10 Perusahaan Ternyaman dan Terbaik 2007 : Sebuah Jawaban

Salam Marketer,

Minggu lalu saya sempat melihat Cover depan Majalah SWA. Disitu tertulis “10 Perusahaan teryaman dan terbaik 2007” employer choice… bisa gak disharing siapa aja 10 perusahaan tersebut??? dan kreteriannya apa?? dari sisi mana melihatnya? Mungkin marketer ada yang tahu….
Terima Kasih
Best Regards,

K h o i r i >>>

=====================
Bapak Khoiri
di
TempatSalam marketer,
Pertama kami ucapkan terima kasih atas perhatiannya pada salah satu produk kami,majalah SWA. Selain SWA, kelompok media SWA juga menghasilkan majalah MIX untuk melayani kebutuhan informasi dan pengetahuan secara spesifik untuk para pemasar, public relation dan periklanan.Employer of Choice yang menjadi cover story pada edisi 07 merupakan hasil kerjasama dengan mitra SWA, Hay Group-perusahaan konsultansi global. Dan tahun ini telah memasuki pada tahun kedua. Metodologi tidak ada perubahan dibandingkan tahun lalu, model Engaged Performance. Hanya saja, pada tahun kedua ini, baik jumlah perusahaan maupun karyawan sebagai responden meningkat jumlahnya secara signifikan. Di tahun ini melibatkan 42 perusahaan dan 10.670 karyawan dibandingkan tahun lalu 31 perusahaan dengan 5.080 karyawan.

Pemilihan responden dari perusahaan partisipan dilakukan dengan ketat untuk menjamin akurasi survei. Sampling dilakukan secara acak berjenjang dengan metode solvin. Sehingga didapatkan ketercukupan jumlah sampel di tiap level jabatan, kelompok masa kerja dan bidang pekerjaan yang ditetapkan. Dengan keseluruhan proses memakan waktu hingga 3 bulan.

Secara mudah, model Engaged Performance dapat dijelaskan sebagai model untuk melihat bagaimana korelasi antara tiga faktor utama penggerak tumbuhnya komitmen karyawan: efektifitas Personal, efektifitas organisasi dan growth&opportunity. Dari ketiga faktor utama, diturunkan lagi dalam 7 subfaktor :efektifitas internal, fokus bisnis eksternal, job enablement, supervision, kerjasama, manajemen kinerja dan manajemen talenta. Dari hasil olahan data dengan regression analysis untuk mencari key driver komitmen karyawan, didapatkan bahwa selain kepemimpinan, manajemen talenta,fokus bisnis internal dan direction (arah perusahaan) adalah 4 faktor yang menjadi key driver dari tingkat komitmen karyawan.

Dari olahan akhir didapatkan urutan perusahaan pilihan karyawan berdasar employer of choice (EoC) index, sebagai berikut : (1) PT Astra International Tbk (2) PT TNT Indonesia (3) PT Bank Niaga Tbk (4) PT Dexa Medica (5) PT Microsoft Indonesia (6) PT Federal International Finance (7) PT Soho Industri Pharmasi (8) PT Bank Central Asia (9) PT Bintang Toedjoe (10) PT Frisian Flag Indonesia. Baik index dan penjelasan detil bagaimana Top 10 EoC ini membangun tiap key driver dapat dilihat dalam Sajian Utama SWA edisi 07 halaman 35-40.

Menutup penjelasan kami, sebenarnya pesan terpenting dari Sajian Utama SWA kali ini adalah bagaimana perusahaan dapat mempelajari lebih dalam mengenai semua faktor yang mempengaruhi tingkat komitmen karyawan. Dari sini, perusahaan dapat mempersiapkan berbagai skema untuk meniadakan masalah yang muncul sekaligus terus memperkuat key driver komitmen dengan berbagai langkah. Mengutip tulisan Teguh Sri Pambudi (Redaktur Kompartemen Manajemen SWA) dan Christian Siboro (Konsultan Hay Group),”Melihat indikasi survei kali ini dan temuan global, maka terlihat makin critical-nya peran kepemimpinan dan talent management dalam meningkatkan peran komitmen karyawan. Ini sebaiknya menjadi perhatian.” Ya, kepemimpinan dan manajemen talenta menjadi isu sentral di kancah war of talent di era knowledge economy saat ini.

