​Tren Data dan Informasi (2) : Teknologi Informasi dan Internet

Perkembangan teknologi informasi begitu menakjubkan dalam satu decade terakhir, tidak saja berdampak pada semakin kompleksnya kemampuan dan kecepatan computer melainkan juga mengubah kebiasaan manusia. Dalam tulisan Chris Robert dalam Buku Communication Technology Future, mengenai personal computers, menyebutkan secara rata-rata manusia menghabiskan sekitar 33 jam per minggu untuk terhubung dengan computer dibandingkan layar televisi. Hal ini juga tercermin di data makro yang dipaparkan Gartner tahun 2008 bahwa penjualan computer di dunia meningkat lebih dari 13% setahun sehingga Time Magazine menyebut computer sebagai “machine of the years”.
Berangkat dari kemampuan mirip kalkulator, kini dari seluruh elemen yang membangun sebuah computer (hardware dan software) terus meningkat kemampuannya. CPU sebagai otak dari computer semakin meningkat kemampuan memproses data lewat semakin majunya teknologi microprocessor. Demikian pula dengan meningkatnya kapasitas memory baik berupa random access memory (RAM) yang berperan dalam penyimpanan sementara selama pengolahan di prosesor hingga storage memory.

Piranti lunak (software) berupa perintah-perintah programming semakin user friendly. Demikian pula dengan system operasi yang menjadi dirigen di antara piranti keras dan mengelola aplikasi-aplikasi piranti lunak. Persaingan antara Apple OS X, UNIC ,Microsoft membuat system operasi semakin powerful dengan cepat. Saat ini Microsoft masih mendominasi pasar dengan penguasaan system operasi Windows yang mencapai hampir 90%, diikuti system operasi Linux 6.5% dan Apple7.3%.

Moore sejak tahun 1965 telah memprediksi peningkatan kemampuan komputasi secara eksponensial atau dikenal sebagai Hukum Moore. Terobosan-terobosan teknologi transistor di mulai dari perkembangan micro electronic yang memungkinkan transistor dibuat dalam ukuran sangat kecil dan dipadukan dalam multicore sehingga mampu mengelola informasi beragam secara bersamaan. Straubhaar-Larose-Davenport dalam bukunya yang lain menyebutkan terdapat 3 trend yang layak dicermati akibat Hukum Moore ini : teknologi komputer, teknologi jaringan dan teknologi internet.

Teknologi komputer didorong oleh perkembangan ukuran komputer yang semakin ringan dan kecil, dan kemampuan multimedia yang memungkinkan komputer menjadi alat yang lebih baik dalam membantu pekerjaan sehari-hari hingga nyaman dalam menikmati konten-konten hiburan. Kapasitas memory yang semakin besar dan murah memungkinkan pengguna dapat menyimpan konten hiburan dalam beragam format audio-visual. Komponen-komponen yang makin kecil ukuran namun makin besar kemampuan elektronik membuat komputer dapat pula dicangkokkan fungsi telepon, sebuah konvergensi komputer dengan multimedia.

Teknologi jaringan berkembang dengan kehadiran modem-modem berkecepatan tinggi. Medium koneksi seperti serat optik memungkinkan transfer dan sharing data antar komputer berlangsung cepat dalam skala besar.  Trend teknologi jaringan di masa mendatang adalah jaringan nirkabel (wireless). Generasi ketiga (3G) dan generasi keempat (4G) dalam telpon seluler memungkinkan komunikasi antar sistem jaringan berlangsung makin cepat. Wifi menawarkan broadband wireless dapat diakses dari “hotspot” dan terus meningkat penggunaaannya di airport, kampus, mall, café hingga dalam rumah tangga.

Dua trend di atas diikuti tren internet. Perkembangan internet protocol versi 6, IP version 6, meningkatkan kapasaitas hingga triliunan alamat (address). Cloud computing menjadi fenomena menarik, membuat Google, Microsoft dan perusahaan internet mengembangkan bisnisnya ke arah ini. Sebagai contoh, Google Doc dan Spreadsheet memungkinkan kita melakukan pekerjaan rutin tanpa memerlukan sebuah hard drive dan aplikasi. Kita hanya membutuhkan layar, keyboard dan koneksi internet. Markup language pun berkembang memungkinkan programmer membuat tags sendiri. Tags merupakan perintah untuk browser bagaimana menampilkan dokumen hingga mengatur tampilan. HTML versi 5 berkembang memungkinkan kombinasi semantik antar fitur web dengan multimedia.

