RAM : Antara Keluarga dan Karir

“Rief, Ada lowongan pekerjaan di Jakarta.” Begitu isi SMS pak rAM. Sontak saja aq terkejut karena pengirimnya adalah rAM. rAM sudah duduk di top management ketika aku baru belajar mengenal konsep manajemen pelayaran modern di entry level Meratus Group. Ia sudah punya pengalaman segudang di pelayaran&logistik, ketika aku baru belajar apa itu Bill of Lading ato shipping terminology.

“pak rAM pasti bercanda.”Balasku sambil mengenang betapa besarnya nama beliau di Tanjung Perak dulu.

“Serius. Saya mau resign dari Meratus.” Balas SMS rAM.

Akhirnya aku mengetahui alasan salah satu guruku di bidang transportasi dan logistik ini. Keluarga. Ya, keluarga. Keputusan yang harus diambil ketika mertua dan orang tua rAM sendiri yang sudah sepuh membutuhkan perawatan. Karena pengabdian sebagai anak, sang Istri mengurus keperluan orang tua mereka di Bandung. Demikian pula anak-anak rAM yang masih sekolah. Sementara itu, perusahaan belum juga merestui permintaan rAM untuk pindah ke Jakarta dalam posisi apapun.

Luar biasa. Ketika bertemu rAM pada sela-sela kesibukannya menawarkan diri ke beberapa perusahaan di Jakarta, ia masih menunjukkan keceriaan seperti biasa. Energi positifnya terpancar dalam tiap ucapannya. Meskipun, dia akui sendiri sampai saat itu belum ada pekerjaan untuknya.

“Apapun akan ku lakukan untuk keluargaku,Rief. Karena segala materi di dunia ini masih bisa dicari, tapi tidak cinta seorang anak,istri dan orang tua. Soal rezeki sudah ada yang mengatur…selama kita berusaha tidak akan putus rezeki pada kita” Begitu rAM menutup perjumpaan singkatku dengannya.

(Trims, Bos. Saat ini sampeyan bukan saja guru di bidang pelayaran, melainkan telah menancapkan pemahaman dengan contoh yang luar biasa tentang arti pengorbanan dan keluarga….)

Growth & Innovation

Hermawan Kartajaya terlihat sangat bersemangat dalam MarkPlus Conference pada hari itu, 14 desember 2006. Ada yang berbeda pada diri guru marketing ini, pancaran wisdomnya semakin luar biasa. Di akhir sesi barulah aku tahu jawabnya mengapa terlihat seperti itu,memasuki umur ke 60 dia bertekad menjadi seorang confusius. Sosok yang waskita dan tidak lagi toleran pada kesalahan.”Mumpung masih 59 tahun,aku masih boleh salah…tapi tahun depan tidak boleh lagi,”tutur pria berkacamata yang masih saja tampak bersahaja di dalam segala kebesaran dirinya.

Beralih dari aura sang guru,aku sangat tertarik dengan tema besar yang diusung oleh beliau untuk menutup tahun ini:Growth&Innovation. Dalam dunia yang tanpa batas, arus barang&jasa merembes cepat menemui konsumen,persaingan telah menjadi begitu kejam. Growth menjadi kata yang sangat sulit diwujudkan. Lihat saja komentar Jon Fine soal dropnya nilai saham Viacom di tahun ini,karena tidak bisa mencetak growth seperti harapan pasar maka terkoreksilah saham viacom, padahal sebenarnya kinerja bisnis Viacom sangat bagus.

Harapan memang sangat membahana di acaranya para marketer ini. Optimisme untuk kondisi ekonomi yang lebih baik di 2007. Tercermin dalam guratan tren indikator makro yang terus membaik.

Lepas dari kondisi pasar, innovation adalah resep yang harus dilakukan perusahaan untuk dapat terus tumbuh. Dalam survei tahunan IBM terhadap para CEO disebutkan bahwa inovasi yang dibutuhkan saat ini adalah rethinking business model. Innovation tingkat tinggi ini berarti memikir ulang bisnis dari proses bisnis yang berlangsung hingga bisnis itu sendiri. Perlu keberanian. Karena bisa jadi hal ini merubah DNA yang sudah melekat dalam perusahaan. Seperti keberanian Nokia untuk meninggalkan bisnis hasil bumi mereka dan memasuki industri padat teknologi.

“Sangat berat.Itu pasti yang dirasakan semua elemen dalam perusahaan.”Demikian tutur Immelt, CEO GE dalam sebuah wawancara dengan Fortune. Selain harus meninggalkan cara-cara lama dan belajar cara baru, sikap mental harus ditata-ulang. Tuntutan demikian hebat terhadap innovation membuat para pelaku bisnis harus memiliki sikap mental yang kuat,haus pencapaian dan memperbaharui pengetahuan dan kompetensi yang sejalan dengan kebutuhan zaman. Semua hal yang pasti sangat membutuhkan energi besar…

(Oleh-oleh dari MarkPlus Conference 2006)Gr

Menghadapi Kompetisi dengan Optimisme

Rencana soft launching Forbes Indonesia bulan Februari tahun depan sempat membuat suasana di SWA diliputi kekhawatiran. Betapa tidak, selain Forbes,banyak nama besar dari luar negeri mengincar manisnya pasar di negeri ini. Belum lagi geliat kelompok media raksasa dalam negeri. Bagaimana dengan SWA?

Meskipun relatif merupakan nama baru di SWA dan dunia cetak, aku bangga berada di sini. Menjadi saksi betapa berkobarnya sebuah optimisme menghadapi kekuatan-kekuatan raksasa yang bakal menyerbu masuk. Betapa tiap insan SWA bertekad bahu-membahu melakukan lompatan lebih jauh lagi. Memuaskan pembaca menjadi sebuah tujuan tunggal yang tulus, dan ikut mendorong dunia bisnis negeri ini yang sedang terpuruk untuk bangkit.Meluncurnya edisi “double issue” SWA (yang akan semakin sering frekuensinya di masa mendatang) dengan berbagai perbaikan dari sisi kedalaman konten hingga perwajahan adalah bukti dari membaranya optimisme itu.

Bagi aku pribadi, baik oplah maupun perolehan iklan yang terus membaik hanyalah indikator dari hasil akhir sebuah proses dalam industri cetak. Hal yang menakjubkan dan menjadi kenangan abadi adalah keterlibatan secara penuh dari sebuah perubahan. Merasakan betapa dahsyatnya luapan semangat. Menyaksikan bola mata yang menyala dari sebuah optimisme……