Hikmah : 3 Sikap Seorang Pengubah

(Biasanya setiap penerbitan SWA, aku memulai membaca dari setiap karya yang berhubungan erat dengan riset SWA. Alasannya sederhana, karena itu adalah tanggung jawab profesionalku. Tapi untuk edisi ke 23 ini agak berbeda….,saya memulainya dari tulisan pak Paulus Bambang tentang 3 sifat seorang pengubah. Sengaja saya cuplik langsung pada beberapa bagian yang saya anggap inti dari tulisan beliau. Silahkan menikmati…)

“God grant me the SERENITY to accept the things I can not change, COURAGE to change the things I can and WISDOM to know the difference.”

Ada tiga sikap yang perlu menjadi pertimbangan dalam menangani sebuah perubahan. Baik perubahan soal nilai hidup, pekerjaan, keluarga, ekonomi maupun bidang spiritual sekalipun.
Sikap pertama soal perubahan yang penting adalah SERENITY. Suatu sikap yang tenang, tentram, dan berani menerima kenyataan bahwa banyak hal yang tidak mungkin kita bisa ubah, apalagi secara frontal dan instan. SERENITY berarti berani berkontemplasi, mampukah melakukan perubahan. Kalau tidak, hanya dua pilihan. Menerima kenyataan itu dengan legowo, bukan lantas frustasi dan apatis. Hanya butuh kesabaran untuk menjadi pengubah.
Sikap kedua adalah COURAGE, semangat melakukan perubahan kala kemungkinan itu ada. Menggunakan otoritas yang ada untuk melakukan perubahan adalah mutlak. Kebenaran harus di atas kebaikan. Nilai-nilai hidup harus di atas kinerja bilangan.Sebuah keberanian yang hakiki yang mutlak bagi yang menganut “principles driven leadership”.
Sikap ketiga adalah pada aspek WISDOM,kebijakan membedakan kapan memakai senjata SERENITY dan kapan mengayunkan COURAGE. WISDOM bukan berarti kompromi dalam arti sempit. WISDOM adalah simbol kesadaran mutlak kapan harus mengalah dan kapan harus mengalahkan. Sikap ini hanya bisa dipupuk dengan Knowledge dan Knee. Knowledge berarti pengetahuan dan pengalaman. Knee berarti banyak berdoa alias modal dengkul kepada sang Pencipta……

(Dicuplik dari tulisan pak Paulus Bambang WS, SWA edisi 23/2006)

Porter (1): You Must Change Your Mindset about Competition!!!

Suasana di Shangri-La cukup ramai pada rabu pagi 29 November 2006. Maklum, ada 3 sesi yang direncanakan diisi oleh seorang guru dari Harvard,Michael Porter. Rencananya sang Guru akan menyapa para CEO,Akademisi dan Praktisi Bisnis Indonesia. Antusiasme ini sangat wajar, mengingat konsep Porter terutama dalam kajian strategi bisnis sudah melegenda sejak lama. Sebagai anak kemarin sore, wajar bila aku begitu tak sabar untuk melihat the Most Influental Guru ini. Meskipun jujur saja, dulu aku sempat tidak menyukai mata kuliah berbau strategi bisnis, karena “masak sih strategi itu bisa digenerikkan…alangkah membosankannya dunia bisnis bila itu terjadi.” Hehehe…masa lalu yang naif. Karena seharusnya kita bisa belajar pada siapa saja, bidang apapun, membekali diri menghadapi dunia yang semakin tak berbatas ini….

Ternyata, sang Guru telah sempat melakukan audiensi dengan pihak pemerintah (dalam hal ini pak Yusuf Kalla), tercuplik dalam sambutan Ibu Sri Mulyani. Wah, baguslah ternyata pemerintah kita menunjukkan semangat belajar yang kuat (semoga juga semangat bertindak).

Dalam tulisan kali ini, langsung saja ke pernyataan Porter yang cukup menggugah pagi itu. Menjawab pertanyaan mengapa pemerintah maupun dunia bisnis negeri ini terlihat begitu tertatih untuk bangkit. “You guys always think about how to get a piece of pie….never thinking how to make that’s pie bigger than before,not only in a piece.”Ujarnya.

Dalam dunia bisnis, seringkali seperti itulah nafsu yang melandasi setiap tindakan bisnis. Seringkali dalam berkompetisi,mulai dari set-up strategi hingga eksekusinya, kita terjebak dalam batasan-batasan yang kita ciptakan sendiri. Porter menggarisbawahi bahwa sesungguhnya kue itu sendiri tidak statis,karena kue itu mencerminkan ukuran pasar yang dinamis. Bisa mengembang dan mengerut. Dalam bahasa yang lain, prof.Chan memberikan penekanan untuk menciptakan samudera biru (blue ocean) dalam bisnis. Perlu sedikit kreatifitas dalam merancang kanvas strategi dan intuisi untuk mengendus kebutuhan konsumen yang masih belum muncul….