Di sisi lain, seperti diulas dalam buku Media Now karya Straubhaar-Larose-Davenport,  kelahiran internet pada 1972 yang bermula dari sebuah proyek kementerian pertahanan Amerika Serikat bernama ARFANET memicu revolusi informasi luar biasa. Secara sederhana, ide dari internet adalah membuat antar computer dapat saling berkomunikasi satu sama lain dalam sebuah jaringan (network). Komunikasi dalam jaringan ini diatur oleh sebuah protocol dasar bernama TCP/IP (transmission control protocol/internetnetworking protocol). Tahun 1991 sebuah terobosan teknik programming memungkinkan pengguna umum/komersial dapat saling berkomunikasi. Terobosan ini dilakukan Tim Berners-Lee dari CERN Laboratory lewat Bahasa pemrograman hypertext markup language (HTML) sekaligus web browser pertama yang mampu menyelesaikan masalah dalam mengirimkan data text melintasi antar system computer. HTML merupakan pondasi dari apa yang kita kenal kemudian sebagai World Wide Web (WWW).

Era internet memicu bergeraknya korporasi-korporasi semacam America Online (AOL) dan Netscape bersaing memperebutkan pasar internet provider. Fenomena bisnis baru bermunculan seperti berdirinya Amazon.com sebagai toko buku elektronik yang kemudian ditransformasi oleh sang pendiri, Jeff Bezos, menjadi sebuah mega mall online.

Dampak dari perkembangan internet adalah dampak kultural. Dari sisi positif, internet menjadi sebuah tempat untuk membuat kawan baru, menjalin lagi hubungan dengan kawan lama, berperan dalam debat publik, berdagang atau membeli hingga belajar dari tokoh politik secara langsung. Namun di sisi lain, internet menghadirkan dampak buruk seperti kecanduan game online, pornografi, plagiasi (pencurian hak intelektual) hingga pencurian data-data personal. Faktor-faktor inilah yang memicu pemerintah mengambil peran dalam membatasi konten secara selektif.  Seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia dalam melakukan sensor terhadap website dengan muatan pornografi.

Fenomena lain yang berkembang dari era internet ini adalah media sosial seperti yang ditulis oleh Lon Safko dalam buku Social Media Bible.

Apakah Social Media itu? Media yang kita gunakan utk ber-sosial. Social merujuk pada kebutuhan instinsik bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan manusia lainnya. Kebutuhan untuk berbagi pemikiran, ide dan pengalaman. Media merujuk pada membuat koneksi dalam hubungan dengan manusia lain. Seperti, tulisan, foto, audio, video, mobile phone, SMS, email, websites, telegrap dan lain-lain.

Social Media hanyalah seperangkat tools, teknologi baru yang memungkinkan kita secara efektif  dan murah membangun hubungan dengan customers/public. Seperti halnya telepon, email, iklan cetak, radio dan televisi. Alasan bahwa social media lebih efektif daripada marketing tradisional yang sudah dikembangkan selama 6000 tahun lalu adalah kemampuan social media membuat komunikasi dua arah.

Sebuah “pergeseran kekuatan komunikasi secara fundamental” terjadi dari komunikasi terpusat menjadi dua arah terjadi ketika kita tidak bisa lagi melakukan control terhadap pesan komunikasi perusahaan/organisasi kita. Di saat consumer tidak lagi percaya iklan. Di saat consumer hanya mau mendengar/percaya informasi dai orang yang mereka tahu, orang yang berhubungan dengan mereka, dan berbagi ikatan tersebut melewati kepercayaan.

Word of Mouth. Analogi komunikasi face to face tentang pelanggan yang marah akan memberitahu lebih dari 20 orang lainnya tentang pengalaman buruk mereka, dengan facebook, blogs dan twitter 20 orang tersebut akan menjadi 20.000 orang bahkan 200.000 orang dalam tempo singkat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: