Korea Selatan (grafik 1 di bawah ini). Mengapa hal itu terjadi? Argumentasi bahwa korupsi-lah penyebab kemiskinan di Meksiko mudah terbantahkan karena indeks ease of doing business Meksiko berada pada ranking 49 dari 190 negara, atau jauh lebih baik dari Italia dan China.

Argumentasi utama Christensen et al dalam buku ini adalah strategi inovasi efektif ‘Maquiladoras’ tidak menciptakan pasar baru (non consumption market), Ia bergantung pada pertumbuhan pasar yang sudah ada di mana pasar yang telah ada (consumption market) ini telah penuh sesak dengan ragam produk negara lain sehingga keunggulan efesiensi hanya menggerus margin keuntungan korporasi. Hal ini membuat investasi di Meksiko mudah berpindah keluar. Alasan berikutnya, strategi inovasi efektif tidak memberikan dampak berupa nilai tambah bagi masyarakat Meksiko selain penyerapan tenaga kerja dan pajak.

Hal yang membedakan dengan Korea Selatan adalah strategi inovasi penciptaan pasar (market-creating innovation strategy). Buku ini menampilkan cerita menarik bagaimana seorang wirausaha Mo Ibrahim justru menciptakan perusahaan telekomunikasi di Afrika, pasar di mana semua pemain telekomunikasi justru menghindar karena dianggap tidak bernilai. Namun Mo Ibrahim menggunakan kacamata inovasi penciptaan pasar, Ia justru membangun ‘value network’ untuk menciptakan kebutuhan akan telekomunikasi di benua ini dengan biaya murah.  Hasilnya? Model bisnis yang dikembangkan Mo Ibrahim tidak saja menghasilkan keuntungan finansial, namun memberikan dampak perubahan sosial yang luar biasa yaitu kemudahan informasi menjadi awal perubahan kualitas manusia, di samping terciptanya ribuan lapangan pekerjaan baru.

Cerita lain dari Meksiko, lewat sosok Bernama Javier Lozano, yang pulang dari Amerika Serikat karena panggilan keluarga. Ia menggunakan perspektif inovasi penciptaan pasar dengan melihat kesulitan yang dihadapi penderita diabetes di Meksiko. Selain biaya mahal (rata-rata USD 1000 per tahun), penderita diabetes harus mengunjungi rata-rata 7 lokasi untuk berkonsultasi dengan dokter dan ahli yang berbeda-beda (ahli gizi, laboratorium dan lainnya). Karena biaya tinggi dan faktor kelelahan akibat jarak dan lokasi, membuat banyak penderita tidak melanjutkan pengobatan. Total estimasi biaya yang dikeluarkan rakyat dan pemerintah Meksiko untuk mengobati diabetes sekitar USD 13 milyar.

Lozano melihat bahwa angka di atas sebagai non-consumption market yang besar, selain perlunya solusi untuk mengurangi penderita diabet di negaranya. Ia membangun ‘value network’ dengan mengintegrasikan 7 lokasi yang biasa ditempuh penderita diabet dalam satu atap layanan. Model bisnisnya mengeliminasi banyak biaya yang tidak perlu sehingga harga jual layanan menjadi hanya USD 250 per tahun. Selain menciptakan nilai bisnis baru, lapangan pekerjaan baru, model bisnis penciptaan pasar dan value network Javier Lozano memberikan dampak sosial yang meringankan penderita diabetes.

Korupsi Bukan Masalah, Tetapi Solusi

Bab ini paling provokatif tapi menunjukkan kejernihan berpikir Christensen dan kawan-kawan dalam mengamati fenomena korupsi di banyak negara miskin. Banyak negara menerapkan banyak aturan dan penegakan hukum yang keras terhadap pelaku korupsi, namun faktanya jumlah kasus korupsi justru tidak pernah meredup. Kesalahan yang sering terjadi adalah terlalu fokusnya perhatian pada korupsi itu sendiri, tanpa mencoba memahami akar permasalahan yang ada.

