Teropong Untuk Memetakan Dapil

November 2013,

Panggilan sekretaris BOD siang itu sungguh mengganggu jadwal. “Bapak mau Mas Arief segera ke ruangan!”

Kita pakai 101 alasan yang biasanya moncer untuk menunda dulu panggilan agar agenda-agenda kerja saya yang numpuk bisa dicicil dulu, tidak mempan. Sambil ngedumel, kita masuk ruangan Vice President Director Metro TV, Pak AB. Di situ pertama kali, saya rapat serius dengan Pak AB dan satu lagi nama yang saya cuma pernah denger dari teman-teman kantor sebagai orang tertinggi di Media Group, Mbak Rerie. Dan kolega kantor saya, Kiki Taher. Agendanya satu, beliau-beliau ingin saya kerjakan survei politik untuk Partai Nasdem. Sebuah survei independen. Murah tapi cepat!

Terakhir saya mengerjakan hal beginian di 2008-2010. Secara kebetulan, lewat seorang senior, bisa masuk ke dalam lingkar dalam dan dipercaya menghandle sebuah war room bayangan bernama Mangunsarkoro. Pertama kali, saya bersyukur bahwa ilmu pemodelan matematik mantan fisikawan Unair dan riset operasi lulusan Teknik dan Manajemen Industri ITS ini bisa terpakai, kombinasi bersama pemahaman baru profesi tentang riset media.

3 minggu kemudian. Hasil risetnya, bikin bos-bos yang nyuruh jadi ketar-ketir. Dan bertanya,”serius ini hasilnya? Kok jauh, Rief?” maksud dari kata jauh ini adalah hasil riset saya menunjukkan elektabilitas yang jauh di bawah angka yang disodorkan beberapa konsultan politik ternama, yang punya angka spektakuler, bahwa partai baru ini akan menang pemilu. Mungkin angka riset dari tim saya tidak menyenangkan, tapi saya yakin kebenarannya. Mulai dari pembangunan kuesioner, sampling, collecting data sampai QC saya kawal total. Pun jaringan surveyor saya kenal luar dalam kelakuannya. Saya haqqul yaqin jika partai ini tidak akan menang belasan persen di pemilu legislatif.

Alhasil, bos anggap hasil saya salah, kecuali Pak AB. Beliau minta saya pertajam pemetaan per dapil. “Saya mau ga Cuma snapshot kondisi sekarang, tapi kamu bisa prediksi siapa-siapa yang potensi menang, menang perlu dibantu dan kalah. Beri rekomendasi.”

Januari 2014,

Saya dan tim merampungkan kerja besar. Peta dapil Indonesia. Kami menggabungkan kerja kualitatif dan kuantitatif. Melibatkan puluhan etnografer yang terjun di setiap dapil untuk memadukan temuan mereka dengan para desk researcher serta surveyor kuantitatif.

Fase besar pertama kombinasi desk research tentang gambaran dapil, kami sebut sebagai “field understanding”. Lalu tools yang kemudian kami sebut “social listening” berupa temuan etnografer di lapangan, dan tangkapan mesin big data analytic. Dan in-depth interview yang melibatkan puluhan tokoh di dapil termasuk caleg (gambar di bawah).

dapil 1

Secara parallel, tim kuantitatif berjalan. Tools kami merekam pergerakan tingkat awareness – akseptibilitas – elektabilitas – netpromoter score. Di mana kami formulasikan dalam tiga kategori : solid mindshare – moderate mindshare – prospect mindshare. Secara gampang, solid mindshare menggambarkan kandidat sudah pasti lolos senayan. Moderate punya level probalitas 70 – 90%. Di bawah itu prospect 50-60%. Di luar ketiganya, tidak bakal masuk senayan. Contoh di bawah :

dapil 2

Di luar hasil-hasil temuan di atas, tim berhasil merangkum “barrier communication” per caleg. Dan menghitung gap antar barrier tersebut, sehingga bisa diprediksi dengan cermat apakah kandidat benar-benar punya peluang masuk ke Senayan, atau akan potensial membuat dana kampanye mubazir belaka.

Hasilnya, ada 2 nama saja dipastikan masuk senayan, dan 35 nama yang diprediksi masih punya peluang menghuni Senayan dari partai. Dan lagi-lagi tidak menyenangkan, karena gambaran yang melayang-layang dari konsultan adalah minimal 100 kursi. Dan ditambah embel-embel prediksi menakutkan, yaitu di ambang tidak lolos threshold.

Bagi tim? Nothing to lose saja, ga didengar syukur, kalau didengar ya nambah pekerjaan.

Februari 2014,

Dampak dari sebuah peristiwa tanggal 24 Februari yang seakan mengonfirmasi hasil riset tim sebulan lalu, tentang buruknya peta kekuatan DKI-Banten-Jabar terutama. Dan beberapa kemudian bersusulan, beberapa lembaga riset seolah “meralat” potensi menang pemilu hingga di level 3.5 – 4% saja!

Dipastikan masa kerja tim lebih panjang lagi. Lanjut hingga tuntas april 2014. Pekerjaan pun bertambah di samping job desc rutin yang ada. Melelahkan tentunya, tapi sekaligus menjadi titik awal penugasan. Dan menguatkan kemampuan dalam urusan teropong-meneropong.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s