Dan Mereka Memilih

Sebagai pelengkap, SWA melakukan riset tersendiri dengan tujuan mengetahuiapa saja perusahaan idaman dari responden di luar perusahaan yang mengikuti survei EoC 2007. Dalam riset ini, digunakan pendekatan top of mind dari responden yang diambil secara acak. Awalnya, diupayakan dua target responden: pencari kerja (job seeker) yang belum mendapat pekerjaan, dan yang sudah memiliki pekerjaan. Namun, karena ketidakcukupan data untuk melakukan cross-tabulation, maka hasil survei hanya didapatkan perusahaan idaman untuk pencari kerja saja. Dan siapa yang mereka pilih : (1) PT Telkomunikasi Indonesia, Tbk (2) PT Unilever Indonesia, Tbk (3) PT Astra International,Tbk (4) Kelompok Kompas-Gramedia (5) PT Bank Mandiri, Tbk (6) Bank Indonesia (7) PT Pertamina (8) PT Conoco Phillips (9) PT Microsoft Indonesia (10) PT Total E&P Indonesia.

Untuk mendapatkan alasan utama di balik pemilihan perusahaan idaman tersebut, SWA melakukan survei secara face to face, sehingga dimungkinkan eksplorasi di dalamnya. Tercatat 100 responden yang terbagi menjadi 55% pria dan 45% wanita. Latar disiplin ilmu mereka juga beragam: teknik (27%), Manajemen(17%), Ekonomi/Akutansi(15%), Komunikasi (13%), dan Ilmu Dasar (8%).

Hasilnya, 22% mengatakan “Top 10 perusahaan paling diidamkan ini memiliki standar gaji dan benefit yang jauh lebih tinggi di industrinya”. Di samping itu, 13,42% responden menganggap sistem pelatihan dan pengembangan karyawan perusahaan-perusahaan ini adalah yang terbaik. Citra perusahaan yang baik rupanya juga sudah menjadi salah satu faktor yang dilihat dalam memilih perusahaan, sekitar 10,5% responden memilih alasan ini.

Dari survei, didapatkan semua responden pada umumnya berusaha mencari informasi mengenai perusahaan-perusahaan ini secara aktif. Empat kanal utama mereka berturut-turut adalah; media massa (23,57%), Internet (23,21%), teman (19,64%), dan profesional yang bekerja di dalamnya (17,86%). Informasi yang mereka gali pun lumayan detil, rata-rata berupaya mengetahui profil perusahaan, sistem pelatihannya hingga prestasi dan pencapaian lain.

Saat ditanyakan faktor apakah yang dapat membuat para pencari kerja ini nyaman dalam bekerja, sebagian besar (30,69%) menyatakan “Lingkungan kerja yang kondusif membuat mereka nyaman”. Faktor dominan yang kedua, adalah gaji dan benefit yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan ekspektasi mereka (29,70%).

Terlepas dari kelemahan yang ada, inilah pilihan mereka tentang perusahaan idaman, dan mengapa mereka memilihnya.

Arief Adi Wibowo & Sarah Agisty, bekerja di departemen riset dan data bisnis SWA

War of Talent

Tsunami Economy!!!
Istilah tersebut menjadi key word di antara sekian panjang diskusi dengan mas Christian Siboro di rapat internal dengan SWA minggu lalu. Rapat besar membahas secara detil terkait dengan sajian utama SWA bertajuk Employer of Choice (EoC). Salah satu edisi terpanas dan terlaku SWA. Tapi tulisan ini memang tidak ingin membahas EoC, karena biar pada beli majalah kita di lapak, atau malah berlangganan . Melainkan, soal Tsunami Economy.Mungkin kita sudah sering membaca atau mendengarkan berbagai fakta yang terjadi dalam peradaban manusia beberapa dekade terakhir. Seperti, persaingan yang sudah masuk dalam tingkat global; yang hampir melabrak semua batasan antar negara. Ide yang melimpah dan harganya semakin murah. Pergerakan modal yang luar biasa cepat. Pertumbuhan yang luar biasa menyebabkan tuntutan yang besar terhadap sumber-sumber daya baru termasuk MANUSIA. Karena sumber daya inilah yang menjadi energi untuk terus menggerakan roda industri.

Di sisi lain, kita dihadapkan pada sebuah fakta mulai masuknya generasi baby boomers pada usia tidak produktif (di atas 60 tahun). Nalar kita pasti bertanya, selain kekosongan luar biasa masif pada piramida kependudukan apalagi dampaknya? Bukan hanya demografis, tapi banyak hal terseret dampak ini. Dan inilah yang disebut tsunami economy itu sendiri. Sebuah “bencana” besar yang mengancam ekonomi sebagai sendi peradaban ini.

Di saat kebutuhan terhadap manusia kualitas unggul meningkat, secara kuantitas jumlah ini akan menurun drastis. Krisis inilah yang menyebabkan isu “war of talent” menjadi sangat sentral belakangan. Industri yang akan kekurangan pasokan manusia unggul hanya akan dihadapkan pada dua opsi : pertama, menciptakan daya tarik luar biasa pada manusia unggul dalam jangka pendek. Opsi ini akan memberikan kemampuan pada organisasi untuk menarik manusia unggul, untuk mengisi celah dalam organisasi secara cepat. Untuk ini organisasi harus mampu menciptakan citra yang baik di mata publik, atau yang kerap disebut employer branding.

Kedua, menciptakan talent pool sendiri. Dengan demikian organisasi akan mampu mempersiapkan pemimpin-pemimpin masa depan mereka. Talent management menjadi keahlian baru yang harus dikuasai organisasi untuk tetap berkelanjutan. Bagaimana mendefinisikan talenta unggul, melatihnya sekaligus mempertahankan para bintang ini. Bukan pekerjaan mudah, di saat kebutuhan tinggi akan manusia unggul seperti saat ini. Selain itu people management juga dibutuhkan untuk menjaga harmonisasi elemen organisasi secara umum.

Kepemimpinan, adalah salah satu disiplin yang mudah menguap dalam pasar tenaga kerja kita. Bukan aspek teknis karena jutaan sarjana dipasok dengan gemblengan ketat kampus dalam hal teknis menyangkut ilmu dan teknologi. Tapi kepemimpinan adalah sesuatu yang lebih abstrak, susah dipahami hanya lewat literatur, melainkan juga harus diselami dalam praktik kehidupan nyata. Memahami manusia dan interaksi didalamnya dan mengelolanya dalam organisasi, adalah aspek utama kepemimpinan yang justru mulai langka dalam kultur individualis.

Itu sebabnya, krisis kepemimpinan sedang melanda peradaban ini. Seperti dalam dunia bisnis, figur-figur kuat seperti Lee Iacocca atau Jack Welch akan sangat sulit dicari tandingannya. Memang bisa saja ada argumen yang membantah, bahwa tiap zaman akan melahirkan karakter pemimpin yang berbeda. Dan bisa jadi benar, dengan satu syarat : organisasi sudah mulai memikirkan mekanisme yang mampu melahirkan pemimpin baru. Bila tidak? Tentu saja zaman akan menggilas tanpa ampun…