Perilaku koruptif secara alamiah tidak lepas dari perilaku manusia itu sendiri. Pertama, manusia memiliki keinginan untuk membuat kemajuan untuk ditunjukkan kepada lingkungan dalam hidupnya seperti membeli properti atau kendaraan baru. Kedua, semua manusia memiliki struktur biaya (biaya kebutuhan pokok, sekunder dan tersier) yang memiliki pola dan rekam jejak (baik via perbankan seperti penarikan atm, kartu kredit hingga e-commerce). Ketiga, kecenderungan manusia untuk menghindari hukum seperti halnya narapidana melarikan diri dari penjara menghindari lampu sorot menara pengawas (panopticon).

Dengan memahami perilaku di atas, jika menggeser pemberantasan korupsi dari fokus pada peristiwa korupsi itu sendiri tetapi mencari pola-pola dari 3 kecenderungan alamiah di atas maka pemberantasan korupsi akan lebih efektif dan tuntas hingga akarnya. Negara-negara maju mengubah pendekatan dari hutan belukar regulasi anti korupsi pada transparansi transaksi cashless, sehingga struktur biaya dan kemajuan hidup seseorang dalam kepemilikan harta terpantau dengan mudah. Perlu kepemimpinan yang kuat, regulasi yang mengacu pada perilaku koruptif dan transparansi dalam pemberantasan korupsi yang efektif.

Kerangka kerja yang efektif dalam pemberantasan korupsi ini menjadi penting dalam menjaga proses membangun kemakmuran untuk melindungi pasar, pemangku kepentingan, pekerja dan para pemain kunci dari inefisensi yang dapat menghambat kemajuan seperti gambar di atas.

 Inovasi dan Pembangunan Infrastruktur yang Berdampak Kemakmuran

Christensen dan kawan-kawan menyindir secara implisit kebiasaan negara-negara miskin dalam memberikan subsidi yang tidak menyelesaikan masalah kemiskinan justru memperdalam masalah tersebut. Di bagian lain, Christensen juga menyinggung kebiasaan negara-negara miskin dalam menghamburkan belanja negara untuk membangun infrastruktur yang tidak berdampak pada kemakmuran, bahkan lebih celaka lagi pembangunan infrastruktur tersebut seringkali terbengkalai karena tidak memberikan kemanfaatan yang berkelanjutan.

Dalam skema di atas, Christensen mengajukan tesis bahwa hanya inovasi yang mampu menciptakan pasar baru dan investasi yang mendukung terjadinya inovasi tersebut yang akan mengangkat masyarakat dari jurang kemiskinan pada kemamkuran. Seperti halnya cerita Mo Ibrahim dan Javier Lozano serta studi ekonomi Korea Selatan, strategi inovasi penciptaan pasar baru akan menciptakan pasar, tenaga kerja dan kontribusi pada pajak yang memungkinkan investasi lanjutan untuk pengembangan infrastruktur. Memberikan akses untuk penciptaan inovasi-inovasi baru adalah argumentasi utama dari Christensen.

Untuk akses yang dapat memicu proses inovasi dan investasi, maka Christensen menawarkan paradigma baru dalam pembangunan infrastuktur seperti gambar di bawah ini. Di mana pemerintahan negara harus mampu melakukan kategorisasi infrastruktur yang akan dikembangkan dengan melihat detil hubungan antara nilai (value) dan karakteristik distribusi/penyimpanan.

Cara ini mengubah paradigma untuk melihat sekolah sebagai perangkat fisik melainkan ia adalah perangkat lunak, karena yang bernilai dari sekolah adalah ilmu pengetahuan yang tidak bisa disimpan melainkan didistribusikan.  Efektifitas dari sekolah adalah bagaimana nilai pengetahuan tersebut dapat didistribusikan dan berkembang secara dinamis dalam menciptakan pandangan baru, ilmu pengetahuan baru hingga cara-cara pragmatis baru dalam menciptakan solusi-solusi baru yang berdampak sosial luas. Sekolah bukan hanya pendidikan, melainkan ia menciptakan karakter Mo Ibrahim dan Javier Lozano yang peka, analitikal dan mampu berinovasi dalam menangkap pasar yang tidak terlihat sebelumnya sehingga bermunculan model bisnis yang menciptakan pasar baru, membuka lapangan pekerjaan, memberi kontribusi pajak bagi negara dan menyelesaikan banyak permasalahan sosial.

Author: Arief Adi Wibowo

Experience Business Strategist, Media Executive, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s