Ketika Peradaban Manusia Memasuki Akhir dari Sejarah….

Bukan Gede Prama bila tidak mampu membuat perhatian audience hanya tertuju pada dirinya. Di awali dengan sebuah cuplikan film pendek, di mana seorang wanita cantik dengan penuh nafsu membuka satu demi satu kancing sang pria. Lalu jemari lentiknya terus bergerak ke bawah menuju celana sang pria yang sudah keringat dingin (termasuk saya dengan segala pikiran jorok ;-),kacau deh). Namun tiba-tiba, begitu ikat pinggang berada di tangan sang wanita, audience pun tertawa lepas. Ternyata gesper itu hanya digunakan untuk membuka softdrink, dan sang wanita berlalu begitu saja selesai menghabiskan dahaganya.

“Jebakan pikiran, atau mind trap, mau tidak mau menghantui perjalanan hidup manusia. Semakin berpengalaman dia, semakin sukses dirinya, maka mind trap itu semakin lebar menghadang.”Ujar Gede Prama. Mengapa demikian? karena masa lalu yang memenuhi database pikiran telah menciptakan batasan-batasan dalam pikiran itu sendiri. Dan semakin kaya masa lalu, semakin besar batasan itu dan seringkali menjelma menjadi tembok tebal keegoan. Jadi adalah pemandangan wajar, ketika seorang CEO berpengalaman mengatakan,”ah elu kan cuma management trainee. jadi pendapat elu adalah pendapat anak bau kencur.”

Peradaban telah membangun sedemikian hebat institusi pendidikan manusia. Ilmu matematika sudah demikian rumitnya. Dan bangunan statistik telah menjelma menjadi perangkat seorang pemimpin mengambil keputusan. Tapi, menurut Gede Prama, matematika atau statistik an sich, semata-mata hanyalah menciptakan jebakan bagi pengambil keputusan itu sendiri. Karena tools tersebut hanya menyajikan serangkaian pola masa lalu, bukan masa mendatang, sebagaimana kebutuhan dasar dari keputusan itu sendiri. Dan di saat peradaban manusia memasuki titik akhir dari sejarah (the end of history) maka kesalahan sistemik itu semakin nyata. Lihat saja, betapa para ekonom kita gagal memprediksi dan menangani inflasi. Dan betapa banyak perusahaan besar runtuh karena kegagalan mekanisme pengambilan keputusan.

The end of history sebenarnya dipicu oleh lompatan pemikiran manusia lewat teknologi.Sebuah keadaan di mana teknologi itu sendiri muncul sebagai kekuatan yang mampu merobohkan segala logika manusia yang disusun dari database masa lalu. Sebuah contoh yang klise tapi sangat kuat maknanya, adalah produk bernama handphone. Logika lama dalam ilmu ekonomi adalah semakin tinggi kualitas sebuah produk, maka semakin tinggi pula harga jualnya. Karena terkait biaya produksi dan inovasi untuk menciptakan kualitas itu sendiri. Kenyataannya adalah, saat ini bertebaran handphone dengan kualitas nomor satu tapi harga jauh lebih rendah dibandingkan produk handphone generasi pertama.

Atau kasus IT, ketika konsep surat konvensional itu lekat dengan delivery yang butuh waktu tidak singkat. Namun teknologi IT mampu menghadirkan delivery surat hanya dalam hitungan sepersekian detik. Contoh lain bahwa teknologi telah menjungkirbalikkan logika manusia.

Menjalankan sebuah perusahaan/divisi/department mirip dengan analogi sederhana mengendarai mobil. Di mana akan selalu dituntut keputusan cepat berbelok atau tidak dan sebagainya. Dalam the end of history, seorang pengemudi tidak bisa mengandalkan semata segala indikator mobil di dashboard-nya. Spion hanya berfungsi untuk mengetahui di mana posisi mobilnya saat ini dan siapa yang berada dibelakangnya. Pedal gas tidak mungkin dipacu terus menerus, demikian pula halnya pedal rem. Keharmonisan menggunakan secara maksimal fungsi kendaraan, dan ketajaman pandangan (visi) sang pengemudi adalah kebutuhan mendasar untuk setidaknya membawa kendaraan selamat sampai tujuan.

Untuk mencapai tingkat keahlian tersebut, Gede Prama memberikan resep untuk dicoba. Yaitu memasukkan unsur spiritualitas dalam kotak keahlian seorang profesional. Selain memberikan kenyamanan dalam menghadapi situasi tidak pasti seperti saat ini, spiritualitas juga membangun ruang perenungan yang memungkinkan manusia lepas sesaat dari kungkungan ke-kini-an. Beberapa praktek spiritualitas seperti dalam sufisme dan zen memiliki disiplin untuk membentuk ruang-ruang perenungan yang baik. Koan, misalnya, adalah permainan spiritual yang mengandung kekuatan untuk melakukan lompatan pemikiran, dengan melatih manusia untuk bergerak melalui pertanyaan-pertanyaan tidak mungkin dalam ruang perenungannya.

Sebuah pesan juga diselipkan oleh Gede Prama, semua hal tersebut masih perlu disisipi keberanian untuk berbuat dan semangat untuk mencapai hasil lebih baik. Kemapanan adalah kuburan yang paling sering ditempati para CEO yang pernah sukses.

Jimbaran, 27 juli 2006
#Oleh-oleh dari Jimbaran, pertemuan dengan seorang “guru”

Saat Gempa Mengguncang Hati

Saat tenggelam dalam kesibukan yang luar biasa menjelang D-day, seorang teman berteriak,”Pak, ada gempa di Pangandaran.” Innalillahi wa inna ilaihi roji’un….ternyata korban yang berjatuhan pun mencapai ratusan orang. Berita di koran, radio dan TV segera dihiasi dengan musibah nasional yang mahadahsyat untuk kesekian kalinya ini.

Bencana itu terasa menjadi dekat, dan hati menjadi turut larut dalam isak kesedihan yang berada puluhan kilometer dari Jakarta. Dan di dalam ruang kerja, di balik kekokohan struktur bangunan dan di hadapan seperangkat elektronik buah karya manusia….hati pun ikut terguncang.

Bukankah peradaban kita saat ini telah menciptakan banyak ilmuwan dan insinyur dalam jumlah yang tidak pernah terbayangkan di masa lalu? Bukankah peradaban kita telah begitu tinggi menjelajahi angkasa luar, menyelami arti misteri alam mikroskopi? Lalu kemanakah perginya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah tertempa ribuan tahun itu dalam menjawab misteri alam bernama bencana ini?

Bila berkaca ke diri sendiri. Kemanakah kesombongan terhadap pencapaian akal dan karir selama ini? Kemanakah rasa aman dari lindungan beton baja saat sibuk mengurus pekerjaan? Semua lenyap. Bahkan saat gempa susulan, semua orang lari ketakutan, karena tiba-tiba saja kematian itu teramat sangat dekat.

Betapa mulia ratusan orang yang menjadi korban, dan ribuan sanak keluarga yang meratapinya. Semoga Tuhan mengampuni segala dosa selama hidup. Karena lewat mereka, pasti banyak pula hati yang terketuk:bahwa dibalik segala kemajuan peradaban ini, manusia tetap-lah manusia, makhluk yang lemah dan selalu akan tunduk pada iradah-Nya. Dan sesungguhnya, segala pencapaian itu sangat rapuh adanya.