Kemenangan Sains di Dua Dunia

H-14 Quick Count saya diminta tolong redaksi dan produksi gabungan Transmedia untuk cari pollster dari pihak 02. Perintah Pak Chairul Tanjung harus imbang dua pollster dari 01, dua dari 02 dan penengah Litbang Kompas. Kebetulan saya punya koneksi untuk dapatkan informasi itu, ketemu dua nama yang terkonfirmasi dari beberapa orang penting di kubu Prabowo-Sandi : Median dan Kedai Kopi. Media digawangi Rico Marbun (kader parpol PKS di koalisi 02) dan Kedai Kopi (Hendri Satriago). Saya sudah janji disclaimer sumber dananya, jadi jangan nanya yaa..

Saya mengenal Hendri Satriago sebagai peneliti dan pengajar ilmu sosial khususnya komunikasi yang berdedikasi dan punya disiplin etik. Jadi percaya beliau akan benar dalam eksekusinya ga tipu-tipu macam 3 pollster di 2014 yang ditayangkan luas oleh sebuah stasiun berita, kasian ada paslon yang kena jebakan kebohongannya. Hasil QC Kedai Kopi lalu adalah 54.45% untuk paslon Jokowi-Maruf Amin berbanding 45.55% Prabowo-Sandi.

Pun demikian dengan hasil Median, kemenangan untuk 01 atas 02 dengan selisih hampir 10%. “QC itu statistika paling basic. Diikuti saja urutannya, semua bisa bikin QC, tinggal keteracakan sample dan besarnya saja menentukan akurasinya. Pembuktiannya pun mudah, pollster tinggal buka formulir C1 di TPS yang jadi sample-nya,” Kata kawan pollster.

Saya mau lompat ke masa sekarang, usai menonton film “End Game”. Anak saya, Sandiaga Abdurrahman Jusuf, hampir menangis melihat jagoannya gugur. Momen psikologis yang tidak boleh saya lewatkan. Habis memberikan pelukan, saya katakan,”Dia gugur sebagai pahlawan untuk menyelamatkan dunia. Husnul khotimah itu tujuan setiap manusia yang hidup, Bang.” “Pahlawan sejati dalam episode terakhir Marvel The Avengers ini adalah sains. Matematika dan fisika. Jika tidak ada sains, mustahil para manusia super itu bisa bikin mesin waktu untuk melawan Thanos. Abang lihat bedanya Ironman dengan super hero lain? Jika yang lain super karena bakat atau memang menerima kekuatan super, Ironman super karena kecerdasannya menguasai math dan science. Jadi jangan malas kalau disuruh Ibuk belajar ya…”Lanjut saya.

Begitulah sains. Di dunia nyata maupun fiksi seperti film, ia jadi faktor penentu. Sejarah menceritakan bagaimana peradaban kita pernah gelap karena keyakinan buta dan irasionalitas, menjadi terang benderang karena cahaya sains seperti yang kita nikmati sekarang.

Selamat akhir pekan!