Ancaman terdegradasinya Bursa Efek Indonesia (BEI/IHSG) menjadi standalone market (pasar yang terisolasi dari indeks global seperti MSCI atau FTSE, tidak lagi masuk kategori Emerging maupun Frontier Market) dapat dibedah secara tajam melalui lensa pemikiran Yuval Noah Harari.
Jika kita meminjam kerangka berpikir Harari dari Sapiens, Homo Deus, hingga Nexus, krisis di bursa saham pada dasarnya bukanlah krisis angka atau fundamental fisik perusahaan, melainkan krisis kepercayaan terhadap sebuah fiksi bersama (mitos) dan pemutusan dari jaringan informasi global.
Berikut adalah kaitan esensi pemikiran Harari dengan situasi tersebut, yang bermuara pada jawaban atas pertanyaan: Can Indonesia truly standalone?
1. Bursa Saham sebagai “Fiksi Bersama” Tertinggi (Sapiens)
Menurut Harari, uang, pasar modal, dan indeks global (seperti MSCI) tidak memiliki realitas fisik; mereka adalah “realitas inter-subjektif” atau fiksi yang hanya bekerja karena jutaan investor global mempercayainya.
- Ancaman Standalone: Ketika lembaga pemeringkat indeks mengancam Indonesia dengan status standalone, mereka pada dasarnya sedang berkata: “Cerita (mitos) tentang tata kelola, likuiditas, dan regulasi pasar modal Indonesia sudah tidak lagi sejalan dengan cerita yang dipercayai oleh komunitas global.”
- Jika kepercayaan kolektif global terhadap “Fiksi Pasar Modal Indonesia” runtuh, modal akan menguap, terlepas dari seberapa nyata nikel yang kita tambang atau seberapa besar populasi konsumen yang kita miliki.
2. Dikte Algoritma dan Dataisme di Pasar Modal (Homo Deus)
Dalam Homo Deus, Harari memperingatkan lahirnya Dataism, di mana algoritma memegang otoritas atas keputusan manusia. Pasar saham modern tidak lagi digerakkan oleh pialang manusia yang berteriak di lantai bursa, melainkan oleh passive funds (seperti ETF) dan algorithmic trading.
- Eksodus Otomatis: Jika Indonesia diklasifikasikan sebagai standalone market, algoritma manajer investasi global (seperti BlackRock atau Vanguard) akan secara otomatis, tanpa ampun, dan tanpa sentimen, mengeluarkan saham-saham Indonesia dari portofolio mereka. Ini adalah bukti nyata kekhawatiran Harari: nasib ekonomi sebuah negara berdaulat bisa dihancurkan dalam hitungan detik oleh baris kode algoritma yang hanya patuh pada klasifikasi data (indeks).
3. Hukuman Pemutusan Jaringan (Nexus)
Dalam buku terbarunya, Harari menekankan bahwa sejarah manusia adalah sejarah perluasan jaringan informasi. Kekuatan sebuah entitas (negara/perusahaan) ditentukan oleh posisinya dalam jaringan tersebut.
- Status standalone market adalah bentuk “ekskomunikasi” atau pengucilan dari jaringan kapital dan informasi global. Dalam dunia yang saling terhubung, diputus dari Nexus finansial dunia berarti tercekik secara ekonomi.
Menjawab Pertanyaan Utama: Can Indonesia Truly Standalone?
Jawabannya: TIDAK. Secara ekonomi dan strategis, Indonesia tidak bisa benar-benar berdiri sendiri (standalone).
Meskipun narasi politik domestik sering kali mendengungkan “kemandirian bangsa” atau “kekuatan ekonomi domestik”, melalui kacamata Harari, gagasan isolasi di abad ke-21 adalah sebuah ilusi yang berbahaya. Berikut alasannya:
1. Realitas Fisik vs. Narasi Kapital
Secara fisik, Indonesia mungkin merasa bisa standalone. Kita punya 280 juta penduduk, nikel, batu bara, sawit, dan pasar domestik yang besar. Namun, seperti kata Harari, Homo sapiens menguasai dunia bukan karena realitas fisik, tapi karena kemampuannya memobilisasi sumber daya massal lewat cerita (kapital/uang). Ambisi besar Indonesia—seperti proyek Hilirisasi, transisi energi hijau, dan pembangunan IKN—membutuhkan kapital yang masif. Kapital itu berada di tangan jaringan global. Tanpa akses ke investasi portofolio dan pasar modal global, mesin pertumbuhan akan kehabisan bahan bakar.
2. Ketidakmampuan Mendikte Mitos Global
Untuk bisa benar-benar standalone, sebuah negara harus memiliki narasi (mitos) yang begitu kuat sehingga negara lain yang harus tunduk padanya (seperti Amerika Serikat dengan dominasi Dolarnya, atau Tiongkok dengan kekuatan pasarnya yang terpusat). Indonesia saat ini adalah price taker, bukan rule maker. Kita belum memiliki kapasitas untuk memaksa investor global bermain dengan “aturan lokal” kita jika aturan tersebut bertentangan dengan standar inter-subjektif global (transparansi, perlindungan investor minoritas, likuiditas, kemudahan keluar-masuk dana).
3. Bahaya Menjadi “Entitas yang Terabaikan”
Harari memperingatkan bahwa ancaman terbesar di abad 21 bukanlah eksploitasi, melainkan irelevansi (tidak lagi dianggap penting/berguna). Jika bursa saham Indonesia menjadi standalone, kita bukan sedang melawan hegemoni asing, melainkan sedang meluncur menuju irelevansi di mata kapital global. Di era di mana kekuatan modal beralih ke sektor-sektor AI, bioteknologi, dan teknologi canggih global, pasar yang tidak likuid dan terisolasi akan dilupakan begitu saja oleh algoritma investasi.
Kesimpulan:
Pemikiran Harari mengingatkan kita bahwa kekuatan Indonesia tidak terletak pada kemampuannya untuk menutup diri, melainkan pada kemampuannya untuk beradaptasi, bekerja sama, dan mengorkestrasi posisinya di dalam ekosistem global yang lebih besar. Mengizinkan bursa saham jatuh ke status standalone market adalah sebuah kemunduran evolusioner dalam sistem finansial, karena ia memutus Sapiens Indonesia dari jaringan kerja sama terbesar yang pernah diciptakan umat manusia: pasar modal global.