Wassalam,

Dan Mereka Memilih

Sebagai pelengkap, SWA melakukan riset tersendiri dengan tujuan mengetahuiapa saja perusahaan idaman dari responden di luar perusahaan yang mengikuti survei EoC 2007. Dalam riset ini, digunakan pendekatan top of mind dari responden yang diambil secara acak. Awalnya, diupayakan dua target responden: pencari kerja (job seeker) yang belum mendapat pekerjaan, dan yang sudah memiliki pekerjaan. Namun, karena ketidakcukupan data untuk melakukan cross-tabulation, maka hasil survei hanya didapatkan perusahaan idaman untuk pencari kerja saja. Dan siapa yang mereka pilih : (1) PT Telkomunikasi Indonesia, Tbk (2) PT Unilever Indonesia, Tbk (3) PT Astra International,Tbk (4) Kelompok Kompas-Gramedia (5) PT Bank Mandiri, Tbk (6) Bank Indonesia (7) PT Pertamina (8) PT Conoco Phillips (9) PT Microsoft Indonesia (10) PT Total E&P Indonesia.

Untuk mendapatkan alasan utama di balik pemilihan perusahaan idaman tersebut, SWA melakukan survei secara face to face, sehingga dimungkinkan eksplorasi di dalamnya. Tercatat 100 responden yang terbagi menjadi 55% pria dan 45% wanita. Latar disiplin ilmu mereka juga beragam: teknik (27%), Manajemen(17%), Ekonomi/Akutansi(15%), Komunikasi (13%), dan Ilmu Dasar (8%).

Hasilnya, 22% mengatakan “Top 10 perusahaan paling diidamkan ini memiliki standar gaji dan benefit yang jauh lebih tinggi di industrinya”. Di samping itu, 13,42% responden menganggap sistem pelatihan dan pengembangan karyawan perusahaan-perusahaan ini adalah yang terbaik. Citra perusahaan yang baik rupanya juga sudah menjadi salah satu faktor yang dilihat dalam memilih perusahaan, sekitar 10,5% responden memilih alasan ini.

Dari survei, didapatkan semua responden pada umumnya berusaha mencari informasi mengenai perusahaan-perusahaan ini secara aktif. Empat kanal utama mereka berturut-turut adalah; media massa (23,57%), Internet (23,21%), teman (19,64%), dan profesional yang bekerja di dalamnya (17,86%). Informasi yang mereka gali pun lumayan detil, rata-rata berupaya mengetahui profil perusahaan, sistem pelatihannya hingga prestasi dan pencapaian lain.

Saat ditanyakan faktor apakah yang dapat membuat para pencari kerja ini nyaman dalam bekerja, sebagian besar (30,69%) menyatakan “Lingkungan kerja yang kondusif membuat mereka nyaman”. Faktor dominan yang kedua, adalah gaji dan benefit yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspektasi mereka (29,70%).

Terlepas dari kelemahan yang ada, inilah pilihan mereka tentang perusahaan idaman, dan mengapa mereka memilihnya.

Arief Adi Wibowo & Sarah Agisty, bekerja di departemen riset dan data bisnis SWA

Ketika Angka Tidak Cukup

Tulisan pendek ini merupakan ringkasan pergumulan yang terjadi di pikiran ini dalam beberapa waktu terakhir. Sebuah pertanyaan besar yang menggelayut di kepala, bagaimana sebenarnya cara memahami apa yang ada di kepala konsumen kita?

Dunia yang serba cepat geraknya. Bukan saja terkait dengan produk dan jasa yang sudah tidak mengenal batas-batas kaku wilayah, tapi juga menyangkut konsumennya. Kecepatan luar biasa ini terlebih membuat sebuah konsep menjadi cepat usang. Karena asumsi yang membangunnya segera cepat dihantam oleh perubahan. Karena hantaman ini menyangkut nilai. Karena nilai adalah dasar dari setiap gerak termasuk keputusan untuk membeli.

Saya masih ingat di awal-awal buku Hermawan Kartajaya. Beliau dengan cara sederhana mampu menjelaskan konsep-konsep pemasaran, sehingga mudah dimengerti oleh kalangan awam. Konsep-konsep yang berdasar pada beberapa asumsi utama:bahwa konsumen bisa direduksi dalam segmentasi, konsumen adalah makhluk rasional dalam keputusan termasuk membeli, dan sebagainya. Munculnya banyak hitung-hitungan matematis dengan aspek demografi sebagai patokan utama.

Dan pada pertemuan terakhir, guru Hermawan Kartajaya sendiri mengatakan bahwa demografis saja tidak cukup. Begitu pula dengan metode kualitatif lama. Bahkan dia menyebut masa depan pengukuran seperti di atas ada pada metode-metode baru yang sama sekali berada di luar metode yang lazim dipakai, seperti etnografi. Sekali lagi saya mungkin manusia yang beruntung, dalam kapasitas menggawangi riset SWA mempertemukan pada banyak orang hebat yang mengetahui secara detil teknik-teknik ini.

Teknik-teknik etnografi langsung muncul sebagai primadona baru, di kala teknik kualitatif lain seperti focus group discussion (FGD) sudah dianggap pula tidak mencukupi. Tidak mencukupi, karena menurut riset, cara verbal tidak menggambarkan secara utuh pola pengambilan keputusan konsumen. Cara berpikir konsumen lebih berdasarkan cuplikan-cuplikan visual. Sehingga ada yang hilang selama proses FGD.

Memang, masih banyak pertanyaan belum terjawab. Seperti waktu yang lumayan panjang untuk sebuah penelitian etnografi yang membutuhkan observasi panjang. Dan itu masih merupakan kekurangan mendasar dari metode ini, ketika dunia menuntut serba cepat terutama dalam proses riset dan pengembangan. Beberapa upaya dilakukan seperti memasukkan implementasi teknologi IT yang memungkinkan observasi secara on-line, namun tetap saja belum bisa mendapatkan hasil secepat metode kuantitatif.

Untuk fenomena di atas, Prof Agus W Soehadi dari Prasetya Mulya dalam sebuah diskusi secara bijak mengatakan, ” Mungkin di sinilah letak perkawinan kuantitatif dan kualitatif. Saling komplementer. Melengkapi satu sama lain.” Jawaban bijak, saat saya sengaja menyerang beliau dengan pertanyaan,”Apakah mungkin ini pertanda generasi Kuanti Prof Agus mulai digusur generasi Kuali Dr.Eka dengan Etnografinya…”

Cuma pertanyaan-pertanyaan yang tersisa. Masa sih ga ada unified theory atau teori segala-nya, seperti yang pernah diramalkan Einstein di tataran fisika teori? Atau memang seperti inilah realita dunia seperti yang diungkap Prof Agus. Bahwa letak keandalan sebuah pengukuran terletak pada seberapa “bijak” kita mengkombinasikan tools yang ada?

Mungkin inilah fenomena yang dimaksud Thomas Kuhn dalam salah satu bagian tulisannya di The Structured of Sciencetific Revolution. Di mana ilmu akan terus bergerak, yang menyebabkan begitu rapuhnya (sebenarnya) salah satu pijakan peradaban manusia ini….

Ketika Dunia Bisnis Mencari Tuhan

Ada beberapa literatur yang cukup menarik belakangan, mulai dari Megatrends 2000, Megatrends 2010, Spiritual Capital, dan terakhir Meaning,Inc. Ada sebuah benang merah yang oleh Patricia Aburdene (dalam Megatrends 2010) disebut sebagai kesadaran kapitalisme. Memperkuat argumennya, Patricia menyebut adanya gelombang tren di kalangan bisnis dengan gerakan corporate social responsibility. Beberapa kampiun bisnis seperti Intel, Motorola, Microsoft dan Bodyshop menjadi lokomotif terdepan dalam hal ini.

Lebih lanjut, Patricia mengungkap sedikitnya 63 juta konsumen dalam preferensi terhadap sebuah produk ataupun jasa memilih produsen yang memiliki nilai-nilai etika dan gaya hidup yang baik. Fakta ini memperkuat sinyal bahwa pasar sudah semakin rumit, yang memaksa produsen untuk terus berubah mulai dari product oriented menjadi value oriented. Di mana nilai-nilai etika dan moral menjadi sangat penting.

Para profesional bisnis pun mulai merasa haus dengan nilai-nilai spiritual. Keberjarakan antara jiwa dan tubuh membuat manusia jadi terasing dalam kehidupannya sendiri. Begitu juga dengan pencarian selama ini terhadap kesuksesan dan kekayaan yang ternyata tidak menyisakan sebuah akhir yang menentramkan jiwa. Dengan berbagai cara para profesional pun mulai mencari makna hidup di kehidupan karir mereka. Tempat kerja juga tidak terlepas dari pencarian makna hidup ini. Semua kisah ini ditulis dengan apik oleh Gurnek Bains, seorang pakar psikologi industri dalam A meaning Inc.

Menarik untuk ditunggu apakah tren kebangkitan kesadaran baru terhadap nilai-nilai spiritual ini tidak kandas di tengah jalan…..

Mbah Dauzan Farook : Berjuang Hingga Titik Akhir

Sangat bersemangat. Itulah yang terjadi dalam diri saya menjelang kepergian 4 hari ke Yogya 30 Desember 2006-2 Januari 2007. Jauh-jauh hari, saya sempatkan membeli buku dari bazaar buku Gramedia. Dan pada detik terakhir dapat sumbangan setumpuk majalah SWA sepanjang 2006 atas kebaikan Kepala Seksi saya, Ibu Susi Sulistyorini. Bersemangat untuk menuntaskan sebuah nadzar, bertemu Mbah Dauzan Farook, untuk sekedar berbincang dan memberi sedikit tambahan koleksi buku untuk amal jariyah saya dan ortu saya.

Alhamdulillah, niat ini terlaksana dengan mudah tanpa halangan apapun. Begitu mudah saya dan sahabat saya (Deden) menemukan rumah beliau di Kauman GM1/328. Padahal meskipun keturunan dari wong Jogja dan pernah bekerja hampir 2 tahun di kota ini, saya jauh dari faham seluk beluk daerah sana ;-). Rumah kuno yang besar, namun agak tak terawat. Dari ruang tamu hingga ruang tidur dipenuhi buku dan majalah.

Sebenarnya pertemuan pertama terjadi di layar kaca. Pada program sisi lain tepatnya, ketika beliau diwawancara menyangkut perpustakaan kelilingnya (Mabulir : Majalah Buku Bergulir). Sensasinya sangat dahsyat. Saat menyaksikan perjuangan beliau untuk kesekian kali, jiwa saya terguncang dengan pertanyaan pada diri sendiri, apa yang telah kuberikan pada umat? dan masih layakkah aku merengek untuk surgaNya? Ya…mbah Dauzan adalah veteran perang kemerdekaan yang masih berjuang dalam ketuaannya. Menggenjot sepedanya untuk mendatangi dan membagikan buku/majalah pada 100 pusat bacaan, tenggelam berjam-jam dalam bengkel buku untuk memperbaiki kondisi buku yang telah rusak, dan sangat bersemangat untuk mengajak orang lain membaca. Sosok yang benar-benar membuatku malu pada diri sendiri untuk kesekian kali.

“Capek sih capek, tapi hidup adalah perjuangan. Dulu saya berjuang dengan taruhan nyawa dalam perang kemerdekaan, tapi sekarang saya berjuang dengan semua tenaga dalam perang melawan kebodohan dan kemiskinan.” Jawabnya saat ku tanyakan alasan dirinya untuk terus mengelola Mabulir. “Dan insya Allah, saya hanya mengusahakan amal kebaikan. Dan amal kebaikan inilah yang akan membimbing bibir saya mengucapkan La illaha ila Allah, saat maut menjemput kelak.”

Saya menangkap semangat luar biasa dari pejuang tua ini. Baginya saat ini kekuatan bukan lagi otot seperti masa kemerdekaan, melainkan pengetahuan. Lewat membaca manusia akan mempunyai keunggulan untuk bersaing. Itu sebabnya Ia tak akan pernah letih menyerukan semangat membaca, semangat melawan kebodohan.

Akhirnya, hampir 3 jam kami berbincang sambil diselingi sesi foto. Dan di saat mengantar kami di pintu keluar, beliau menepuk bahu saya, “Le (Tole=Anak),Semoga kebaikan kalian ini menjadi sebuah amal jariyah. Amal yang kelak terus mengalir.” Tentu saja mengamini adalah jawabanku atas doanya. Namun doa dari dalam relung hatiku,”Ya Tuhan, lindungilah segala kebaikannya dari godaan ria’, berilah tempat yang terbaik bagi dirinya seperti yang telah Engkau janjikan….dan jagalah segala kearifannya tetap abadi, untuk menerangi peradaban ini dengan semangat amal ma’ruf nahi munkar.”