Creative Creation

Berawal dari sore yang mendung di World Trade Center. Walau diancam oleh kemungkinan hujan badai, tidak mengurangi antusiasme bikers seperti saya untuk menuntaskan agenda terakhir di WTC hari ini. Sebuah acara executive forum Nielsen,berdiskusi dengan salah seorang mentor saya di Trans dulu, Mas Wishnutama.

Berikut poin-poin dari diskusi kami :

Creative Creation : More like an art,but still need science.

Meskipun trending topic dalam berbagai kajian manajemen saat ini mengenai kreativitas dan inovasi,hampir tidak ada satu mekanisme standar dalam menghadirkan keduanya dalam organisasi.
Kreativitas dan inovasi dalam penciptaan lebih kental warna “art” dibandingkan “science”. Meski kehadiran “science” menjadi penting untuk membuat arah “creative creation” sesuai dengan kebutuhan.

Understand who’s the customers
Berdasarkan pengalaman empiris kami kesimpulan paling awal dari penciptaan adalah :
“Memahami Siapa Pengguna yang Kita Tuju”
Harus dipahami bahwa dalam konteks Indonesia adalah beberapa key highlight dari data yang ada :
53% dari komposisi pemirsa adalah wanita
63.7% dari total populasi adalah wanita dan kaum younger.
“Jangan remehkan suara wanita. Mereka penguasa dompet sesungguhnya. Dan younger segment,karena preferensi mereka terhadap produk yang masih belum terbentuk akan selalu seksi bagi pengiklan”

Be Different and Simply to Digest
In the creators mind, the first word to be remember…BE DIFFERENT!
Karena diferensiasi menjadi faktor terpenting di era sekarang selain kecepatan delivery, efektifitas biaya dan kualitas program.
Pasar sudah demikian crowded oleh pemain dan aksi me-too. Sehingga menjadi trendsetter adalah harga mati. Jangan pernah mau ikut-ikutan mainstream!!!
Unsur terpenting berikutnya adalah Be Simple. Karena bagi mayoritas pemirsa Indonesia kesederhanaan konten memudahkan mereka untuk menikmati program yang disajikan.
Simply to digest. Itu yang membedakan bagaimana program berita di luar negeri yang dengan sederhana memberikan pemahaman atas sebuah masalah rumit. Karena TV Luar Negeri selalu memperhatikan siapa pemirsa kita, TV kita cenderung hanya ingin terlihat pintar dengan terminologi rumitnya.

Fokus-lah
Dalam sejarah perkembangan industri media dan entertainment dunia, akan terjadi polarisasi kekuatan antara :
Platform oriented : Google, AOL, AT&T, Twitter, Facebook.
Content oriented : Pixar, Disney (meskipun mereka juga punya Disneyland sebagai ekstensi produk),dan rumah-rumah produksi besar lainnya seperti Universal dan Columbia.
Fokus membuat resiko dalam investasi bisnis lebih terukur,di samping memudahkan konsentrasi dalam penciptaan produk.
Di masa depan, dalam era digital, justru content provider yang memiliki potensi lebih besar. Karena dalam konteks globalisasi, content provider selalu punya keunggulan terkait muatan kreatif lokal.
Terbukti dalam rilis channel terbaik di pay tv. Trans TV dan Trans 7 selalu menghiasi top 3.

Disiplin Eksekusi dan Kultur Penciptaan
Esprit de Corp memegang peranan penting dalam penciptaan. Bagaimana tiap kru yang terlibat memiliki kebanggaan atas apa yang mereka kerjakan.
Itu mengapa Trans TV memulai proses pembangunan kultur di awal pendiriannya,termasuk sebagai trendsetter penyeragaman karyawan.

Evaluasi dan Feedback
Di dalam proses penciptaan kreatif. Evaluasi dan Feedback adalah keharusan di akhir dan awal siklus penciptaan.
Produser harus paham benar bagaimana program mereka bertarung di layar.
Kemana pemirsa mereka pergi. Dan apa yang membuat pergi.

Dibutuhkan : Pasukan ‘Gila’

Pertemuan dengan Prof Syafe’i Ma’arif di salah satu sesi workshop di kawasan Kemang menyisakan kenangan berharga. Yaitu, harapan seorang guru bangsa pada generasi selanjutnya.

Berawal dari kegundahan hati sang Guru terhadap kondisi bangsa saat ini. Korupsi yang merajalela di birokrasi. Deindustrialisasi, banyak industri riel tumbang karena tidak kompetitif. Dan celakanya, bangsa ini terlihat sangat tidak peduli. Sibuk dengan urusan masing-masing, dan kepentingan jangka pendeknya.

“Porter ada benarnya. Ketika dia kritik keburukan mental set bangsa kita. Bahwa kita hanya berpikir menghabiskan kue yang ada daripada membuat kue-kue baru….”Tutur sang Guru mengutip pernyataan Michael Porter – guru besar dari Harvard- ketika berkunjung ke Indonesia novermber tahun lalu. Begitu rakusnya kita. Begitu takutnya kehilangan jatah, sehingga sikut sana sini jadi wajar. Begitu pula embat (ambil,red) sana sini jadi biasa, ga peduli status halal atau haram lagi.

Sang guru terlihat seperti frustasi sendiri hari itu. “Sistem yang korup, mentalitas masa bodoh, plus kepemimpinan yang lemah, membuat situasi ini seperti lingkaran setan yang sulit diputuskan.”ujarnya. Terutama masalah kepemimpinan, sang guru menyebutkan bahwa sejarah memang belum berpihak pada negeri ini. Di mana sepanjang sejarah bangsa ini, kepemimpinan seperti mandeg.

Sambil menghela napas, sang guru meneruskan,” Akhirnya, dibutuhkan sekumpulan pasukan gila. Profesional maupun pengusaha yang gila. Berani menantang keadaan. Berpikir lurus, berbudi luhur dan selalu mementingkan kepentingan orang banyak. Meski memang manusia-manusia seperti ini menjadi langka di negeri ini. Tapi, sang Guru nampak tetap optimis.

“Bangsa ini memang masih dalam proses sejarahnya. Kita sebagai bangsa belum sematang Amerika Serikat sebagai bangsa. Proses masih panjang. Dan kita perlu belajar bagaimana Amerika bisa bangkit dulu….” tutur sang Guru. Dia pun mengutip salah satu esensi dari tulisan seorang penulis Prancis. Bahwa Amerika bisa memperoleh pencapaian luar biasa ini lewat usaha keras mereka, dan lewat kreatifitas mereka. Ungkapan yang langsung mengena di diri ini.

Dan yap, mari kita hiasi langit negeri ini dengan karya-karya kreatif kita. Dengan semangat membangun. Dengan menata lagi mental model kita, mengisinya penuh dengan budi pekerti.

Terima kasih untuk pembelajarannya, Prof. Dan saya yakin, harapan Anda akan terkabul. Akan berduyun-duyun anak bangsa ini berdiri di barisan pasukan ‘gila’ negeri ini….

Mbah Dauzan Farook : Berjuang Hingga Titik Akhir

Sangat bersemangat. Itulah yang terjadi dalam diri saya menjelang kepergian 4 hari ke Yogya 30 Desember 2006-2 Januari 2007. Jauh-jauh hari, saya sempatkan membeli buku dari bazaar buku Gramedia. Dan pada detik terakhir dapat sumbangan setumpuk majalah SWA sepanjang 2006 atas kebaikan Kepala Seksi saya, Ibu Susi Sulistyorini. Bersemangat untuk menuntaskan sebuah nadzar, bertemu Mbah Dauzan Farook, untuk sekedar berbincang dan memberi sedikit tambahan koleksi buku untuk amal jariyah saya dan ortu saya.

