Ketika Sebuah Keputusan Besar Harus Dibuat

Bagaimana pak Arief, apakah bapak menerima tawaran kami? Pertanyaan yang sungguh sulit dijawab ketika uang bukanlah segalanya. Dua tahun lebih, saya menghabiskan waktu karir di gedung TRANS TV. Benar-benar mulai dari nol, selepas meninggalkan dunia pelayaran dan logistik yang keras itu. Mulai dari pekerjaan production assistant yang melelahkan itu, reporter, UPM dadakan di Menggapai Mimpi, dan yang paling lama adalah sebagai Programmer di TV. Jika saja karir itu bisa digambarkan dalam selembar kanvas, maka pastilah kanvas saya penuh dengan berbagai warna indah.

Saya teramat sangat mencintai dunia pertelevisian ini. Bukan karena sifat glamour seperti yang dilihat orang awam. Tetapi dunia ini punya interaksi kuat dengan khalayak banyak. Di akui atau tidak, dunia ini punya peran membangun karakter bangsa. Mungkin saya berlebihan. Tapi, beberapa keponakan di rumah adalah snapshoot dari kuatnya pengaruh sebuah kotak bernama televisi. Dampaknya, saya sudah kehilangan nikmatnya tahu campur atau bakso solo saat keluarga besar kami memutuskan makan di luar. Karena mcdonald dan kentucky telah menjadi makanan favorit mereka, bahkan mereka ingat iklannya dengan detil….Sebagai programmer TV, maka sesungguhnya saya akan punya kontribusi (meskipun sedikit) dalam memberi warna pada layar kaca. Apalagi, tugas belumlah usai. Dengan posisi hanya no.2 itu berarti sepanjang waktu karir saya akan tercatat kalah oleh RCTI!!! ***(hanya Tuhan yang tahu betapa bencinya saya menjadi loser).

Saya juga teramat mencintai TRANS TV. Bukan saja karena di sinilah saya mengenyam pendidikan broadcast. Tapi saya sudah inheren dengan kultur kerja keras dan santun mereka. Begitu banyak guru di sana dimana hutang budi berupa ilmu itu akan melekat hingga akhir hayat. Tapi kemudian, saya teringat ucapan seorang besar, if what you have done yesterday still looks big to you, you have not done much today. Poinnya, saya tidak boleh terjebak dalam masa lalu. Saya harus menghitung apa yang akan dilakukan berdasar kebutuhan masa kini dan masa mendatang.

Praktis hanya keluarga dan dua orang tua saya di TRANS, Kang Ule dan pak Rachmad, yang mendukung keputusan saya untuk menerima tawaran itu. Pertama, tawaran kenaikan kesejahteraan itu akan menghemat waktu sebagai profesional. Andai bertahan, maka akan lebih dari 4 tahun untuk mencapai angka itu. Begitu keterangan pak Rachmad (masih otak seorang bankir). Kedua, dari kang Ule–seperti biasa agak extraordinary, tawaran itu juga jadi pintu bagi saya untuk lepas dari kenangan masa lalu. Kenangan dan kebanggaan yang bisa menjadi buaian terhadap pribadi saya sendiri. Lanjutnya, mumpung masih muda, kejarlah terus warna lain dalam hidup, sampai kamu temukan batasmu…..

Dan, sejak 5 Maret lalu, resmilah saya bergabung dengan keluarga besar SWA Media Inc, market leader di bidang majalah bisnis di negeri ini. Ternyata, dengan cepat pula saya diterima sebagai anggota baru di sini. Tugas saya bukan saja sebagai manager riset dan data bisnis (itu hanya status), tetapi lebih pada memberi nilai tambah pada tempat karir baru ini. Bila tidak, saya hanya akan menjadi benalu di sini. Mulai tanggal itu pula, hari saya benar-benar penuh warna. Membaca dan membaca. Pikiran terus diguyur hal-hal baru, dan itu pasti sangat menyenangkan….

Tanah Abang,15 Maret 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: