BELAJAR DARI ARIEF YAHYA

Pengalaman bersama Pak Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

“Yang kasih target keterlaluan ya, Pak Menteri.” Canda saya tentang target 20 juta wisatawan dari Presiden ke Menpar.

“Awalnya, saya juga syok itu kenaikan lebih dr 2x lipat. Pariwisata bicara ekosistem kompleks mulai dari daya tarik alam, mental hospitality, keamanan sampai infrastrukturnya. Belum lagi faktor di luar kendali kita seperti bencana alam. Tapi setelah Bapak Presiden jelaskan ruang tumbuhnya masih besar, karena selama ini kita cuma andalkan Bali. Perhatian Pak Jokowi luar biasa besar, baru kali ini sepanjang sejarah republik, Pariwisata menjadi ‘leading sector’ pembangunan. Kami yakin bisa kejar target. Dibikinlah wonderful Indonesia dengan 10 destinasi wisata unggulan. Fokus saja tapi jadi semua, begitu kata Bapak Presiden.” Tutur beliau waktu itu.

Sekarang, posisi pencapaian kemenpar mendekati 18 juta, masih kurang dari target. Tumbuh 22% (cuma kalah tipis dari Vietnam, itu pun karena basis awal mereka kecil), jauh melampaui pertumbuhan industri wisata dunia 6% atau regional ASEAN 8%. UNWTO ( organisasi pariwisata dunia di bawah PBB) menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia sebagai salah satu tercepat di dunia.

“Sebagai mantan CEO di telkom dan telkomsel, saya rasa tanggung jawab setiap pemimpin bisnis siap diganti bila tidak capai target. Tapi saya baru tahu karakter manajemen Pak Jokowi mirip Jack Welch saat membawa era tersukses GE. Golden goal tidak akan pernah bisa dicapai, mereka punya hitungan target realistisnya tapi menetapkan golden goal agar semua sumberdaya berpikir dan bekerja ekstra keras untuk mencapainya. Yang mau dikejar oleh pemimpin seperti Pak Jokowi dan Jack Welch adalah lompatan kuantum melebihi pertumbuhan pasar sehingga semua mencari cara-cara baru dengan kreatif. Itu yang mau dilihat Pak Presiden, kita melampaui pertumbuhan pasar…pertumbuhan dunia.”kata Pak Arief mengenang. Tapi kami tidak akan menyerah, masih ada sisa waktu sampai Oktober, mohon doanya, lanjut Pak Menteri.

Pantas saja, ketika mengamati postur semua eselon 1 dan 2 kementerian ini, semua berkantong mata tebal kurang tidur. Lha, bos kecilnya (Pak Menteri) dan bos besarnya (Pak Jokowi) tipikalnya sama : ambisius dan pekerja keras.

Author: Arief Adi Wibowo

Experience Business Strategist, Media Executive, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s