Alhamdulillah, niat ini terlaksana dengan mudah tanpa halangan apapun. Begitu mudah saya dan sahabat saya (Deden) menemukan rumah beliau di Kauman GM1/328. Padahal meskipun keturunan dari wong Jogja dan pernah bekerja hampir 2 tahun di kota ini, saya jauh dari faham seluk beluk daerah sana ;-). Rumah kuno yang besar, namun agak tak terawat. Dari ruang tamu hingga ruang tidur dipenuhi buku dan majalah.

Sebenarnya pertemuan pertama terjadi di layar kaca. Pada program sisi lain tepatnya, ketika beliau diwawancara menyangkut perpustakaan kelilingnya (Mabulir : Majalah Buku Bergulir). Sensasinya sangat dahsyat. Saat menyaksikan perjuangan beliau untuk kesekian kali, jiwa saya terguncang dengan pertanyaan pada diri sendiri, apa yang telah kuberikan pada umat? dan masih layakkah aku merengek untuk surgaNya? Ya…mbah Dauzan adalah veteran perang kemerdekaan yang masih berjuang dalam ketuaannya. Menggenjot sepedanya untuk mendatangi dan membagikan buku/majalah pada 100 pusat bacaan, tenggelam berjam-jam dalam bengkel buku untuk memperbaiki kondisi buku yang telah rusak, dan sangat bersemangat untuk mengajak orang lain membaca. Sosok yang benar-benar membuatku malu pada diri sendiri untuk kesekian kali.

“Capek sih capek, tapi hidup adalah perjuangan. Dulu saya berjuang dengan taruhan nyawa dalam perang kemerdekaan, tapi sekarang saya berjuang dengan semua tenaga dalam perang melawan kebodohan dan kemiskinan.” Jawabnya saat ku tanyakan alasan dirinya untuk terus mengelola Mabulir. “Dan insya Allah, saya hanya mengusahakan amal kebaikan. Dan amal kebaikan inilah yang akan membimbing bibir saya mengucapkan La illaha ila Allah, saat maut menjemput kelak.”

Saya menangkap semangat luar biasa dari pejuang tua ini. Baginya saat ini kekuatan bukan lagi otot seperti masa kemerdekaan, melainkan pengetahuan. Lewat membaca manusia akan mempunyai keunggulan untuk bersaing. Itu sebabnya Ia tak akan pernah letih menyerukan semangat membaca, semangat melawan kebodohan.

Akhirnya, hampir 3 jam kami berbincang sambil diselingi sesi foto. Dan di saat mengantar kami di pintu keluar, beliau menepuk bahu saya, “Le (Tole=Anak),Semoga kebaikan kalian ini menjadi sebuah amal jariyah. Amal yang kelak terus mengalir.” Tentu saja mengamini adalah jawabanku atas doanya. Namun doa dari dalam relung hatiku,”Ya Tuhan, lindungilah segala kebaikannya dari godaan ria’, berilah tempat yang terbaik bagi dirinya seperti yang telah Engkau janjikan….dan jagalah segala kearifannya tetap abadi, untuk menerangi peradaban ini dengan semangat amal ma’ruf nahi munkar.”

RAM : Antara Keluarga dan Karir

“Rief, Ada lowongan pekerjaan di Jakarta.” Begitu isi SMS pak rAM. Sontak saja aq terkejut karena pengirimnya adalah rAM. rAM sudah duduk di top management ketika aku baru belajar mengenal konsep manajemen pelayaran modern di entry level Meratus Group. Ia sudah punya pengalaman segudang di pelayaran&logistik, ketika aku baru belajar apa itu Bill of Lading ato shipping terminology.

“pak rAM pasti bercanda.”Balasku sambil mengenang betapa besarnya nama beliau di Tanjung Perak dulu.

“Serius. Saya mau resign dari Meratus.” Balas SMS rAM.

Akhirnya aku mengetahui alasan salah satu guruku di bidang transportasi dan logistik ini. Keluarga. Ya, keluarga. Keputusan yang harus diambil ketika mertua dan orang tua rAM sendiri yang sudah sepuh membutuhkan perawatan. Karena pengabdian sebagai anak, sang Istri mengurus keperluan orang tua mereka di Bandung. Demikian pula anak-anak rAM yang masih sekolah. Sementara itu, perusahaan belum juga merestui permintaan rAM untuk pindah ke Jakarta dalam posisi apapun.

Luar biasa. Ketika bertemu rAM pada sela-sela kesibukannya menawarkan diri ke beberapa perusahaan di Jakarta, ia masih menunjukkan keceriaan seperti biasa. Energi positifnya terpancar dalam tiap ucapannya. Meskipun, dia akui sendiri sampai saat itu belum ada pekerjaan untuknya.

“Apapun akan ku lakukan untuk keluargaku,Rief. Karena segala materi di dunia ini masih bisa dicari, tapi tidak cinta seorang anak,istri dan orang tua. Soal rezeki sudah ada yang mengatur…selama kita berusaha tidak akan putus rezeki pada kita” Begitu rAM menutup perjumpaan singkatku dengannya.

(Trims, Bos. Saat ini sampeyan bukan saja guru di bidang pelayaran, melainkan telah menancapkan pemahaman dengan contoh yang luar biasa tentang arti pengorbanan dan keluarga….)

Porter (1): You Must Change Your Mindset about Competition!!!

Suasana di Shangri-La cukup ramai pada rabu pagi 29 November 2006. Maklum, ada 3 sesi yang direncanakan diisi oleh seorang guru dari Harvard,Michael Porter. Rencananya sang Guru akan menyapa para CEO,Akademisi dan Praktisi Bisnis Indonesia. Antusiasme ini sangat wajar, mengingat konsep Porter terutama dalam kajian strategi bisnis sudah melegenda sejak lama. Sebagai anak kemarin sore, wajar bila aku begitu tak sabar untuk melihat the Most Influental Guru ini. Meskipun jujur saja, dulu aku sempat tidak menyukai mata kuliah berbau strategi bisnis, karena “masak sih strategi itu bisa digenerikkan…alangkah membosankannya dunia bisnis bila itu terjadi.” Hehehe…masa lalu yang naif. Karena seharusnya kita bisa belajar pada siapa saja, bidang apapun, membekali diri menghadapi dunia yang semakin tak berbatas ini….

Ternyata, sang Guru telah sempat melakukan audiensi dengan pihak pemerintah (dalam hal ini pak Yusuf Kalla), tercuplik dalam sambutan Ibu Sri Mulyani. Wah, baguslah ternyata pemerintah kita menunjukkan semangat belajar yang kuat (semoga juga semangat bertindak).

Dalam tulisan kali ini, langsung saja ke pernyataan Porter yang cukup menggugah pagi itu. Menjawab pertanyaan mengapa pemerintah maupun dunia bisnis negeri ini terlihat begitu tertatih untuk bangkit. “You guys always think about how to get a piece of pie….never thinking how to make that’s pie bigger than before,not only in a piece.”Ujarnya.

Dalam dunia bisnis, seringkali seperti itulah nafsu yang melandasi setiap tindakan bisnis. Seringkali dalam berkompetisi,mulai dari set-up strategi hingga eksekusinya, kita terjebak dalam batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri. Porter menggarisbawahi bahwa sesungguhnya kue itu sendiri tidak statis,karena kue itu mencerminkan ukuran pasar yang dinamis. Bisa mengembang dan mengerut. Dalam bahasa yang lain, prof.Chan memberikan penekanan untuk menciptakan samudera biru (blue ocean) dalam bisnis. Perlu sedikit kreatifitas dalam merancang kanvas strategi dan intuisi untuk mengendus kebutuhan konsumen yang masih belum muncul….