Politik Berke-TUHAN-an

*Renungan Jum’at*

Tahun politik ini menarik saya untuk memperdalam banyak hal terkait ilmu komunikasi. Mulai dari teknik propaganda yang digunakan masing-masing tim paslon pilpres, sampai konten kampanye tiap partai.

Beberapa waktu terakhir, salah satu partai yang saya beruntung melihat dekat “ramuan komunikasi”nya adalah Partai Nasdem. Nasionalis religius dimaknai dengan komitmen Nasdem merawat konsensus kebangsaan NKRI, menjaga ideologi negara dan menaungi keberagaman. Semua jargon dan konten politik soal ini sudah khatam lah kita lihat dari layar televisi.

Namun, saya tertarik dengan sisi religius, dari jargon politik sampai perilaku yang ditampilkan partai ini menurut saya jauh lebih religius dibanding partai yang mendeklarasikan dirinya berplatform agama. Tanpa kompromi terhadap praktek korupsi, ditunjukkan dengan politik tanpa mahar yang ditengarai cikal bakal politik uang dan cost of politic. Tidak memberi ruang pada penggunaan fasilitas negara dengan larangan menteri kader Nasdem ikut dalam pemilu legislatif. “Elektoral itu penting, tapi menjaga nilai kebenaran terpenting.” Ucap SP.

Di saat banyak “ulama” di media massa hobi mengumbar sikap anti toleransi, membid’ahkan tradisi kultural seperti shalawatan-tahlilan-manakiban dan ziarah. Surya Paloh justru melakukan sebaliknya, merayakan tradisi keagamaan tersebut. NU banget ini orang, batin saya.

Terakhir, rabu lalu, si Ketum berpesan tentang nilai religi yang mencerahkan. Menghargai sikap politik yang berbeda sebagai rahmat Tuhan Maha Esa. Menjaga kesantunan politik, dan sebaliknya melawan amoralitas politik seperti memecahbelah, menghasut, berbohong dan merendahkan kemanusiaan dengan ejekan atau makian.

Agama itu mencerahkan dari kegelapan menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhan, kata si Ketum yang selalu berpenampilan khas dengan brewoknya ini. Politik berke-Tuhan-an itu membawa nilai Islam yang menebar rahmat. Bukan di satu sisi kita bertakbir tentang Tuhan Maha Besar, di saat yang sama kita bersifat iblis, merasa diri lebih tinggi dari orang lain.

Dan, ajaibnya, kalimat dia itu sebangun dengan tulisan adem ketua PP Muhammadiyah, Kiai Haidar Nasir, di sebuah harian nasional. Agama itu membawa nilai moralitas dalam kehidupan termasuk politik. Saya sempat kecewa juga sih pemikiran SP ternyata sangat Muhammadiyah dalam hal ini, batal deh saya NU-kan πŸ˜‹

Tapi saya pikir saya tetap beruntung. Harapan saya semua partai mengejar elektoral dengan keberadaban. Di mulai dari merayakan perbedaan kita, kemudian berpikir dan berikhtiar dengan apa yang kita bisa untuk kemajuan pribadi, keluarga dan negara yang kita cintai ini.

Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq. Wassalam.

Author: Arief Adi Wibowo

Experience Business Strategist, Media Executive, Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s