Industri TV Indonesia di Persimpangan Jalan

Autor : Tiffany Diahnisa (SWA Magazine)

Link : SWA Magazine Maret 2017

Bisnis televisi adalah bisnis mahal. Siklus investasi sangat pendek, karena teknologi cepat usang dan berganti. Resiko program gagal moncer secara komersial juga besar. Belum lagi kalau dilihat dalam konteks pasar sumber daya manusianya.

Menurut Arief Adi Wibowo, Media Executive & Business Strategic Chief Trans Corporation, industri televisi sedang pada persimpangan jalannya. Pada cross-section antara padatnya kompetisi (cluttering media), pola konsumsi media yang berubah di sisi audience, dan arah perkembangan teknologi itu sendiri. Sebagai pelaku bisnis televisi, tanda apapun yang dibaca dari siklus bisnis harus disikapi dengan optimistik. Kenaikan iklan hanya satu indikator. Indikator yang perlu selalu dijaga adalah kemampuan menjaga operating cost pada level aman, tanpa mematikan revenue stream.

KEPEMIRSAAN TELEVISI

Ada beberapa aspek yang menentukan kesuksesan sebuah stasiun. Tidak melulu konten, termasuk aspek teknis jangkauan (coverage) transmisi dari stasiun itu sendiri. Tapi jika disederhanakan, ada 3 hal. Pertama, soal preferensi pemirsa yang dibangun oleh branding dan positioning yang kuat secara konsisten sejak lama. “Sebagai contoh, hal ini yang dilakukan oleh RCTI adalah market pioneer dalam industri televisi Free to Air (FTA) atau fenomena ANTV ini kejelian strategi programming dalam mengakuisisi program asing,” tambahnya.

Kedua, ketepatan strategi programming dan produksi di mana RCTI menciptakan dan masuk dalam konten drama (sinetron),  yang secara umum selera orang asia adalah drama. Baik di Korea, India, Malaysia, Dan Indonesia, drama adalah genre yang sangat disukai audience. Ketiga, kelihaian dalam melakukan akuisisi program luar baik dari lokal production house maupun asing.

Celakanya, makin ke arah Millenial, platform televisi makin kurang menarik meski mereka adalah generasi yang sangat visual, dan tipikal content seeker yang tidak mau lagi konsumsinya dikendalikan satu arah sebagaimana praktek TV broadcasting selama ini. Perubahan pola konsumsi audience inilah yang membuat paradigm rating/share FTA untuk single audience yang tidak cukup, total audience yang melibatkan konsumsi konten di semua platform.

PSIKOGRAFI PEMIRSA.png

“Kuncinya adalah kejelian memahami audience lewat riset dan pengembangan, bagaimana produksi program mengeksekusi kebutuhan dan keinginan audience tersebut, dan ketepatan strategi programming dalam meluncurkan program tersebut pada slot waktu yang tepat,” ujar Arief.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: